ENTITAS KECEMASAN DALAM PUISI DIMAS ARIKA MIHARDJA

Oleh: Agung Pranoto

Dimas Arika Mihardja (dalam tulisan ini selanjutnya disebut “Dimas”) yang merupakan pseudoim dari nama Sudaryono, tercatat sebagai sastrawan Angkatan 2000 . Melalui Grup Bengkel Puisi Swadaya Mandiri , yang dikomandani Dimas [pemilik akun FB: Qi Chuex, juga biasa disapa Prof.(Pak) DAM], pada 28 April 2017 ia mengunggah tulisan bertajuk “Ziarah Diri, Puisi Bertema Kematian” yang termuat beberapa puisi bertemakan kematian. Di bawah judul itu, Dimas menuliskan pandangannya tentang kematian: “Kematian adalah misteri. Mungkin kematian terkait dengan dimensi fisik, psikis, ideologis, psikologis, dan lain-lain. Buktinya tahun 90-an entah kenapa saya banyak menulis tema ini. Mari kita bernostalgia membaca misteri kematian” .

Pandangan Dimas tentang kematian sebagai misteri, lalu ia pun tahun 1993 banyak menulis puisi bertemakan kematian. Pada April 2017 Dimas kembali mengajak pembaca atau penikmat bernostalgia membaca misteri kematian melalui puisi-puisinya. Apa yang melatarbelakangi penyair, yang menyandang Guru Besar di Universitas Negeri Jambi, menghimpun beberapa puisi bertemakan kematian, dalam tajuk “Ziarah Diri”? Apakah hal ini merupakan kesadaran dirinya, yang merasa sudah “senja” (baca: tua) dan siap menghadapi datangnya kematian? Apakah secara individual, ia memiliki atensi pada masalah-masalah personal (seperti menghadapi kematian) sebagai pangkal tolak konsepsi estetis dalam setiap berkarya (menulis puisi)? Ataukah semacam kegalauan/kecemasan yang selalu menjadi beban pikiran dan perasaan pernyair yang pada tahun 2017 ini memasuki usia 58 tahun?

Allah berfirman dalam Al-Quran: “…di mana pun Anda berada maka kematian akan tetap menjemput Anda,” (QS. An-Nisa: 78). Firman Allah ini menegaskan bahwa kematian itu akan menjemput yang hidup, yang bernyawa, meskipun seseorang berada di dalam benteng bawah tanah dengan perlindungan ruang yang dicor beton setebal 100 cm pun, kematian tetap akan menjemput jika sudah waktunya. Lebih lanjut dalam An-Nahl: 61 disebutkan bahwa “Maka jika datang waktu kematian mereka, tidak bisa mereka tunda dan mendahulukannya sedetik pun,”. Artinya bahwa kematian itu merupakan keputusan Allah, dan manusia pun tidak bisa menundanya atau meminta didahulukan. Selain dua hal tersebut, fiman Allah yang menyoal tentang kematian masih bisa kita telusuri dan renungkan kembali di dalam Al-Quran.

Kematian pasti akan terjadi. Ada kehidupan tentu ada kematian. Segala sesuatu yang ada di bumi ini senantiasa mengoposisi biner dan hal ini tidak bisa dibantahkan oleh teori apa pun. Kita sering mendengar dan menyaksikan berita maupun peristiwa kematian. Peristiwa kematian ini, tidak bisa kita pandang sebagai angin lalu saja. Peristiwa ini tentu harus dimaknai sebagai peringatan kepada manusia, tidak perduli berapa pun usia yang kita lalui. Sebab, hanya Allahlah yang mengetahui rahasia umur manusia, sementara manusia hanya bisa menduga-duga.

Dalam sastra Indonesia, tema kematian menjadi inspirasi bagi penulis, baik itu puisi, prosa, maupun drama. Kematian menurut Wili Azhari  seakan-akan menjadi tema besar yang membayang-bayangi penyair, seperti Chairil Anwar, Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono, Subagio Satrowardoyo, Abdul Hadi WM, Acep Zamzam Noor, dan lain-lain. Wili Azhari yang fokus penelitiannya pada “Makna Kematian dalam Puisi-puisi Joko Pinurbo Melalui Pendekatan Semiotika” yang mengambil sampel puisi berjudul “Keranda”, “Kain Kafan”, “Ranjang Kematian”, dan “Kalvari” disimpulkan bahwa penggunaan diksi ‘ranjang’ dan ‘tubuh’ telah merepresentasikan kematian yang bermaknakan hubungan eskatologis antara tubuh dan Sang Pencipta. Makna-makna yang terangkum dalam empat puisi Joko Pinurbo disimpulkan sebagai suatu jalinan keadaan, yakni hidup manusia selalu berdampingan dengan kematian dan Tuhan (Allah) sebagai tempat kembali yang hakiki.

Bahkan ada beberapa penyair Indonesia yang menulis puisi tentang kematian sekaligus suara bawah sadar itu merupakan batas akhir kehidupan di dunia. Artinya bahwa puisi yang ditulis dengan bahasa hati, bahasa rasa, sering memantulkan suatu peristiwa yang akan benar-benar terjadi. Puji Santoso  memaparkan beberapa penyair atau sastrawan Indonesia yang terobsesi dengan maut (kematian), di antaranya sebagai berikut. Chairil Anwar dalam puisi “Nisan” dan “Derai-derai Cemara” menemui ajalnya ketika berusia 27 tahun. Penyair Kriapur memuja maut melalui puisi “Kupahat Mayatku di Air”, “Berpikir Tentang Maut”, “Seperti Angin Maut Lewat Jendela”menemui ajalnya ketika berusia produktif, 28 tahun. Subagio Sastrowardoyo dalam buku kumpulan puisi Dan Kematian Makin Akrab (1995) dan puisi-puisi mautnya dalam Simfoni II (1990), menemui kematiannya pada Juli 1995. Selanjutnya, Motinggo Busye melalui puisi “Merasuk Malam” (1999) berisi tentang obsesi maut dan ia menemui ajal sebelum puisi itu sempat dipublikasikan melalui majalah sastra Horison. Berikut ini secara utuh puisi yang dimaksud.

MERASUK MALAM

saatnya tiba untuk berbisik perlahan
pada Tuhan
aku sudah siap, tapi ingin tahu
bilakah saat diriku kau ambil
agar kurasakan nikmat maut menjemput
dalam terang tanpa berkabut
dan inilah kata ketika
aku merasuk dalam malam

sulit tidur adalah kebiasaan setelah tua
tapi sungguh tak ada takutku pada maut
hari-hari ini tiba untuk berbisik perlahan
membujuk engkau untuk memberitahuku
soal yang satu itu

aku ingin mengalaminya sendiri
dan menikmati mati
sehingga menjadi  sangat indah tanpa cadar
dan ketika itu tiada pemberontakan
kecuali suka
sama suka

1999

Selanjutnya, bagaimana puisi bertema maut/kematian yang ditulis oleh penyair dari kalangan akademisi, Si Dimas? Sebelum masuk pada puisi-puisi penyair yang melantangkan ‘puisi sebagai saksi yang seksi’ ini, ada baiknya kita cermati dulu pemikiran Dimas  berikut:

“Pada awal mula segala seni sastra (teristimewa puisi) adalah religius. Kepekaan Chory marbawi menangkap sinyal-sinyal, isyarat kematian, termasuk dimensi religiusitas. Hal ini terkait dengan asumsi yang telah lama tumbuh di kalangan para estetikus abad-abad lampau yang mencoba menerangkan apakah seni (puisi) itu. Seni, sambil memperhitungkan adanya berbagai trend, dalam keadaannya yang murni, lazim ditanggapi sebagai kekayaan rohaniah manusia yang memberikan satu pesona, satu pengalaman tak sehari-hari, sesuatu yang transendental, yang dalam bahasa Plato merupakan bayangan Keindahan Sejati, yang oleh Bergson maupun Iqbal ditanggapi kurang lebih sebagai ilham Ilahiat yang bahkan layak diperbandingkan dengan ilham kerasulan”.

Dari kutipan tersebut, Dimas menyatakan bahwa puisi itu pada awal mulanya adalah religius. Pernyataan ini tidak bisa disalahkan manakala kita memahami istilah ‘religius’ tidak diartikan secara sempit. Di dalam Kamus Bahasa Indonesia   disebutkan pengertian religius sebagai suatu ketaatan pada agama atau saleh. Taat di sini tidak diartikan secara harafiah sebagai realisasi untuk peribadatan yang tampak formal. Lebih dari itu, pengertian taat mengarah pada "dunia dalam", dunia batin, untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan.

Y.B. Mangun Wijaya   juga menjelaskan bahwa “pada awal mula segala sastra adalah religius”. Manusia religius secara sadar atau tidak sadar, mencari makna dibalik segala yang wadaq. Jika sastrawan yang religius sudah semestinya tidak berselera ingin merusak, melainkan sebagai pemelihara keindahan. Mereka pada hakikatnya melakukan penjajahan untuk mencari hakikat hidup, hakikat akan kebenaran, keadilan, dan semacamnya untuk mencari kebahagiaan nurani, baik di dunia maupun di akhirat. Lewat sastra marupakan alat yang (mungkin) tepat bagi sastrawan untuk mengejewantahkan religius itu.

Keterkaitan sastra dengan persoalan religius ini sudah jelas. Lewat sastra, sastrawan membahasakan hati nuraninya, intuisinya, instingnya, angan-angan, cita-rasanya, atau imannya melalui bahasa. Dengan demikian, sastrawan secara sadar atau tidak sadar telah menjadi manusia yang religius. Di mata sastrawan yang memiliki ketajaman batin, segala yang dihadapinya tidak semata-mata tampak wadaq. Lebih dari itu, seorang sastrawan mampu membaca adanya suatu lambang di balik realitas objektif yang tampak zoadaq di mata orang awam.

Danarto   juga merangkumkan pandangan, bahwa semua pengarang itu secara otomatisasi akan timbul jiwa religiusnya demi melihat hal yang mengharukan, mengesankan batiniah pengarang. Hingga dalam keadaan seperti ini, pengarang (sastrawan) tersentuh jiwa kemanusiaannya (merupakan dominasi yang ada dalam religi), dan ini adalah tidak berbeda sampai pada pengarang atheis pun. Namun, yang perlu kita sadari adalah kadar kedalaman jiwa religius itu. Sebab, kadar religiusitas setiap pengarang tidaklah sama. Yang paling utama dalam cita rasa religius itu bukan kuantitas melainkan kualitas. Bukan rupa, melainkan isi dan esensi .

Sastrawan yang mempunyai kadar jiwa religius yang tinggi, sudah semestinya karya-karyanya menampakkan  jiwa yang demikian itu. Karya sastra yang diciptakan sudah tentu identik dengan tujuan hidup mereka, yakni untuk memperoleh kebahagiaan spiritual, material, di dunia dan di akhirat di bawah naungan Tuhan Semesta Alam. Seperti kita ketahui, bahwa sastrawan menurut Hasjmy  adalah manusia biasa yang di tunjuk Tuhan sebagai khalifah-Nya di bumi. Manusia di bebani tanggung jawab menjalankan segala perintah¬-Nya dan sekaligus menjauhi larangan-Nya. Berdasarkan uraian tersebut, jelaslah bahwa manusia, termasuk sastrawan, dituntut memikul tanggung jawab yang demikian itu. Oleh sebab itu, sastrawan yang dikategorikan berjiwa religius adalah dalam cipta sastranya  mempunyai tendensi dan misi keagamaan yang ditulis oleh sastrawan atau penulis yang memiliki dedikasi tinggi terhadap imannya.

Selanjutnya, kita awali telaah puisi Dimas ini melalui puisinya yang berjudul “Catatan Musim Luka”: ‘//Di lemari besi kusimpan kata/Sebab kata kata berdarah/Tumbuh sepanjang lembah //Kusimpan kata kata luka/Dalam dada dalam peta dalam tahta/Dalam kedalaman rasa/1993//’, si aku lirik membahasakan kematian melalui kata ‘berdarah’,  dan ‘luka’. Kematian akan terjadi ‘sepanjang lembah’ (sepanjang kehidupan di dunia). Lalu, oleh penyair kata ‘luka’ selalu menjadi catatan yang mesti harus diingat dan tidak boleh diabaikan begitu saja. Bukti hal itu sebagaimana kata ‘luka’ disimpan “Dalam dada dalam peta dalam tahta” dan “Dalam kedalaman rasa”. Artinya, kematian sudah menjadi sesuatu hal yang telah digarisbawahi si aku lirik; sebagai bentuk kesadaran akan terjadinya batas akhir kehidupan di dunia. Senada dengan puisi tersebut, pada puisi “Golgota”, ia menulis: ‘//kaupalungkan luka/menganga di dada /di kepala mahkota duri /memberi arti cinta/kasih seputih melati/1992/1993//’.

Kematian menumbuhkan makna ‘cinta’, tentu ‘cinta kasih yang ‘seputih melati’ (tulus) kepada Yang Maha Kuasa.
Oleh karena kematian telah menjadi catatan di lubuk hati terdalam (kedalaman rasa) maka dalam perjalanan kehidupan si aku lirik akan terbayang-bayang kehadiran hal tersebut.

Pada puisi “Menguak Mimpi, 1” menyiratkan tentang bayang-bayang kematian seakan-akan hendak menjemput dirinya. Melalui bahasa mimpi, kematian datangnya dimetaforakan “serupa bayang” dan bayang itu “mengusik tidur-jagaku”, sebab disadarinya “kuseru cuaca berdebu”. Di dalam puisi itu, ada semacam kegelisahan si aku lirik atas bayangan kematian yang hendak menjemput, sementara disadari bahwa banyak dosa-dosa yang diperbuat dan bekal untuk menghadapi kematian pun dirasakan mungkin belum begitu banyak.
Selanjutnya mari kita nikmati puisi Dimas berjudul “Sketsa Senja, 1” berikut.

SKETSA SENJA, 1

pada figura berdinding kaca
cakrawala langit mencumbu laut biru
debar-debar waktu
langkah satu-satu:
menuju pangkuan-mu

haluan hidup mana belum kukecup?
padang perburuan mana belum kusinggahi?

kuselami kuala hatiku sendiri
dan terasa pedang aliflammim
mengiris-iris gelisah rasa

Telanaipura, 1993

Puisi “Sketsa Senja, 1”, penyair Dimas melukiskan gurat-gurat usia senja yang harus “mencumbu laut biru”, sebab roda waktu senantiasa berputar dan menambah “kesenjaan” si aku lirik dan tiada lain kecuali harus “menuju pangkuan-mu”. Bait 2 puisi tersebut lebih mengarah pada kegelisahan retoris yang mesti harus digali sendiri. Sebab kegelisahan seseorang (termasuk penyair) utamanya hanya seseorang (penyair) yang bersangkutan yang harus mampu mengatasi gejolak jiwanya dengan cara menggunakan pikir dan terutama ‘rasa’ agar tercapai jalan menuju katarsis.

Puisi (karya sastra) sesungguhnya merupakan visi atau pandangan dunia (world-view) penyairnya. Pandangan dunia itu menurut Puji Santoso  merupakan bentuk respon terhdapat berbagai persoalan kehidupan yang dihadapi penyairnya. Persoalan dasar kehidupan manusia menurut Soedjatmoko  yaitu (a) maut, (b) tragedi, (c) cinta, (d) harapan, (e) pengabdian, (f) kekuasaan, (g) makna dan tujuan hidup, dan (h) hal-hal yang transcendental dalam kehidupan manusia. Dari kedelapan persoalan mendasar tersebut, dalam puisi-puisi Dimas ada beberapa hal yang tengah mendera, bahkan menghantui yakni persoalan maut/kematian. Tidak menutup kemungkinan, tragedi yang tidak pernah diduga serba mungkin terjadi dan hal ini sangat memungkinkan mendatangkan kematian. Kematian sebagai pusat keresahan tentu untuk menumbuhkan ketenangan jiwa perlu hadirnya cinta. Cinta di sini tidak sekadar cinta biasa melainkan cinta mesti harus ditarik ke tataran yang tinggi yakni Cinta kepada Illahi. Dari sinilah akhirnya manusia kembali pada makna dan hakikat hidup yang sebenarnya merupakan pengabdian. Kesadaran akan adanya Sang Maha Segala dan dengan ‘pengabdian’ sebagai perwujudan ‘cinta’ kepada-Nya tentu mengarah pada hal-hal yang berhubungan dengan transcendental.

Kegelisahan Dimas juga tampak pada puisi “Menguak Mimpi, 2”. Pada puisi tersebut,  imajinasi tentang kematian dibangun dari seolah-olah ada suara, entah dari mana asal suara itu, yang mengingatkan penyair untuk segera melakukan dimensi vertical. Di dalam dimensi vertical itu, yakni terjalinnya hubungan antara manusia dengan Allah: “//dimas, berkeramaslah/bergegas menggelar sajadah/ pasrah; ikuti geletar darah/takuti petaka berdarah cabuti jiwa rekah//” (bait 2). Kutipan bait 2 tersebut menjelaskan tentang diri penyair agar segera melakukan hadas besar, lalu menggelar sajadah melakukan shalat serta melantunkan zikir, berserah diri kepada-Nya agar jiwanya menjadi lebih tenang. Sedangkan pada bait 3, penyair menulis: “//arika, keranda tersedia/untuk kaubawa berkendara/ tertawalah memapah resah-resah/ tertawalah selebar sajadah/ kau mesti hijrah. Hijrah//”. Bait ini, secara gambling ia paparkan tentang keranda tempat membawa jenazah telah siap. Namun di tengah kesiapan keranda itu, tampak ada baris-baris yang agaknya dipaksakan, yakni hadirnya kata “tertawalah”. Barangkali kata “tertawalah” ini merupakan bentuk atau upaya menenangkan diri atas segala resah ketika saatnya “hijrah” (berpindahnya dari alam kehidupan di dunia kea lam kubur). Tertawa dalam konteks ini merupakan suatu cara mengatasi kecemasan diri atau barangkali memang merupakan kesiapan menghadapi kematian tersebut. Dan pada bait 4, ia gambarkan bahwa aroma kamboja sebagai penghias makam-makam keramat dan sungguh indah baris ini: “//…Bersiapkan jadi mempelai/merambah kehidupan abadi/ sebab mimpi telah dilunaskan/ janji telah dikatamkan..//”. Jasad yang dikuburkan dipersonifikasikan dengan ‘mempelai’ yang menuju kehidupan baru, kehidupan abadi. Sementara kata “mimpi”, “janji”, “dilunaskan”, “dikatamkan” merupakan metafora tentang akhir dari kehidupan di dunia.

Kegelisahan atau kecemasan tentang datangnya kematian itu tidak saja melanda pada diri Dimas Arika Mihardja saja. Manusia pada umumnya akan mengalami hal yang sama. Kecemasan menurut Nevid dkk  adalah “keadaan yang emosional yang mempunyai ciri keterangsangan fisiologis, perasaan yang tegang yang tidak menyenangkan dan perasaan  khawatir yang mengeluhkan bahwa sesuatu yang buruk akan segera terjadi”. Sementara Freud  menjelaskan “kecemasan adalah suatu keadaan tegang yang memotivasi individu untuk berbuat sesuatu … untuk memperingankan adanya ancaman bahaya, yakni sinyal bagi ego yang akan terus meningkat jika tindakan-tindakan yang layak untuk mengatasi ancaman tidak diambil; apabila tidak bisa mengendalikan kecemasan melalui cara-cara yang rasional dan langsung, maka ego akan mengandalikan cara-cara yang tidak realistis yakni tingkah laku yang berorientasi pada pertahanan ego (defend mechanism)”.

Berdasarkan pendapat tersebut, kecemasan itu merupakan perasaan yang tidak enak, menegangkan, dan kekhawatiran akan terjadinya hal yang buruk atau tidak diharapkan. Kecemasan itu sifatnya sangat subjektif dan imajinatif. Dalam menghadapi kecemasan tersebut, disadari atau tidak, ada pemikiran rasional yang muncul sebagai upaya mengatasi kecemasan dengan berbuat sesuatu. Namun, upaya menghadapi kecemasan tersebut, terkadang manusia menggunakan cara-cara yang tidak rasional untuk mempertahankan ego. Kecemasan menghadapi sinyal-sinyal kematian, tentu cara irasional tidak mungkin bisa dilakukan oleh manusia. Hanya cara yang rasional yang bisa dilakukan manusia, yakni kembali berserah diri kepada-Nya secara khusuk, mengabaikan hal-hal yang bersifat keduniawian.
Puisi “Dzikir” merupakan jawaban atas kecemasan yang dialami oleh manusia (penyair). Untuk mendapatkan ketenangan atas kecemasan yang terjadi, manusia memang melakukan cara-cara yang rasional yakni banyak mendekatkan diri kepada Allah, salah satunya yakni memperbanyak dzikir. Mari kita nikmati puisi “Dzikir” dan “Qasidah Cinta Semata” berikut ini.

DZIKIR

kueja makna kata-nya
penuh damba
siasia sembunyikan
airmata
duka di hadapan-nya
mahasempurna

1993

QASIDAH CINTA SEMATA

kulidahkan bahasa sajadah
bagi sang guru batinku

aku datang mendekap mesjid
menguntai wirid

sajadah basah
airmata semata

kupadamkan api benci di hati
kupadamkan

kupahamkan api sufi di hati
kupahamkan

kusahamkan iman di hati
kusahamkan

kumakamkan dendam di hati
kumakamkan

rebana bertalu-talu menghalau risau
rebana berdentam-dentam menikam dendam

engkau sungguh maha pualam
tak pernah diam

Sungaiputri, 1993

Puisi “Dzikir” merupakan bentuk kesadaran dalam menghadapi kematian. Dengan berdzikir maka akan diperoleh ketenangan jiwa. Berdzikir merupakan bentuk penghambaan kepada-Nya. Berdzikir merupakan salah satu cara yang tepat daripada hanya “menyembunyikan air mata”. Pada puisi “Qasidah Cinta Semata” muatan maknanya sama dengan puisi “Dzikir”, namun diperjelas oleh Dimas Arika Mihardja bahwa dalam berwirid atau berzikir harus dihilangkan rasa benci atau dendam. Di dalam berwirid atau berdzikir sedapat mungkin tidak sekadar fasih dalam melisankan, melainkan paham akan makna wirid/dzikir itu untuk diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, suatu kehidupan menyongsong kematian.

Di dalam Al-Quran, cara menghadapi kematian atau cara menghilangkan kecemasan, sebenarnya sudah dijelaskan melalui firman Allah: “(Tidak demikian) bahkan barang siapa yang menyerahkan wajahnya kepada Allah, sedang ia muhsin, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada rasa takut menimpa mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (Al-Baqarah: 112). Memahami ayat tersebut, Quraish Shihab  memulainya dari redaksi awal “siapa yang menyerahkan wajahnya..” dan “wajah adalah bagian termulia dari jasmani manusia. Pada wajah terdapat mata, hidung, dan mulut atau lidah. Kegembiraan dan kesedihan, amarah, rasa takut, dan sedih, bahkan semua emosi manusia tampak pada wajah. Wajah adalah gambaran identitas manusia, sekaligus menjadi lambing seluruh totalitasnya. Ayat ini jelas mengandung unsur psikologi mengenai bagaimana manusia menyerahkan seluruh ‘emosinya’ kepada Allah Swt”. Manusia yang menyerahkan wajahnya dengan tulus-ikhlas kepada Allah, dalam arti ikhlas beramal dan itu adalah amal baik,maka baginya ganjaran di sisi Tuhannya. 

Akhirnya, tulisan pendek ini kita tutup dengan menikmati puisi “Usai Dialog Malam Saat Nafiri Ditiupkan” berikut.

USAI DIALOG MALAM
SAAT NAFIRI DITIUPKAN

usai dialog malam
saat nafiri ditiupkan
masih kubaca kerling resah-resahku
kening pun pecah di luas sajadah

siapakah mampu membebat resah
resah ngalir?

siapakah mampu ngusap darah
ngalir menyungai?

melaut tanyaku tak berjawab
resah ini makin melindap

aku bayangkan:
aku rebah tanpa desah di bawah terompah-mu
yang maha indah

Sungaiputri, 1993

Puisi tersebut merupakan puncak kecemasan/kegelisahan penyair Jambi kelahiran Yogyakarta ini. Usai si aku lirik melakukan komunikasi vertical dengan Sang Khalik ternyata bukan ketenangan yang diperoleh, melainkan keresahan semakin memuncak, meski sajadah telah membasah oleh ‘sungai air mata’. Bait 2 dan 3 kembali pertanyaan retoris dimunculkan si aku lirik dan bait 4 dijawab sendiri dengan: “//melaut tanyaku tak berjawab/resah ini makin melindap//”. Namun, pada bait ke-5 si aku lirik merasakan adanya keberangsuran semakin meredupnya kegelisahan yang ada dan selanjutnya membayangkan keingingan “aku rebah tanpa desah di bawah terompah-mu/yang maha indah”.

Surabaya, 4 Mei 2017

Comments

Popular posts from this blog

KRITIK EKOLOGIS DALAM PUISI "TANGISAN BUMI" KARYA SRI WURYANINGSIH

51 PENYAIR PILIHAN DALAM BANGGA AKU JADI RAKYAT INDONESIA

Puisi Andang Bachtiar