ALIENASI CINTA DALAM PUISI-PUISI FARIDAH IDAH (MALAYSIA)

Oleh: Agung Pranoto

Faridah Idah merupakan nama pena Dr. Faridah Binti Jaafar aka Dr. Fj. Ia adalah pengajar pada Bahagian Sains Politik, Pusat Pengajian Pendidikan Jarak Jauh, Universiti Sains Malaysia. Sebagai seorang yang menekuni bidang sains politik, ia menggemari menulis puisi. Puisi-puisi yang ia ciptakan bertebaran di berbagai grup sastra maya. Sebagai penulis puisi, ia tergolong produktif dalam berkarya. Apa dan bagaimana puisi-puisi yang dikreasi oleh Faridah Idah? Tulisan ini pun bertujuan untuk mengupas atau menelaah/mengkaji beberapa puisi Faridah Idah, tentu saja sampel yang menjadi objek kajian diambilkan secara random beberapa judul puisi yang ia unggah melalui grup sastra.

Mencermati puisi-puisi yang ditulis Faridah Idah, dari sisi tema, banyak yang menyuarakan dunia batin seorang perempuan dalam hubungannya dengan manusia lainnya yang muaranya pada bahasa hati, yakni cinta. Soal hati dalam urusan cinta menjadi sentral inspirasi, ilham, imajinasi yang dicurahkan melalui puisi. Tema cinta tampaknya tidak bisa dilepaskan dalam kehidupan manusia, mulai usia muda bahkan hingga tua.
Cinta dan aneka persoalannya, mendera batin Faridah Idah dalam mencipta puisi. Hal ini senada dengan gagasan Wellek (1990) atau Hardjana (1985) bahwa kondisi kejiwaan penyair mempengaruhi proses kreatif. Puisi yang bertemakan cinta, proses kreatif penciptanya sangat tepat dikelompokkan dalam aliran romantic. Dalam pandangan  romantik, “aku” selalu menjadi pusat; sehingga yang diutamakan  adalah perasaan, reaksi, dan persepsi. Si aku (khusus bagi seniman), memberikan gambaran baru tentang dunia; ia menciptakan kembali dunia berdasarkan daya khayalnya. Peniruan kenyataan diganti dengan pengungkapan pandangan diri sendiri. I describe what I imagine (aku menggambarkan apa yang aku khayalkan), demikian pernyataan penyair Inggris Keats (Luxemburg, 1989:166; Sunarti, 2016).

Mari kita nikmati romantisme dalam puisi Faridah Idah yang berjudul “Secangkir Rasa”.

SECANGKIR RASA

Secangkir Arabica
tanpa gula
manisnya terasa
kerana sosokmu ada
di permukaannya
Aromanya
sewangi nafasmu
ketika mulakan bait-bait bicara
aku bagai hanyut
pelukan asmaramu yang jingga

Ketika kuhirup hingga dasar cangkir
Bagai bertemu
di lantai rasa
dan kitapun berdansa
dalam remang-remang cinta
sebentar lagi
melabuhkan warna
Ungu

Betapa indah
Mengering segala
syair di jiwa tiada yang tersisa
kerana kau telah habiskan semua
dalam secangkir rasa

(Dr. Fj, PP, 230717)

Pusi tersebut menggunakan metafora  secangkir kopi Arabica untuk menyuarakan romantisme. Mencermati makna yang berada di balik bait 1, hubungan antara si aku lirik dengan seseorang yang dicintai sangatlah mendalam, dan bahkan kopi yang tanpa gula pun terasa manis, menegaskan rasa cinta yang dalam. “Aromanya (kopi) sewangi nafasmu”, menyiratkan romantisme yang didorong oleh cinta yang dalam tersebut. Hal ini dipertegas lagi pada dua baris terakhir dari bait 1: “aku bagai hanyut /pelukan asmaramu yang jingga”. Bait 2, menyuarakan tentang harapan pada satu titik, yakni “melabuhkan wara/ungu”, yang mencerminkan harapan akan ending cinta itu adalah kebahagiaan berdua. Bait 2 ini, imajinasi Faridah Idah menggelorakan hubungan asmara yang dibayangkan indah. Bait 3, mempertegas kembali apa yang ditungkan dalam bai 1 dan 2.

Menurut Noyes (dalam Mahayana, 1976; Sunarti, 2016), sedikitnya ada lima ciri yang muncul dari karya-karya romantisisme yakni: (1) kembali ke alam; (2) melankolisme; (3) primitivisme (4) sentimentalism; (5) individualisme dan eksotisme. Sastra romantis ditandai dengan ciri ungkapan perasaan cinta, kasih, dan sayang. Ungkapan perasaan cinta, kasih, dan sayang sangat kita rasakan dalam puisi “Secangkir Rasa” di atas dan tidak terbawa pada arus ungkapan yang sentimentil. Pada puisi Faridah Idah yang lain, misalnya yang berjudul menarik yakni “Literatur Cinta” sebagaimana terkutip di bawah ini.

LITERATUR CINTA

Ketika rindu berbisik
baru kusedari
bahawa kau tidak di sampingku
mentinta asmara di setiap helaian
komposisi tesis cinta kita
yang masih terbuka

Ketika rindu berbisik
baru kusedari
epik cinta kita
masih belum
ada konklusi
kerana sorotan
karya belum kau sudahi

Cinta Shah Jahan terbukti
setelah Mumtaz Mahalnya
menghadap Ilahi
Sedang kau tidak semajnun Qays
yang mencintai Lailanya
hingga separuh mati

Melengkapi literatur ini
kau harus kemari
bersama pena pelangi
mewarnai dan memaknai
hakikat sebuah cinta
yang tidak mungkin tertandingi
baik Shah Jahan mahupun Qays
kerana cinta kita punya logika tersendiri
dan tidak melampaui

(Dr. Fj, PP, 220717)

Puisi “Literatur Cinta” ini pilihan diksinya mengesankan si penciptanya seorang ilmuwan. Sebab dalam teks puisi tersebut dihadirkan diksi yang sering digunakan dalam karya ilmiah atau ilmu pengetahuan yakni hadirnya kata “tesis” dan ‘konklusi”. Bait 1 menyiratkan hubungan cinta-kasih yang masih terbuka. Bait 2 menyiratkan bahwa cinta-kasih itu belum titik temu yang jelas atau dibahasakan dengan “masih belum/ada konklusi”. Bait 3, menyuarakan kontras atau paradoksal antara cinta sampai mati yang dibandingkan dengan cinta yang “hingga separuh mati”. Bait 4, mempertegas bait sebelumnya, yakni ada harapan atau keinginan untuk  “mewarnai dan memaknai hakikat sebuah cinta”. Dalam konteks ini, terdapat ajakan untuk bersama-sama memaknai kata ‘cinta’.
Selanjutnya, Zick Rubin (1970) menjelaskan bahwa cinta yang romantis terdiri atas tiga unsur, yakni  keterikatan (attachment), kepedulian (caring), dan keintiman (intimacy). Keterikatan itu merupakan kebutuhan untuk menerima perhatian dan kontak fisik dengan orang lain. Kepedulian merupakan kemampuan yang dimiliki seseorang untuk menghargai dan memberikan kebahagiaan untuk orang lain. Keintiman merupakan kebutuhan untuk berbagi pemikiran, keinginan dan perasaan dengan orang lain. Namun dalam puisi-puisi Faridah Idah tidak kita temukan cinta yang romantic sebagaimana digagas Rubin. Mengapa? Sebab, ending dari perjalanan cinta itu tidak mengerucut pada romantisme yang diharapkan si aku lirik, melainkan terjadi ‘lara hati’ sebagai liku-liku dari akhir cinta. Dalam konteks ini, tampaknya beberapa judul puisi menunjukkan suatu kegagalan cinta.
Kegagalan cinta itu menumbuhkan rasa sakit di hati atau ‘sebak di dada’, sebab tidak sesuai antara das sein dan das sollen. Ketika terjadi hal ini maka batin si aku lirik terseret pada arus kesedihan, kenestapaan, atau bahkan sangat mungkin terjadi kegoncangan jiwa. Oleh karena itu, manifestasi cinta dan perasaan kerinduan dalam puisi-puisi Faridah Idah,  membuahkan keterasingan atau alienasi dalam perjalanan cinta. Puisi-puisi Faridah Idah yang menyuarakan alienasi cinta ada pada puisi yang berjudul “Sentuhan Magismu”, “Kelambu Langit”, “Elegi Cinta”, “Lembaran Biru”,  “Tetamu Wilayah Semu”, “Tarannum Hiba”, “Seorang Aku”, “Sepotong Nama”, “Surah Terakhir”, “Jadilah Aku, dan “Biar Aku Menjadi Kamu”. Marilah kita cermati salah satu dari beberapa judul puisi tersebut.

JADILAH AKU

Seandainya kau menjadi aku
belum tentu
kau mampu
berlumba dengan waktu
Apatah lagi mendahului
sebelum segala sesuatu berlaku

Seandainya kau menjadi aku
belum tentu kau mampu
mempamer senyum sebagaimana aku
Apatah lagi menyembunyi segala pilu

Seandainya kau menjadi aku
belum tentu kau mampu
menahan sakit hatimu
Apatah lagi bersabar dengan segala ulahku

Seandainya kau menjadi aku
dalam kebanyakan waktu
jiwa dan raga tidak bersatu
bernafas pun belum tentu

Seandainya kau menjadi aku
belum tentu kau mahu
memikirkan kehendakku
di atas segala keperluanmu

Seandainya kau jadi aku
belum tentu kau mampu
menjahit lukamu
sendiri sebagaimana aku

Seandainya kau jadi aku
belum tentu kau mampu
menunggu mentera beradu
hingga keringnya sendu

Seandainya kau menjadi aku
belum tentu kau mampu
mengharung sengsara berliku
hidup berpaut semangat jentayu

Sebaiknya kau cuba menjadi aku
kerana kau akan tahu
apa yang kau tidak tahu
rasanya menjadi aku
Cubalah menjadi aku biarpun hanya sedetik waktu
kerana kau akan tahu persis apa yang aku mahu

(Dr. Faridah Jaafar aka Dr. FJ, 17 Feb. 2017)

Puisi “Jadilah Aku” di atas mengandung paralelisme “Seandainya kau menjadi aku”. Paralelisme ini merupakan salah satu cara menjalin keterhubungan antarbait puisi agar menjadi satu kesatuan yang utuh. Dalam puisi tersebut lewat subjek “aku” menjadi pusat kendali dalam penuangan makna. Si aku, setidaknya telah merasakan kegetiran, kesedihan, atau kenestapaan. Si aku lirik tersenyum pun sebenarnya di balik senyum ada sesuatu yang disembunyikan yakni problematika hati yang sebenarnya mendera kesedihan.

Akhir kata, puisi-puisi Faridah Idah sebenarnya tergolong pada puisi diaphan yang tidak terlalu sulit dalam tafsir perebutan makna. Faridah Idah tampaknya sering pula menggunakan enjabemen, yakni baris puisi yang belum selesai tetapi dipotong atau dipenggal dan diletakkan pada baris berikutnya. Teknik seperti ini syah saja dalam penulisan puisi. Dari sisi penggunaan diksi, khususnya diksi ke-melayu-an dalam puisi-puisi yang diciptakan Faridah Idah menampakkan kekhasan diksi dari bahasa Melayu, yang sedikit atau banyak berbeda dengan diksi yang dihadirnya para pencipta puisi dari Indonesia. Meski antara bahasa Indonesia dengan bahasa Melayu serumpun, namun masing-masing negara memiliki kaidah bahasa yang otonom.

Comments

Popular posts from this blog

KRITIK EKOLOGIS DALAM PUISI "TANGISAN BUMI" KARYA SRI WURYANINGSIH

51 PENYAIR PILIHAN DALAM BANGGA AKU JADI RAKYAT INDONESIA

PUISI LUGU NOORCA MARENDRA