DI BALIK YANG TERSURAT-TERSIRAT PUISI-PUISI ADYRA AZ-ZAHRA (MALAYSIA)

Oleh: Agung Pranoto

Membaca puisi-puisi Adyra Az-Zahra (selanjutnya saya sebut Dyra), seperti kita temukan mutiara indah. Mutiara  indah yang dimaksudkan di sini adalah  adanya gurat-gurat kepenyairan Dyra yang menunjukkan progres yang kian bersinar dan penggunaan diksi kemelayuan yang semakin kental. Diksi kemelayuan tersebut misalnya digunakannya diksi “dek minda”, “azali”, “jinjang”, “gigian”, “berselerak”, “(me)redah”, “berbalah”, “menggobek”, “terselit”, “leka”, “Membelek”, “terperuk”, “terkedu”, “bergelodak”,  dan “merafak”. Diksi semacam itu, bagi saya sebagai orang Indonesia, terasa asing. Namun keasingan itu tidak menjadi suatu kendala, setidaknya makna denotatifnya bisa dilacak melalui Kamus Dewan edisi keempat (Dewan Bahasa dan Pustaka, 2015) kiriman atau hadiah  ikhlas dari Datin Barupawati Utamaju.

Puisi sebagai salah satu genre sastra, untuk mengekspresikan imajinasi, pikiran, maupun perasaan penyair. Dalam mengekspresikan pikiran dan perasaan dengan mempertimbangkan aspek estetik maupun semantik. Begitu juga kiriman puisi dari Dyra, setelah dinikmati secara intens merupakan ekspresi pikiran dan perasaan Dyra atas pengalaman puitik yang ditangkap dan diekspresikan ke dalam puisi yang estetis serta tidak mengabaikan sisi semantic.

Puisi Dyra yang berjudul “Pertemuan”, rajutan diksi yang begitu estetis dengan menghadirkan metafora kelautan yang dipadukan dengan persoalan gastronomi (dunia boga) tampak pada bait 1: “Tak terjangkau dek minda /Walau kilasan ikan/Tampak anggun di lautan /Sedang asam memukau giur selera/ Tertulis azali sebuah pertemuan/Bersatu utuh dalam belanga”. Bait puisi tersebut menunjukkan keberhasilan Dyra dalam menguntai bahasa kias, bahasa yang konotatif, bait puisi yang pekat dan menyublim.

Secara utuh puisi “Pertemuan” itu memang mengisyaratkan suatu harapan indah dari sebuah pertemuan yang begitu rekat, berharap “tumbuh mewangi”, mengubah “sakit dibakar api kerinduan”, dari situasi kesepian yang dilanda “mabuk dibuai mimpi dan rasa” (bait 2). Dalam pertemuan itu seakan ada pembicaraan yang meyakinkan dengan “janji manis tulus terungkap”, namun kenyataannya menyembulkan kepedihan yang memilukan dari janji-janji (palsu) yang endingnya tidak mengarah pada “jinjang penyatuan” (bait 3).

Dalam konteks asmara atau cinta eros memang puisi ini sangat kontekstual dan sering terjadi. Kebanyakan kaum wanita telah menjadi “korban” dari praktik idiologi cinta. Oleh karena itu, puisi tersebut memberikan hikmah kepada pembaca hendaknya jangan terlalu berharap. Wanita jangan terlalu percaya berbagai kata indah dari laki-laki. Sebab kata-kata manis itu tidak selalu berujung manis. Atau bersiap-siaplah sebak di dada bila Anda sedang bercinta. Cinta tidak pernah abadi. Cinta itu hanya sesaat. Cinta itu memerlukan pengorbanan. Kadar cinta itu perlu diukur dari sejauh mana kesetiaan dan rasa sayang yang didapat dari pasangan. Itulah kontemplasi di balik puisi “Pertemuan”.

Pada puisi Dyra yang berjudul “Bicara Laut dalam Diam”, juga begitu estetis. Mari kita nikmati secara utuh puisi tersebut.

BICARA LAUT DALAM DIAM

Gemersik alunan ombak menderu
Menjilat gigian pantai asyik
Membelai sesekali terdiam kaku
Gelombang putih jernih berselerak

Menumpang teduh gelombang berliku-liku
Kesakitan hidup mati kaku
Harap sabar kekal jitu
Walau tangis tanpa lagu

Desiran pagi memecah sunyi
Perahu ditambatan melilit bersatu
Meredah gelombang alunan tak bertepi
Sesuap nasi menadah restu

Bening mata anak-anak terpahat
Walau hidup sesikat cuma
Berbalah hati kecamuk di sanubari
Seluas mata memandang laut rezeki cuma

Lolongan anak-anak meraih makan
Sejuta harap dari-NYA berkubang rezeki dari laut
Tak rela anak-anak berputus harap
tiada menolak gelombang lautan redah pada
meskipun ombak mengganas.

Salam Kasih
Adyra Az-zahra
Kuala Lumpur
August 12 2017 10.21 Am.
Nelayan Pantai Kelulut

Puisi tersebut melukiskan panorama laut atau Pantai Kelulut yang eksotis. Kembali metafora kelautan dimanfaatkan Dyra untuk mengekspresikan imajinasinya. Pandangan dunia (wold-view) penyair Dyra terhadap Pantai Kelulut menggambarkan sesuatu yang indah menawan hati. Di pantai itu juga sumber rezeki bagi para nelayan untuk menangkap ikan dan aneka hasil laut lainnya guna menghidupi keluarga. Pantai atau laut di mana pun menjadi sember mata pencaharian bagi para nelayan yang tak akan habis dengan berjuta tahun. Namun, Dyra berkeyakinan bahwa rezeki itu untuk setiap nelayan (manusia) sudah digariskan oleh Tuhan (Allah).

Dalam kehidupan ini, Allah telah menyediakan sumber-sumber kehidupan. Sejahtera atau tidak kehidupan manusia sangat tergantung pada individu masing-masing. Hanya manusia yang mau berpikir positif dan mau mengerahkan potensi positif yang dimilikilah yang berhak menikmati kehidupan yang sejahtera, yang diberkahi oleh Allah. Dalam hubungannya dengan puisi di atas, hanya manusia yang berniat dan bertekad mencari nafkah untuk keluarga, “meskipun ombak mengganas”, yang akan mendapatkan rezeki berlimpah. Hanya orang-orang yang tidak menyia-nyiakan waktulah yang akan memetik hasilnya. Barangkali demikian perenungan (kontemplasi) yang bisa kita petik dari puisi di atas.

Selanjutnya, melalui puisi “Pagi yang Molek”, Dyra menangkap pengalaman puitik suatu pagi tentang sosok ayah dan ibu. Si ayah dengan asyiknya menikmati rokok, sedangkan ibu menikmati daun sirih-pinang-kapur yang ditradisikan secara turun-temurun. Sementara si aku lirik menikmati kopi buatan ibu. Puisi ini terkesan kurang memberikan muatan makna sebagai aspek batin (deep structure) puisi. Atau barangkali Dyra ingin mengenalkan tradisi “nginang”  kepada pembaca.

Akhirnya sampailah kita pada puisi yang bernada riang y ang berjudul “Seputih Kasih Zahani” berikut.

SEPUTIH KASIH ZAHANI

Zahani...
Dalam temu bahagia menanti
Sejernih kasih mengalir terkunci
Memaut hati bicara diatur
Dalam sehangat mentari terpancar

Bak haruman wangi kasturi
Kau labuhkan kasih di hati
Bagaikan mekar bunga di jambangan
Mewangi mengulit terpahat di sanubari

Pesona wajah terhias indah
Kelopak kasih mekar berkembang
Titik sepi dalam gundah
Berlari meninggalkan hati berkeping

Nostalgia bertaut bak kiambang
Melarut kenang dalam mengenang
Tebing harap tercetus di hati
Bagai ombak memecah gigian pantai

Terpercik rasa mengulit mimpi
Jauh atur-NYA mendamba doa
Aku dan kau tersimpul hati
Menghambat tangis hiba ngilu merantai

Salam Kasih
Kak Ilah @ Adyra Az-zahra
Kuala Lumpur
August 14 2017;  11.41 Pm

Dari aspek judul, puisi tersebut menyiratkan tentang keindahan hubungan antarmanusia, entah dengan kekasih atau dengan hubungan antar saudara. Yang jelas pihak mitratutur si aku lirik bernama “Zahani”.  Pancaran keceriaan, keriangan, kebahagiaan itu tercermin dalam nada dan suasana yang terlantun mengesankan adanya romantisme dalam teks utuh puisi tersebut. Lebih-lebih dalam puisi tersebut didukung oleh penggunaan gaya bahasa simile yang semakin memperkuat penghayatan kita pada nuansa yang indah nan romantic.

Puisi yang terakhir tersebut memiliki korespondensi yang baik hubungan antarbaris maupun antarbait. Rajutan diksi semuanya membangun konsentrasi dan intensifikasi (pinjam istilah MS Hutagalung) puisi. Jika kita menggunakan konsep Noam Chomsky, pakar linguistic, maka puisi di atas menggambarkan keberimbangan antara surface structure dan deep structure. Memang puisi yang berkualitas itu, sebagaimana puisi di atas, soal ide atau pengalaman jiwa, baik yang imajinal, emosional, maupun intelektual, diungkap dengan teknik ekspresi serta ketepatan pemilihan dan penempatan kata yang mewakilinya dapat mendukung dengan kuat. Ketiga aspek penentu tersebut harus tetap membentuk kebulatan puisi sebagai “dunia kata” (pinjam istilah Suminto A Sayuti).

Akhir kata, semoga telaah sekilas tentang di balik yang tersurat-tersirat dalam puisi Dyra ini bermanfaat bagi Dyra khususnya dan para pembaca pada umumnya. Norman Podhoretz menyatakan bahwa “sastra dapat memberikan pengaruh besar terhadap cara berpikir seseorang mengenai hidup, mengenai baik-buruk, mengenai benar-salah, mengenai cara hidup sendiri dan bangsanya”. 

Surabaya, 12 September 2017

Salam Budaya

Comments

Popular posts from this blog

KRITIK EKOLOGIS DALAM PUISI "TANGISAN BUMI" KARYA SRI WURYANINGSIH

51 PENYAIR PILIHAN DALAM BANGGA AKU JADI RAKYAT INDONESIA

Puisi Andang Bachtiar