CURHATAN SEORANG MAHASISWI

(Hanya Sebuah Fiksi)
Cerpen: Heru Marwata

Beberapa tahun lalu seorang mahasiswi (bukan mahasiswa) saya menghubungi lewat WhatsApp (WA). Setelah aku jawab salamnya,  dia bertanya,  dengan nada yang tampak serius,  "Pak Heru,  saya boleh curhat ya, Pak? Saya sedang galau tingkat dewa. Kan Bapak pernah bilang kalau mahasiswa (bukan hanya mahasiswi) boleh curhat ke Bapak."

Yah,  ini namanya kalah set. Lalu,  sebagai Bapak yang baik,  kalah cacak menang cacak (istilah dalam bahasa Jawa yang kira-kira artinya hampir = mencoba itu selalu positif dan tidak ada salahnya),  saya pun menjawab,  "Ya,  tentu saja boleh. Silakan.  Sepanjang bisa,  saya pasti akan membantu,  apalagi hanya mendengar curhatan".

"Tapi, ini serius, Pak. Sangat serius.  Ini menyangkut kehormatan dan harga diri saya, Pak. Bagaimana, Pak Heru", lanjutnya.

Waduh,  kepalang basah,  ya sudah mandi sekali. Saya pun menjawab,  "Baiklah,  tidak ada masalah.  Bagaimana cerita soal kehormatan dan harga diri itu?"

"Ciyuussss,  Pak?" tanyanya.

"Iyalah,  kenapa tidak?" jawab saya.

Lalu dia menulis.  Saya menunggu dengan agak deg-degan karena dia mengawali percakapan dengan menyinggung soal harga diri dan kehormatan. Saya sudah membayangkan bahwa ada yang sudah terkoyak. Ah,  saya berdoa,  semoga mahasiswi yang cukup akrab dengan saya dan juga saya kenal baik ini tidak sedang menghadapi atau dalam masalah. Apalagi dia ini terhitung pintar dan rajin.  Kasihan kalau dia menghadapi masalah berkaitan dengan kehormatan dan harga dirinya sementara saya hanya bisa membantunya dari kejauuuuuuhaaaaaan.

"Begini,  Pak. Bapak tahu, kan,  saya adalah mahasiswa dari jalur Bidik Misi", tulisnya.

Saya biarkan dia terus menulis.

"Nah,  minggu lalu saya pulang kampung. Pas juga saat itu teman dekat saya sejak SMA, he he he pacar saya,  Pak,  ngaku deh ke Pak Heru,  juga pulang kampung.  Kami pun bertemu.  Saya  ketemu dia saat ke masjid kampung salat ashar,  lalu dia bilang akan main ke rumah untuk membicarakan hal serius. Wah,  jujur, Pak,  saya takut kalau dia ngajak kawin karena keluarga kami sudah saling tahu dan juga memberi restu. Pokoknya saya sudah pasang kuda-kuda,  kalau sampai dia ngajak kawin,  eh nikah,  saya akan bilang bahwa saya harus minta izin dulu ke dosen pembimbing saya. Saya akan segera kontak Pak Heru dan meminta bantuan agar saya, entah bagaimana caranya, dan saya yakin Bapak bisa membantu saya,agar saya tidak segera dikawinkan. Saya ingin lulus, menjadi sarjana dulu, baru acara lainnya. Ha ha ha,  maaaf ya,  Pak", tulisnya cukup panjang.

Saya belum bisa menebak ke mana kira-kira arah lari alùrnya.  Masih gelap. Lalu saya bilang,  "Ya,  terus bagaimana? Coba lanjutkan dulu biar tidak jadisuspense atauforeshadowing (dua istilah dalam ilmu sastra, khususnya soal alur),  biar klimaksnya enak dan denouement-nya (lagi-lagi istilah sastra) melegakan", sambung saya.

"Pokoknya seru deh,  Pak. Pak Heru harus dengar ceritanya penuh. Besok saya akan kenalkan pacar saya itu ke Pak Heru. Gayanya kebapakan,  kayak Bapak deh. Dia juga suka sekali humor meski humornya tidak bisa spontan dan sesegar humor Bapak. Ha ha ha saya membayangkan Bapak tengah ke-GR-an karena saya bilang lucu dan tidak garing dot com. Kami, heheehee, saya dan teman-teman,  selalu menunggu kuliah Pak Heru.  Kami itu suka sekali mendengar suara Bapak. Bahkan,  si ... (menyebut sebuah nama) itu sampai diam-diam merekam suara Bapak dengan HP saat kuliah."

"Wis-wis-wis, terus soal kehormatan dan harga diri mau njur kepriwe?" tanya saya sambil menikmati ke-GR-an dan membayangkan tangan si ...  uthak-uthek di tas itu ternyata merekam saya toch. Moga-moga yang direkam pas bagus dan isinya pas benar sehingga tidak menjadi sarang penyesatan berjamaah. Amin.

"Pacar saya itu sudah bekerja di Jakarta,  Pak. Gajinya, katanya,  lumayan. Sebagai lulusan SMK yang pintar dan sangat kreatif,  belum setahun bekerja saja dia langsung mendapatkan kepercayaan dari bosnya yang membuka bengkel besar dengan layanan khusus urusan aksesoris mobil.  Nah,  sebagai penghargaan atas prestasi dan kinerjanya yang bagus, bosnya itu nawarin beasiswa untuk kuliah. Bahkan,  bosnya itu bilang, beasiswanya tidak mengikat. Kalau sudah lulus dan ada pekerjaan lebih menjanjikan, katanya,  dia boleh memilih. Waaah saya heran, Pak. Kenapa ya orang Tionghoa itu kalau sudah sangat percaya,  waaah bisa sangat baik sekali. Lha wong pacar saya itu selalu ditawari kok kalau mau pinjam motor atau mobil. Alhamdulillah, Pak,  dia itu termasuk kesayangan bosnya. Wah,  maaaf, Pak Heru,  ngelantur ya saya.”

Saya masih menahan diri dan tidak berkomentar.

“Jadi,  intinya pacar saya itu menolak beasiswa.  Dia bilang ingin kuliah langsung praktik di bengkel bosnya itu. Sebagai ungkapan terima kasih atas kepercayaan si bos itu,  dia akan bekerja sebaik-baiknya sambil terus sekalian belajar. Konon bosnya kemudian berkata bahwa karena sudah berjanji akan memberi beasiswa, dana beasiswa itu boleh digunakan untuk siapa saja,  misalnya saudara atau adiknya. Nah,  karena dia anak ragil,  kakak-kakaknya sudah bekerja,  katanya saat itulah dia ingat saya. Sumpah, Pak,  katanya dia bilang gitu,  dan saya tersipu dalam hati. Dia pun kemudian menyampaikan ke bosnya bahwa,  kalau boleh,  akan mengambil beasiswa itu untuk pacarnya.

Wah,  tentu saja bosnya bertanya-tanya,  kok untuk pacar. Bukankah pacar belum tentu akan menjadi istri. Lalu pacar saya cerita tentang saya. Herannya, Pak,  Pak Heru boleh gak percaya deh,  katanya si bos itu bertanya begini,  'Apa pacarmu rajin mengaji dan pergi ke masjid seperti kamu, dan apakah dia berkerudung?' katanya begitu,  Pak. Entah apa hubungannya wong bosnya itu orang Tionghoa. Katanya sih beragama Konghucu.

Maklum, Pak,  namanya pacar beneran,  dia pun menceritakan semua kebaikan saya. Bahkan, disebutnya pula nilai-nilai saya yang selalu bagus selama kuliah. Singkat cerita bosnya tidak keberatan,  bahkan mendukung,  dana beasiswanya dialihkan ke saya. Dana itu akan ditransfer setiap bulan ke rekening saya untuk biaya kuliah di Yogya. Alhamdulillah, Pak,  beasiswa yang saya terima itu ternyata cukup besar. Suatu saat saya pingin deh, sebagai ungkapan rasa syukur,  mentraktir Pak Heru di warung Yu Par di Bonbin. Alhamdulillah ya, Pak."

Sampai di situ saya nyaris menemukan alur ceritanya berkaitan dengan kehormatan dan harga diri.  Dengan mengingat gayanya di ruang kuliah,  model pergaulan,  dan terutama pekerjaan ujiannya,  saya berharap horizon harapan (lagi-lagi ini istilah dalam ilmu sastra) saya tidak meleset.

"Baiklah,  alhamdulillah, selamat ya,  saya senang sekali mendengarnya.  Lalu, bagaimana tadi soal kehormatan dan harga diri?" saya bertanya.

Saya langsung merasa bahwa tebakan saya tidak keliru ketika dia mulai menulis, "Pak Heru,  bagaimana cara mengundurkan diri dari status sebagai mahasiswa Bidik Misi dan menjadi mahasiswa biasa?"

Makcleees danmaknyesss hati saya. Bahkan,  mata saya pun sempat berkaca-kaca.  Mahasiswi saya yang satu ini memang luar biasa.  Sudah saya duga sejak awal bahwa anak ini sangat dewasa dan toleran sekaligus aktif dan kreatif. Halus budi dan solehah. Ini mahasiswi UGM yang sangat ideal. Berkali-kali ia menulis cerita atau puisi atau featuredan meminta saya untuk membaca serta mengomentarinya. Saya selalu menangkap kata-kata penuh makna dalam tulisannya.

Dia pun kemudian bercerita lebih lanjut bahwa dengan beasiswa yang diatur Tuhan lewat tangan pacarnya yang punya bos orang Tionghoa yang menaruh kepercayaan padanya, dia sudah merasa tidak berhak lagi mengambil kesempatan menjadi mahasiswa dengan beasiswa Bidik Misi.

Dia ini, menurut saya, adalah salah satu mahasiswa yang cukup langka.  Bukankah tidak akan ada yang mempermasalahkan atau memprotesnya atas pendanaan ganda yang dia terima karena statusnya sangat berbeda? Namun,  begitulah dia. Saya sangat bangga pada mahasiswa yang pikirannya jernih dan sikapnya sangat ceria serta selalu optimis dengan semboyannya bahwa berbagi kesempatan tidak akan pernah menutup jalan dan pintu-pintunya ini.  Semoga kelak kau sukses menjadi manusia, Ndhuk. Amin.

Akhirnya,  dia pun memproses pengunduran dirinya sebagai mahasiswa dengan beasiswa Bidik Misi dan menjadi mahasiswa mandiri dengan penuh kebanggaan. Semoga ke depan akan saya dapatkan mahasiswa seperti ini.  Saya mengakhiri cerita ini dengan derai air mata bahagia dan mengbayangkan kehidupan dia di masa depan dengan suaminya sebagai sepasang suami-istri teladan.

Oh,  tapi sayang seribu sayang,  untung tak dapat dikejar,  malang tak dapat diraih ... ternyata ketika wisuda sarjana dengan predikat cumlaudedengan IPK nyaris 4 dia pingsan saat menerima ijazah di GSP.  Konon saat namanya dipanggil untuk menerima ijazah,  dia sempat membaca pesan singkat dari pacarnya, "Dik,  maaf aku tak bisa mengejar waktu wisudamu, aku kecelakaan di Bumiayu".  Agak sempoyongan ia menuju mimbar untuk menerima ijazah dan kemudian jatuh pinsan usai berjabat tangan dengan dekan. Ternyata pesan pendek itu adalah SMS terakhir kekasihnya.

---Tamat---

Comments

Popular posts from this blog

KRITIK EKOLOGIS DALAM PUISI "TANGISAN BUMI" KARYA SRI WURYANINGSIH

51 PENYAIR PILIHAN DALAM BANGGA AKU JADI RAKYAT INDONESIA

PUISI LUGU NOORCA MARENDRA