51 PENYAIR PILIHAN DALAM BANGGA AKU JADI RAKYAT INDONESIA

Oleh: Cunong Nunuk Suraja


Dengan dibalut bendera Merah Putih tiga sosok wajah dengan jenis rambut berbeda dan wajah penuh ria menjadi sampul buku yang menghimpun kurang lebih 200an puisi yang disunting oleh Adri Darmadji Woko, Dharmadi, Handrawan Nadesul dan Kurniawan Junaedhie menjadikan buku punya nilai nasionalisme yang mumpuni.  Judul yang hampir mengacu pada kepesimisan buku kumpulan Taufik Ismail Malu aku jadi Orang Indonesia ataupun esai Mochar Lubis  Manusia Indonesia judulnya merupakan judul sajak editor yang terkutip dengan sempurna di bawah ini










Bangga Aku Jadi Rakyat Indonesia

Bangga aku jadi rakyat Indomnesia
Guru lapar masih tertawa
Anak makan tiwul lolos masuk universiti

Petani terus mencangkul meski pak camat ingkar janji
Tak menggerutu setengah hari antre cuma buat obat diare
Tak gusar berdesakan bayar listrik atau beli karcis kereta api
Sabar bikin KTP harus menunggu lurah pulang menjahit safari
Terima nasib punya karcis di bus berjongkok sampai pagi
Berpanas-panas di atap kereta api mereka tak sakit hati
Dicegat polisi belum tentu bersalah tidak berani marah
Merasa bernegara memang harus begini
Karena kelewat mencintai republik ini

Bangga aku jadi rakyat Indonesia
Kepada delapan puluh persen penduduk yang rajin bangun pagi
Yang tak selalu bisa pergi berobat setiap kali nyeri uluhati
Hidup adalah memikul-mikul kayu bakar bukan buat sarapan nasi
Belum tentu baca koran atau nonton televisi
Tak iri orang kota masuk restoran sebulam gaji pegawai negeri
Tahu ada pejabat mengutil padahal duitnya lebih sepeti
Tak selalu ada makan siang namun tak memilih mencuri
Madep ngalor sugih
Madep ngidul sugih
Yakin kekayaan ada di dasar hati
Kalau mereka hanya diam karena teramat mencintai negeri seelok ini

Bangga aku jadi rakyat Indonesia
Melihat dosen bersekolah tinggi tak malu nyambi jadi sopir taxi
Profesor tak henti meneliti kendati pension tak cukup buat kalau sakit nanti
Guru besar rela naik KRL supaya kredit motor lekas terlunasi
Semua pasrah lowongan SMA diisi sarjana lulusan SMA jadi tukang cuci
Tak bersuara salah siapa demi ingin hidup terus terlakoni
Tak bertanya minyak dari bumi buat siapa kalau minyak tanah langka
Tak menggugat katanya gemah ripah tapi beli beras saja susah
Kalau mereka hanya termangu karena teramat mencintai bumi pertiwi ini

Bangga aku jadi rakyat Indonesia
Lebih setengah abad merdeka mereka tak minta hak istimewa
Berharap saja kapan anak-anak bisa makan pagi dan pergi sekolah negeri
Duduk sama rendah berdiri sama tinggi dengan sebaya di luar negeri
Doa orang tua tak mampu sekolah tinggi anak bisa menjadi orang berarti
Kalau mereka hanya terpekur karena teramat mencntai negeri sepenuh hati

Bangga aku jadi rakyat Indonesia
Masih gigih berjalan kendati kehilangan mendapat cukup makan cukup pangan
Tak ada dendam yang berjasa terabaikan yang mengabdi tersingkirkan
Tersaruk-saruk atlet veteran menjual medali buat makan
Hujan batu di negeri orang karena emas di negeri sendiri tak member pekerjaan
Masih tekun menanti kapan stasiun tempat bisa hidup pantas akan tiba
Kalau mereka masih tak bertanya tak berkata-kata
Karena teramat mencintai republik sepermai ini

Bangga aku jadi rakyat Indonesia
Masih tersenyum padahal sudah lapar sekali
Masih terdiam padahal sudah perih sekali
Masih menerima padahal sudah pilu sekali
Masih bertahan padahal sudah payah sekali
Belum menangis dari jatuh-bangun berkali-kali
Dibohongi berulang-ulang kali
Mereka kuat karena merasa hidup memang harus begini
Atau barangkali karena niscaya Gusti ora sare.

                                                                Indonesia, 2008-2011 (ABJRI – hal. 111-113)

Retorika pemikiran yang mengacu pada fakta yang memang disadari akan kepasrahan yang sudah sampai titik nadir kepercayaannya: Tuhan senantiasa tidak pernah tidur! Sebuah nilai kearifan budaya yang mampu diterjemahkan dengan tepat oleh penyair sekaligus editor kumpulan puisi 51 penyair pilihan BAJRI ini. Pastaslah judul puisi ini digunakan sebagai judul buku karena memang jiwa ruh kumpulan ini pada sifat “menggugat” dengan santun. Maka tak usah heran kalau nanti ditemukan dalam kumpulan puisi 51 penyair pilihan ini semacam ibarat pohon dengan ranting yang nyempal dan menjadikan pohon sedikit “keriting”.

Editor Adri Darmadji Woko menyodorkan prosa lirik yang tragis sebagai mimpi yang disadari pada ujung  waktu walupun tidak terlalu memprotes tapi ibarat pohon yang “keriting” rantingnya maka prosa liriknya jadi semacam antitesa kebanggaan menjadi rakyat Indonesia.

Mana mau tahu ketiga sekawan itu membombardir dengan kata-kata seru, seolah akulah koruptor itu. Pada pukulan pertama dan kedua, aku sempat mengelak. Namun tindakankumembuat mereka semakin panas. Pukulan bertubi ke tubuh sunggu membuat kecil nyaliku. Mereka tetap ngotot bahwa aku dan koruptor bekerja sama. Aku percuma saja mengelak, mereka tetap memukul aku, menohok jiwaku dengan mengatakan, kawan koruptor harus dikejar dan ditumpas habis ….

Ketika bangun, kutemukan diriku di kantor polisi. Berita acara menanti …. (DPO KORUPTOR, hal. 18).

Kalau mengacu pada paparan AndyFuller (2011) dalam Sastra dan Politik: Membaca Karya-karya Seno Gumira Ajidarma bahwa posmodernitas ditandai oleh inkoherensi massal, diskontinuitas umum, dan ketidakpaduan diri. (hal. 27). Ini tampak bagaimana pergeseran suasana mimpi dan kenyataan yang tidak didistorsi bahkan cenderung mimpi dan tidak mimpi jadi rancu. Seperti halnya Handrawan yang menyodorkan kearifan budaya yang mencerminkan daya dukung imajinya demikian juga Adri dengan menyisipkan “Sebagaimana ujar Ronggowarsito: Amenangi jaman edan ewuh aya ing pambudi, melu edan ora tahan, yen tan melu anglakoni, boya eduman melik, kaliren wekasanipun, ndilalah kersa ning Allah, sak begja-begjane kang lali, luwih becik eling lan waspada.

Dharmadi editor ketiga yang menyertakan empat puisinya semuanya bicara yang miris pedih perih dengan sedikit sinis: “di sana , dicangkul terus pendapatan Negara / oleh pejabat dan wakilnya yang dipilihnya, / menjadi penghasilan mereka, / untuk anak keturunannya dan / bersuka-suka. (PAHAM BENAR, hal. 54)

Dalam puisi Dharmadi ini tak lagi dipahami kata ganti epunya –nya dan kata ganti orang ketiga jamak mewakili siapa. Dan ironisnya ini merupakan paham benar.  Hal penggunaan kata ganti orang ketiga jamak juga terdapat pada sajak IA JUGA MANUSIA SEPERTI KITA. Simak kutipan berikut:

mereka yang maling ayam, penyaut jemuran,
pencopet, penjambret, perampok, penjahat,
….
mereka sepertinya sadar benar, itu semua resiko
dari laku tindak. yang kelas teri, berpikir sangat cekak,

yang kakap dan bernyali, seperti perampok penjahat,
berpikir, bagaimana bisa hidup layak. selayak mereka,

mungkinkah suatu saat, laku mereka, juga menjadi laku kita?

(hal. 53)

Mereka yang mana ini? Dan dua puisinya yang tersisa menambahkan pohon ini makin beranting keriting karena antitesa dengan beban makna yang disodorkan judul kumpulan antologi puisi sosial 51 penyair pilihan.  Mari kita susuri editor yang lain Kurniawan Junaedhie yang juga menyertakan empat puisinya  yang secara selintas dari judulnya sudah menengarai pertanda tambahan keriting pada ranting pohon antologi puisi sosial ini. (DI ATAS LOKOMOTIF BERSAMA MAO DAN SOEKARNO, INDONESIA DI MULUT, MEI 1998, KISAH SEPOTONG AME, DAN HIDUP DENGAN SEPATU). Keempatnya memang tidak seperti puisi yang dipakai judul buku yang berbicara lugas tandas tanpa basa basi dan dengan emosi yang terarah, sedangkan puisi Kurniawan seperti waktu kita kanak-kanak bermain petak umpet saling berkata ya dan hilang dalam persembunyian . Simak kutipan berikut:

Masinis itu membaca Mao dan aku membaca Soekarno.
….

Dia membuka bukunya. Huruf-huruf dalam buku itu pun serta merta berserakan di udara. kata-katanya tergulungdi bawah bordes, dan tergelincir dalam pusingan angin dekat ketel; lalu tersapu mendung.


Asapnya bergulingan tertinggal di dahan dan ranting. Kacamataku goyang, dan Soekarno melompat ke cerobong uap. Masinis itu lenyap di baliknya. Senja pun semakin jingga. (DI ATAS LOKOMOTIF BERSAMA MAO DAN SOEKARNO hal 171).

Demikian juga pada  sajak yang lain banyak menciptakan kontradiksi dan sikap surealistis yang seperti ditandai Fuller atas karya-karya sastra posmoder.

Lalu adakah sajak penyair yang lain juga bersifat  keriting dalam pohon yang telah dengan mulus ditancapkan Handrawan? Ternyata diawali dengan penyair Tasikmalaya Acep Zamzam Noor yang juga bersenandung dalam kumpulan SENADUNG BANDUNG dari 1 sampai 3 tetap konsisten untuk memperjuangkan idelogi karyanya untuk berseberangan dengan penguasa yang selalu saja berulah sebagaimana digambarkan dalam sajak Dharmadi (IA JUGA MANUSIA SEPERTI KITA). Simak kutipan demi kutipan berikut:

Memandang langit
Aku ingat wajah kekuasaan
Merah padam. Sedang menginjak bumi
Seperti kudengar suaraku yang sunyi

Di jalan setapak
Yang dikurung langit merah padam
Seorang penyair kembali berkata
Pada kekuasaan:

“Ambillah, ambillah semua kata-kataku!” (CERITA BUAT IMANA TAHIRA hal 9)

Bandingkan yang ditulis Acep puluhan tahun lalu yang tetap meradang dengan pupuh sajaknya:

Menyusuri Jalan Braga
aku seperti ditimang-timang ranjangmu
Sejenak melepas lelah
Memulihkan kembali tenaga dan hasrat hati
Sebelum terkejut melihat senyummu nanti
Yang teronggok di balik etalase toko-toko

1981

(Bandung dalam SENANDUNG BANDUNG 1, 1981 – hal. 83)

Dengan satir pedihnya Acep melihat Bandung di Jalan Braga yang teronggok di balik etalase toko-toko. Demikian juga dengan tulisan di SENANDUNG BANDUNG 2 (2008):

LAGU MALAM BRAGA

Sunyi yang kusimpan
Dalam tungku perasaan
Kini jadi api. Jalanan menyala
Lampu-lampu menawarkan khuldi

Ada yang tak mampu kubeli
Dengan seluruh ketelanjangan
Tapi ada yang harsu kudaki, harus kusetubuhi

(hal 4)

Penggunaan kata khuldi sangat menyaran dengan ungkapan seluruh ketelanjangan. Hal ini masih sejalan dengan puisinya yang tercetak di buku pertama dan tetap konsisten dengan apa yang diytawarkan dalam ABJRI (2012). Dan pada buku SENANDUNG BANDUNG 3 (2011) Braga kembali jadi sasaran tembak Acep . Dan senandung itu jauh dari apa yang telah menjadi mitos kumpulan puisi PRIANGAN SI JELITA:

Lalat-lalat masih berterbangan
Mengitari restoran dan ongokan sampah
Tulisan-tulisan di dinding, papan-papan iklan

Kisah menjadi lengkap, cuava matang dan sunyi dewasa
“Sampai bertemu dim lain kesempatan,” lelaki itu mengerang
Mungkin pada perempuan yang terbunuh tadi siang

(hal. 5)

Makin keritinglah pohon ABJRI (2012) dengan sajak-sajak yang bukan bersenandung tapi “mengumpat”.

Karena pesan sajak yang memang dikemas untuk sajak sosial walaupun bukan protes sosial seperti yang tersirat dalam judul kumpulan tetapi terasa kesantunan dalam menggugat hampir terdapat dalam sajak-sajak yang terlipat pada setiap lembar buku kumpulan ini. Suara yang lirih tapi tegas itu memang kekuatan kata-kata penyair yang tersebar dari belantara Nusantara juga beragam usia kecuali penyair wanitanya yang tak menyebutkan data tahun kelahirannya entah apa makna usia bagi para wanita mengapa harus di selipkan pada bayang-bayang  terkaan dengan sekedar memandang wajah yang tersedia.

Sebagai penyeimbang kita tilik karya penyair usia termuda dan tertua untuk dijadikan teraju pilihan:

Pada penyair kelahiran 90an yang terawkili Dimas Indianto S dan Hamzah Muhammad Al-Ghozi  terasa sangat kepekaan sosialnya yang belum memuisi karena kesenangan bermain dengan kosa kata dengan rima metafora dan segala macam rujak kata seperti kutipan Goenawan Mohamad atas STA yang mengecam puisi Chairil Anwar: sajak-sajak itu hanya “rujak”. Makanan ini “asam, pedas, asin, dan banyak terasinya,” kata Takdir (STA); rujak berguna untuk “mengeluarkan keringat”, tapi “tak dapat dijadikan sari kehidupan manusia, segar dan pedas, tapi tak memberikan gizi. Takdir (STA) adalah suara penegas ke-berarti-an: “arti” dalam pengertian kognitif, sebagai makna, dan juga dalam pengertian instrumental, sebagai “faedah”. Simak potongan ungkapan kedua penyair kelahiran 90an ini:

dingin menjadi hangat
hangat kembali ingin
beringin

(Hamzah Muhammad Al-Ghozi, BERINGIN, hal. 105)

Seorang perempuan menunggu senja. Payung di sela jemari lentiknya merapuh,
Warnanya tak lagi serupa pelangi yang berkabar kepulangan mentari
Serupa detik-detik dahan yang bergesekan dengan memoir masa.

(Dimas Indianto S, HUJAN BULAN NOVEMBER, hal. 78)

Lain dengan dua penyair gaek L K Arad an Rahmat Ali yang sudah matang jam terbang dan kekayaan karyanya, walau yang satu dari ujung Utara Sumatra dan yang lain tengah Jawa.

Puisi dengan ratusan rencong tak bersarung
Telah digelar di ruang pameran
Orang-orang memandang heran
Seorang anak bertanya
Aapakah rencong
Selalu tak bersarung

(L. K. Ara, TAK BERSARUNG, hal. 180)

Lewat setengah abad sudah merdeka
Masih begini-begini
Kayaknya tak ada pilihan bagi rakyat bertualang kembali di rimba
Beranak pinak dalam gua
Habis itu berselimut gelita!

(Rahmat Ali, BYAR-PET NEGRIKU, hal. 250)

Bagi yang medium usia atau menjelang dan lewat sedikit setengah abad rata-rata dalam tataran kemampuan editor yang telah terpaparkan di awal tulisan. Semoga gejala kelompok beramai-ramai berbicara dengan puisi  makin memuisikan rakyat Indonesia hingga bangga akan pencapaian estetik puisi Indonesia.

Bogor akhir Januari 2012

Referensi:


  • Andy Fuller (2011). Sastra dan Politik: Membaca Karya-karya Seno Gumira Ajidarma.Yogyakarta: InsistPress.
  • Adri Darmadji Woko, Dharmadi, Handrawan Nadesul, dan Kurniawan Junaedhie, Editors.(2012).Bangga Aku Jadi Rakyat Indonesia. Jakarta: Penerbit Kosa Kata Kita
  • Anton De Sumartana (1981). Senandung Bandung Jilid 1. Bandung: “SWAWEDAR69”
  • ____________ (2008). Senandung Bandung Jilid 2. Bandung: “SWAWEDAR69” INSTITURE & ADS
  • ____________ (2011). Senandung Bandung Jilid 3. Bandung: “SWAWEDAR69” INSTITURE & ADS
  • Goenawan Mohamad (2011). Puisi dan Antipuisi. Jakarta: TEMPO dan PT Grafiti pers

Comments

Popular posts from this blog

KRITIK EKOLOGIS DALAM PUISI "TANGISAN BUMI" KARYA SRI WURYANINGSIH

Puisi Andang Bachtiar