DI ATAS KATA BUDHI SETYAWAN

Oleh:  Dimas Arika Mihardja*)

Saat penyair memilih menjadi pejalan sunyi, barangkali kelak akan menjadi sufi. atau setidaknya, mengajak menyimak dan menyibak “Sajak Sajak Sunyi” (S3, istilah Busetnya), melacak “Sukma Silam”, merasakan getar “Kepak Sayap Jiwa”, hingga memperoleh “Penyadaran”. Diksi bertanda Kutip di sini merupakan kumpulan puisi Budhi Setyawan—yang mengajak pembacanya menigi sunyi, ruhani, kejiwaan, atau mengajak bicara di kedalaman. Puisi hakikatnya ialah santapan ruhani, konsumsi spiritual, kebutuhan mewah untk santapan jiwa. Ayo kita intip satu puisinya yang mengajak introspeksi, merenung, kontemplasi. Puisi yang mengawali buku terbaca seperti ini:

Di Atas Kata

engkau yang kubayangkan terbang
atau memang menghuni awing-awang
kucari lewat zikir dan sembahyang
kukejar  dengan kasidah dan dendang

sedangkan diri masih di bawah duga
melumur umur dengan prasangka
namun waktu tabah merawat sasmita
malam sajikan epilog hari silam

nadi yang  mengabdi gunungan doa
menafsir titah suara sunyi di dada
dengan setapak kecil menuju kerlip lentera
tak khatam jua menguak himpunan rahasia

Bekasi, 2014

“Di atas Kata” terpendar makna. Ada makna terniat, makna tersurat, dan makna tersirat. Menguak makna terniat sulit dilakukan dan hanya penyair bersangkutan mengetahuinya. makna tersurat ialah makna sebagaimana tertulis secara denotative maupun secara konotatif. Sedangkan makna tersirat muncul akibat penggunaan “bahasa bersayap” seperti metafora, kias, dan lambang. Penyair Budhi Setyawan berharap buku yang terbaru ini (S3) tak sebatas menyajikan kataa, data, atau fakta kreativitasnya, melainkan ada sesuatu “di atas kata”, yakni makna silaturahmi batiniah antara pembaca dan penyair. Saya tidak berpretensi untukmeneguhkan bahwa harapan Budhi Setyawan itu tersampaikan. Halyang jelas, puisiyang saya kutipkan itu tergolong menawan. Menawan dari pilihan kata, pertimbangan rima akhir, pola penyajiannya,dan tentu saja makna yang terkandung di dalamnya.
Puisi lebih bicara dari hati ke hati dan puisi “Di Atas Kata” mengajak bicara tentang kedalaman iman, doa, zikir, dan sembahyang:  engkau yang kubayangkan terbang/atau memang menghuni awang-awang/kucari lewat zikir dan sembahyang/kukejar  dengan kasidah dan dendang (Bait 1). Penyair Budhi Setyawan mampu menawan pembaca dengan pilihan kata dan rima—musikalitas yang terpelihara melalui rima “terbang” dan “awing-awang”, “sembahyang” dn “dendang”. Persamaan bunyi seperti ini memukau pembaca—apalagi saat puisi dilisankan/ dibaca bersuara.

Bait 2 tersaji seperti ini: sedangkan diri masih di bawah duga/melumur umur dengan prasangka/namun waktu tabah merawat sasmita/malam sajikan epilog hari silam. Bait ini juga terasa melodius seperti mengaja berdendang, menyanyikan kasidah dan meryakan serta merayapkan harapan dan doa—meski diri selalu menduga dan sepanjang umur penuh dengan prasangka, ada nilai agung yang trsurat yakni “tabah merawat sasmita, meski malam sajikan epilog hari silam. Dalam puisi yng berkecenderungan sufistik, penyair kerap memosisikn subyek yng kotor, penuh syak dan wasangka. Sikap demikian itu pula yang menjadi perintang memasuki dunia sufistik—manusia masih memiliki  pamrih—mengendong prasangka.
Bait 3 tersaji seperti ini:  nadi yang  mengabdi gunungan doa/menafsir titah suara sunyi di dada/dengan setapak kecil menuju kerlip lentera/tak khatam jua menguak himpunan rahasia. Bait 3 ini menurut saya punya korespondensi dengan puisi Amir Hamzah berjudul “Padamu Jua”. Korespondensi yang berupa interteks ini mungkin saja terjadi saat penyair Budhi Setyawan banyak membaca karya puisi penyair lain, yang dalam hal ini Raja Penyair Pujangga Baru, yakni Amir Hamzah. Budhi Styawan boleh dikatakan meneruskan estetika  Pujangga Baru yang romantic, seperti terbaca pada puisinya “Di Atas Kata”.

“Sajak Sajak Sunyi” (Pustaka Senja, 2017) memuat 72 puisi karya Budhi Setyawan, yang terbagi dalam “Ruang Sunyi” (beberapa puisi) dan “Waktu Sunyi” (beberpa puisi juga). Era 70-an dikenal esai-esai antara Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono, Abdul Hadi WM, dan lainnya yang pada intinya saling mengapresiasi puisi karya kawan. Esai yang terkenal ialah “Dari Sunyi ke Bunyi”—seperti kumpulan puisi Budhi Setyawan ini yang mendedahkan sunyi ke dalam bunyi. Puisi-puisinya berbunyi, seolah mengajak menyayikan kasidah al barjanji atau berdendang seraya merayakan doa yang tiada habisnya.
Puisi-puisi Budhi Setyawan (Buset) dalam buku ini menyediakan nutrisi yang berarti bagisantapan ruhani. Kini sunyi merupakan sesuatu yang mahal, sebab lingkungan telah menjadi bising, riuh, semrawut sepertilalu lintas yang sulit diatur. Kita memerlukan ruang sunyi dan waktu sunyi untuk dengan khusuk membaca puisi sebagai santapan ruhani.

*) Dimas Arika Mihardja, Direktur Eksekutif Bengkel Puisi Swadaya Mandiri

Comments

Popular posts from this blog

KRITIK EKOLOGIS DALAM PUISI "TANGISAN BUMI" KARYA SRI WURYANINGSIH

51 PENYAIR PILIHAN DALAM BANGGA AKU JADI RAKYAT INDONESIA

Puisi Andang Bachtiar