KETIKA KATA TAK MENJADI PUISI

Oleh: Cunong Nunuk Suraja

Tak disangkal kalau puisi adalah susunan kata-kata. Lalu apa yang terjadi kalau susunan kata-kata itu tidak menjadikannya puisi. Kata-kata itu cuma bergerombol, bergesekan satu sama lain, menyusun tumpukan demi tumpukan seperti sampah atau hanya berserakan di semua wilayah. Kata-kata itu berbusa-busa di mulut pembicara baik sedang pidato ataupun ceramah agama lebih-lebih guru atau dosen yang mengajar terlalu banyak kata tanpa bukti tindakan yang nyata. Seakan benar kata Seno Gumira Ajidarma jika jurnalis dibungkam maka sastra bicara. Sastra juga melibat puisi. Sastra juga mengungkapkan kata-kata baik yang berbusa maupun yang berantakan logika katanya. Maka sastrapun jadi tumpukan kata-kata yang tak ada guna. Kata serapah, Kata makian, Kata umpatan, Kata hardikan. Kata celaan. Kata kiasan. Kata mutiara. Kata peribahasa yang usang. Kata yang terselip di gigi seusai makan daging dan ikan. Kata hanya merupakan tumpukan sayur selada, bayam dan kangkung yang siap di penggorengan untuk dibumbui. Kata-kata muntah dan lari ke kamar kecil. Kata-kata bingung mencari kamar buang hajat. Kata-kata terperangkap di otak para penyair yang buntu berpikir. Maka kata telah fatig. Kata telah lelah. Kata pingin istirahat dari benak penyair yang memperkosanya tanpa henti. Kata-kata pingin menepi dan jalan kaki ke taman-taman kota, ke mal-mal atau plaza-plaza pertokoan, ke restauran-restauran yang bermartabat tidak sekedar junk food. Kata-kata ingin membuat petisi seperti politisi yang kalah voting pemilihan ambisi. Kata-kata mojok di warung kopi. Memilih sendiri dan tanpa menggigit kudapan ataupun camilan. Melulu kopi hitam tanpa gula. Kata-kata merasa pahit. Merasa getir. Merasa khawatir tertangkap penyair yang juga singgah di kedai kopi. Kata-kata itu menyublim jadi berita mengganti wacana sastra. Kata-kata itu meloncat-loncat dari satu setasiun telivisi ke setasiun televisi yang lain. Kata-kata terpidana in absentia.

SMS itu membangunkan tidur Ahad pagi yang mestinya boleh menambah porsi, tetapi pesan pendek itu memangkas hak tidur nyaman pagi-pagi usai sholat subuh. SMS itu terterakan makna puisi tentang fajar di Bekasi, kota sebelah timur Jakarta yang kaya pekerja pabrik dan petualang sastra dalam kumpulan di kedai Kalimalang, bahkan cerobong asap yang meracuni kota itu tak menyusutkan kehendak manusia urban dan migran bersatu mengaisi rejeki halal di bilangan sebelah timur Jakarta.Sungguh mencengangkan susunan kata penyair ini tercetak instant sehingga sangat mungkin kerancuan kata dan logika kata berceceran makna yang berujung pada licentia puitica. Benarkah licentia puitica menghalalkan segala logika kata? Tengok kalimat penyair dengan jam tinggi terokuptasi dengan alat canggih moderen sarana informasi
“Jalan tol mulai sibuk mengatur kata-kata yang meluncur dari para sopir”. Begitu rancunya logika jalan tol berkata dan supir meluncur, ini mengingatkan logika yang ditawarkan Nuruddin saat mempercakapkan "Mural Kota" TS Pinang dengan tawaran makna kalimat dengan selendang lingkaran berdemensi satu atau mobius dalam istilah matematik. Kalimat yang merancukan obyek dan subyek hingga kalimat itu hanya jatuh pada rujak kata (word salad).Benarkah ini karena slip of the writing seorang penyair yang cukup jam terbangnya? Tengok lagi kerancuan logika pada "Barangkali ada kalimat merdu yang ingin pagi katakan?" Kalau benar bisikan Nuruddin tentang rujak kata (word salad), ternyata bagi penyair jam terbang tinggi pun terjangkiti virus mengobral kata dalam adukan yang tak logis alias hanya kumpulan kata semata seperti ada buah mangga muda, kedondong, mentimun, nanas dan serombongan anggota sambel atau dressing berkumpul bersama.

Pelajaran terbuka bagi penyair yang mau meramu kata-kata pada pojok waktu yang sempit. Menulis puisi tidak sekedar mengumpulkan kata yang penuh pesona tanpa makna. Kumpulan kata itu harus membawa pesan dari penulisnya. Walau ada yang bilang penyair telah mati saat puisi itu diubar dipajang ditayang dipublikasikan. Jadi milik publik. Jadi milik bersama dan penyair hanya memandang dengan nestapa ketika puisinya dihajar babak belur menjadi rujak kata. Maka bagi penyair gaek yang penuh uban makan asam garam sastra menuliskan huruf besar sebagai pelampiasan bukan isyarat untuk puisinya bermakna religi, sangat humanis, sangat bermoral. Kesilat-lidahan dengan mengakali puisi dengan huruf kapital pada kata ganti orang ketiga dan kedua serta kata ganti empunya seakan menaikkan derajat puisinya yang lintang pukang jadi puisi yang matang pohon keagamaannya. Saya menolak mentah-mentah puisi yang mendegradasikan posisi yang mahasegala dengan membesarkan huruf M pada Mu dan N pada Nya serta D pada Dia.Puisi Iwan Soekri ini adalah korban kedua kata-kata yang gagal menjadi puisi!

Membaca puisi SMS #3 Penyair Iwan Soekri membuat terperanggah termehek-mehek diam tanpa kata karena mempertanyakan kekuatan penyair Indonesia rata-rata. Puisi ini sangat konvesional dan lurus tanpa lekukan imaji yang melukai kreativitas pembaca. Puisi ini tanpa duri yang mampu menusukkan cinta khayali atas pemahaman yang lebih dalam. Hari gini seramai berselancar dari Facebook teman ke Facebook teman yang lain puisi rintihan atau kemarahan buruh yang terluka dompetnya karena pajak kapitalis yang ditransfer diunduhkan di-down line-kan menjadi beban dan memampatkan kehidupan yang makin menghimpit. Memang tidak selalu bahwa puisi menawarkan pemikiran bernas cerdas tanpa emisonal yang melimpah ruah, tapi merintih merengek merajuk dan mengumbar kemarahan akan menyisakan puisi hanya sebagai pamflet penyair yang luka terpinggirkan atau terhimpit suasana. Penyair cengeng melankolis pemberang macam begini sangat bertolak belakang dengan kecepatan denyut detik informasi yang terberai ruah tumpah oleh layanan Facebook yang sementara ini belum tertandingi dalam menampung gejolak informasi tanpa editting maupun sensor. Sayang kebebasan ini hanya digunakan dengan kesia-siaan untuk merintih dan menyerang dengan segenap amarah.

Dalam SMS #4-5 Iwan Soekri menyodorkan puisinya yang mengingatkan tulisan A Teuw tentang sajak Sapardi Djoko Damono yang menurut esainya mempunyai kesamaan waktu, dan ketika ditanyakan pada SDD pada suatu kesempatan SDD menjawab lupa kalau itu sewaktu atau tidak tapi sebenarnya tiga sajak SDD itu tertuliskan dalam saat yang berbeda walau dalam buku kumpulan puisi itu terpajang berurutan halaman. Ketiga sajak itu membicarakan tentang persiapan pemberangkatan jenazah dalam prosesi jenazah dan saat penguburan jenazah. Berbeda dengan Iwan Soekri yang sedang dalam musim bunga kreativitasnya sehingga dapat menelorkan puluhan bahkan ribuan sajak dalam satu helaan nafas untuk mendramatisir dan mengkriminalisasi penyair yang sedang dalam masa subur. Begitu suburnya hingga penyair tak mengenal keterbatasan media penyampaian tumpahan kilat bayang yang selalu luput tertangkap kerangka pikir. Perhatikan dengan selintas karena tidak memerlukan ketelitian yang seksama untuk melihat dua SMS puisi ini bahwa kesimpulan pertama adalah ini pengkloningan sajak dalam benak penyair yang sedang masa subur. Maka untuk mengkriminalisasi puisi penyair ini harus tertuduhkan bahwa penyair telah memaksakan kehendak untuk lahirnya sajak. Dua sajak ini dimulai dengan sebuah frasa yang bukan mirip tapi duplikat atau plagiat telur ceplok nemplok di wajan penggorengan kiasan dari proses lahirnya “anak haram” sajak (kata Subagio Sastrowardoyo): “Kemudian detik berlari meninggalkan (ke)hangat(an)(nya)”. Ending dari peristiwa ke dua puisi ini secara esensial juga sama:

“Sekali saja ingin kukatakan, aku kehilanganmu.”
(SMS #4)

“Bahkan sudah enam windu, masih juga kucari-cari.
Ingin lagi detik datang mengecupmu tanpa nafsu.
Hanya kehangatan itu yang masih kurasa.
Sampai kapan kau kembali, aku tak jemu menunggu.”
(SMS #5)

Jelas penyair telah kehilangan kekreativitasannya karena terlalu melayani dorongan emosi (bukan nafsu!) untuk menuliskan kilat bayang walupun penyair telah jujur “mengecupmu tanpa nafsu” (SMS #5). Maka mohon maaf jika penelanjangan proses kreatif seorang penyair ini nantinya akan meragukan penyair dalam berproses-kutat pada masalah yang sama dengan kata lain mengulang atau mengkloning (bukan mengeloni) kilat bayang yang sebangun sehingga berakibat keraguan menuliskan pada saat kala waktu yang sama karena bagaimanapun resonansi proses penciptaan masih bergaung panas. Sayang untuk terlewatkan seperti “menghapus sisa ciuman di bibirku”.

Bagaimanapun kritik itu menyakitkan lebih bergizi daripada pujian yang akan mengambruk luluh lantakan perkembangan pribadi puisi sajak syair yang terlahir tanpa jeda.

cunong nunuk suraja

LAMPIRAN:

SMS #1

Pagi menegur Bekasi
Jalan tol mulai sibuk mengatur kata-kata yang meluncur dari para sopir
Mentari masih tinggalkan jejak merah di langit timur
Barangkali ada kalimat merdu yang ingin pagi katakan?
Barangkali rindu sudah melumat-lumat waktu yang sendu!

Apr 2010
Iwan Soekri Munaf

SMS #2

Siang mengarang.
Mentari memacu
waktu. Orang lalu
lalang. Detik
mendiam. Membisu.
Dan kata-kata
tersekat. Mata
waktu mendekat.
Rindu semakin berat.
Engkaukah yang
datang menegur
pada setiap musim
gugur? Tak ada lagi
kalimat untuk
menyambut
kedatanganMu.
Waktu pun
membeku dalam
mulutku. Tak lagi
kusebut-sebut
namaMu!

Apr 2010
Iwan Soekri Munaf

SMS #3

Malam membatu di
jalan buntu. Waktu
bergulingan di
antara aku dan
kamu. Bisu pun
merapuh di ujung
rindu. Dan mentari
bangkit dari balik
kelam, kata
menghentak ke
dalam dendam.
Malam semakin
melangkah. Menjauh.
Dan dendam
semakin menjarah.
Membunuh. Semakin
pagi tiba, suaramu
terdenga menyapa.
Aku dudujk memeluk
lutut, menunggu
waktu hanyut.

Apr 2010

SMS #4

Kemudian detik berlari meninggalkan seluruh kehangatan.
Jam berdentang ribuan kali tanpa sekalipun bias kudekap lagi.
Hari pun menjauhkan hati.
Bahkan bulan dan tahun silih berganti menghapus sisa ciuman di bibirku.
Semakin waktu, aku mencari kisah kitayang tersesat di medan rindu.
O.
Jangan lagi windu berbilang sendu, karena hasratku masih utuh.
Namun kini detik datang kembali, bukan detik dalam pelukanmu.
Jam selalu bergema memanggilmu, engkau entah di mana?
Sekali saja ingin kukatakan, aku kehilanganmu.

May 2010

SMS #5

Kemudian detik berlari meninggalkan hangatnya bibirmu.
Jam pun melengang di antara jalan berliku.
Hari ribuan kali datang dan pergi tanpa pernah membawa kabar tentangmu.
Kalau pun tahun demi tahun aku menunggu, di langkan tak pernah asa lagi derap sepatumu.
Bahkan sudah enam windu, masih juga kucari-cari.
Ingin lagi detik datang mengecupmu tanpa nafsu.
Hanya kehangatan itu yang masih kurasa.
Sampai kapan kau kembali, aku tak jemu menunggu.

May 2010

Comments

Popular posts from this blog

KRITIK EKOLOGIS DALAM PUISI "TANGISAN BUMI" KARYA SRI WURYANINGSIH

51 PENYAIR PILIHAN DALAM BANGGA AKU JADI RAKYAT INDONESIA

Puisi Andang Bachtiar