KONSTRUKSI SEKSUALITAS PEREMPUAN DALAM KEINDAHAN DAN KESEDIHAN KARYA YASUNARI KAWABATA

Oleh: Agung Pranoto

Pendahuluan

Teks sastra banyak yang merekonstruksi tubuh dan seksualitas perempuan. Rekonstruksi tubuh dan seksualitas perempuan akhir-akhir ini tidak hanya dilakukan oleh penulis laki-laki. Penulis perempuan akhir-akhir ini tidak lagi merasa ‘jijik’ ketika harus mengonstruksi persoalan tubuh, hasrat seksual, maupun relasi seksual perempuan (pinjam istilah Pakasi, 2007) ke dalam karyanya. Di dalam sastra Indonesia misalnya, kita bisa melihat bahwa kehadiran Ayu Utami melalui novel Saman (DKJ, 1998) adalah awal mula tonggak dominasi genre sastra baru di dunia ketiga, yaitu ”sastra wangi” tahun 2000-an. Namun kedatangan sastra wangi banyak yang memperdebatkan. Karena sastra wangi itu sendiri adalah hal baru, dimulai oleh Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu, dan berderet nama yang berkedok feminisme—menyatakan hak asasi berbicara masalah diri sendiri, termasuk di dalamnya Fira Basuki, Nukila Amal, Dewi Lestari, Rieke Dyah Pitaloka, Dinar Rahayu, Naning Pranoto, dan sebagainya.
.
Penulis perempuan telah memberikan wacana baru mengenai posisi perempuan di masyarakat. Perempuan selama ini dianggap tidak berhak untuk menyuarakan potensi seksual tubuh mereka, tetapi para penulis ini telah menawarkan satu pandangan baru, bahwa seks juga milik perempuan. Dalam Larung misalnya, Ayu Utami menggambarkan bagaimana persetubuhan dengan metafora yang sangat estetis dan feminis membuat pembaca berdecak kagum karena begitu indahnya penggambaran itu. Dalam hal ini seks tidak diungkapkan secara vulgar, tetapi justru pembaca mendapatkan pendidikan seks.
.
Sebab vagina adalah sejenis bunga karnivora sebagaimana kantong semar. Namun, ia tidak mengundang serangga, melainkan binatang yang lebih besar, bodoh, dan tak bertulang belakang dengan manipulasi aroma lendir sebagaimana yang dilakukan bakung bangkai. Sesungguhnya bunga karnivora bukan memakan daging melainkan menghisap cairan dari makhluk yang terjebak dalam rongga di balik kelopak-kelopaknya yang hangat. Otot-ototnya yang kuat, rerelung dindingnya yang kedap, dan permukaan liangnya yang basah akan memeras binatang yang masuk, dalam gerakan berulang-ulang, hingga bunga itu memperoleh cairan yang ia hauskan. Nitrogen pada nepentes, sperma pada vagina.

Tapi klitoris bunga ini tahu bagaimana menikmati dirinya dengan getaran yang disebabkan angin (Utami, 2007:153).
.
Sebagai ekspresi seksualitas perempuan, Ayu Utami menyuguhkan metafora yang menakjubkan, yaitu bahasa komunikasi yang menarik antara seksualitas dan ilmu pengetahuan. Seksualitas dalam metafora tersebut menurut Nasution (2006:7) begitu “puitik dan menyiratkan semangat feminism”.
.
Keberanian penulis perempuan mengungkap tentang tubuh sebenarnya merupakan upaya ekspresi diri sebagaimana telah digagas oleh Helene Cixous, Julia Kristeva, dan Luce Irigaray. Pemikir feminis ini menolak kategorisasi didasarkan pada oposisi biner yang pada akhirnya, karya-karya perempuan terpinggirkan.
.
Arivia (2003) menyatakan bahwa kebanyakan perempuan tidak menyadari bahwa tubuh perempuan adalah milik perempuan, sehingga mereka menganggap tubuh mereka sebagai “sesuatu” yang sangat asing bagi mereka sendiri. Oleh sebab itu, perempuan harus mampu menulis nilai dan keindahan melalui tubuh mereka. Perempuan juga harus mampu menciptakan puitika yang sanggup menghancurkan partisi, kelas, dan retorika. Mereka harus menyelam, membelah, melampaui wacana terbalik, yang tertinggi, termasuk wacana yang seakan menertawakan kesunyian dan ketulusan hatinya. 
.
Perempuan mengalami otoritas atas tubuhnya sebagai sesuatu yang estetis. “Tubuh perempuan yang estetis selalu menarik untuk dieksplorasi daripada tubuh laki–laki” (Sukeni, 2011:302), apalagi yang mengeksplorasi kaum perempuan sendiri. Mungkin hal inilah yang mendasari Irigaray dalam tulisannya yang berjudul When Our Lips Speak Together berusaha mengembalikan tubuh perempuan kepada tempatnya “semula” sebelum patriarki, (termasuk juga) wacana di luar perempuan yang membungkus tubuh perempuan ke dalam kategori-kategori sosial yang diciptakan budaya patriarki/laki-laki (Prabasmoro, 2007:42). 
.
Berdasarkan uraian tersebut, tulisan ini juga akan menelaah konstruksi seksualitas perempuan dalam novel Keindahan dan Kesedihan karya Yasunari Kawabata. Novelis Jepang yang telah meraih hadiah Nobel 1968 ini, dalam novel tersebut, ia mampu menyuguhkan sajian novel yang puitik, menarik dengan segala macam problematika kehidupan percintaan, sehingga menarik pula bila novel tersebut dikaji dari berbagai sudut pandang. Yasunari Kawabata adalah pengarang laki-laki. Meskipun ia pengarang laki-laki, ia mampu mengilustrasikan tubuh, hasrat, dan seksualitas perempuan secara menarik. Ilustrasi tubuh, hasrat, dan seksualitas perempuan tersebut dilekatkan melalui tokoh-tokoh perempuan, di antaranya adalah Otoko dan Keiko.
.
Sesuai dengan latar belakang tersebut, permasalahan dalam tulisan ini adalah konstruksi seksualitas perempuan dalam novel Keindahan dan Kesedihan karya Yasunari Kawabata. Berdasarkan permasalahan umum tersebut, konstruksi seksualitas perempuan mencakup (1) tubuh, (2) hasrat, dan (3) relasi seksualitas. Oleh sebab itu, permasalahan tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut: 1) Bagaimana representasi tubuh perempuan dalam novel Keindahan dan Kesedihan karya Yasunari Kawabata? 2) Bagaimana representasi hasrat seksual perempuan dalam novel Keindahan dan Kesedihan karya Yasunari Kawabata? 3) Bagaimana representasi relasi seksualitas perempuan dalam novel Keindahan dan Kesedihan karya Yasunari Kawabata?
.
Pemikiran Helene Cixous: Eksplorasi Tubuh dan Seksualitas
.
Tokoh aliran feminisme posmodern Perancis, Helene Cixous, mengontraskan gaya menulis perempuan atau l'ecriture feminine dan gaya menulis laki-laki atau l'ecriture masculine. Cixous menyadari bahwa patriarki adalah konteks kultural dan historis dengan kekuatan yang sebenarnya tidak universal akan tetapi merupakan keadaan nyata dan hal ini tidak terpisahkan dari segi estetika dan puitik (Dunn, 2006:43).
.
Teori l'ecriture feminine Cixous memberikan jalan keluar dari opresi sistem kultural, religius, seksual dan linguistik. Cixous mengajak perempuan untuk berpikir dengan cara yang berbeda tentang sejarah mereka, bukan hanya asal-usul mereka akan tetapi juga dalam hal bahasa. Perempuan harus menemukan sejarah baru, dengan menggali sumber imajinasi dan mengeksplorasi kedalamannya, sesuatu yang jauh dari gambaran cerita kekuasaan, perbedaaan derajat dan opresi, sesuatu yang akan tercermin dalam bahasa dan tubuh perempuan.
.
Cixous menarik banyak hubungan antara seksualitas laki-laki dengan tulisan maskulin, dan seksualitas perempuan dengan tulisan feminin. Seksualitas laki-laki, tulisan maskulin, menurut Cixous sangat membosankan dalam hal keterpusatan dan singularitasnya (Dunn, 2006:293). Tulisan laki-laki ini bisa dicirikan melalui argumentasi keberadaan oposisi biner, yang selalu mengasosiasikan laki-laki dengan hal-hal yang positif, sementara perempuan dikaitkan dengan hal-hal yang negatif. Oposisi biner ini akhirnya tidak hanya menempatkan perempuan dan laki-laki dalam dua kutub yang berbeda, akan tetapi juga melakukan penjenjangan. Perempuan pun kemudian dianggap hanya merupakan bagian dari laki-laki, dan dianggap inferior dari segala yang laki-laki atau dianggap laki-laki.
.
Cixous memotivasi perempuan untuk menulis jenis l'écriture féminine dengan terus mengeksplorasi masalah seksualitas, erotisme dan feminitas. Ide tulisan feminin atau l'écriture féminine yang dikemukakan oleh Cixous bisa dianggap feminin sekaligus non-esensialis. "Write yourself Your body must be heard." adalah dua kalimat yang dianggap paling mendasari teori Cixous. Menurut Cixous, tubuh perempuan sangat erat kaitannya dengan seksualitasnya dan cara bagaimana tubuh dan seksualitas itu dipandang dalam konteks budaya laki-laki (Prabasmoro, 2007:184). 
.
Dalam buku yang sama juga diungkapkan, kurang lebih teori Cixous dan Irigaray memiliki kesamaan. Mereka berpendapat bahwa tubuh perempuan seperti halnya seksualitas perempuan tidak terpusat, ada di mana-mana dan tidak di mana-mana, berbeda dengan laki-laki yang tunggal dan terpusat. Hal inilah yang mendasari pendapat bahwa seksualitas perempuan tidak dapat atau tidak seharusnya dikontekskan dalam seksualitas laki-laki. Jika seksualitas perempuan dibebaskan dari konteks laki-laki, seksualitas perempuan melahirkan bahasa baru yang berpotensi menjadi subversif karena memang tidak dikenal oleh "bahasa laki-laki".
.
Seperti diketahui, subversif berarti menggulingkan kekuasaan. Hal ini berarti bahasa perempuan dianggap membahayakan bagi keberadaan "bahasa laki-laki" yang sudah mengakar dalam masyarakat saat ini. Tapi menurut Cixous bukan inilah tujuan penciptaan bahasa perempuan. Bahasa perempuan memang memiliki potensi subversif, akan tetapi keberadaan bahasa perempuan hanya dimaksudkan untuk memfasilitasi perempuan dalam mengungkapkan dirinya, bukan untuk menggulingkan kekuasaan bahasa laki-laki dan menggantikan posisi bahasa laki-laki tersebut.
.
Mengutip penjelasan dari Aquarini P. Prabasmoro dalam buku Kajian Budaya Feminis, bagi Cixous dan Irigaray, tubuh perempuan adalah bahasa perempuan. Ecriture Féminine yang secara kasar dapat dimaknai sebagai "menulis tubuh" adalah bagian dari usaha penciptaan bahasa perempuan yang lahir dari tubuh perempuan. Menurut keduanya teks menubuhi tubuh perempuan. Setiap bagian tubuh perempuan atau bagian tulisan perempuan adalah utuh dan setiap bagian yang utuh ini menciptakan tubuh yang utuh pula. Tubuh atau tulisan perempuan seperti seksualitas perempuan tidak pernah mencapai titik akhir, tidak juga dapat direduksi menjadi satu titik tertentu pada tubuh perempuan. (Prabasmoro, 2007:185). 
.
Jika seorang perempuan mengeksplorasi tubuhnya dan menuliskannya, maka tulisan perempuan tidak terbatas. Perempuan dapat menuliskan berbagai hal, tentang feminitas, tentang seksualitasnya yang kompleks dan hal lain. Hal inilah yang menyebabkan tulisan perempuan dikatakan tidak pernah mencapai titik akhir. Karena seperti halnya seksualitas perempuan, tulisan feminin tidak tidak terbatas, lebih terbuka dan lebih beragam, lebih penuh kemungkinan.
.
Cixous juga mengatakan, seperti yang tertera dalam buku Feminist Thought karya Rosemarie Putnam Tong (1998), jika seorang perempuan menulis, ia menulis dengan tinta putih dan membiarkan kata-katanya mengalir kemana pun yang diinginkannya. Bahasa perempuan tidak mengandung sesuatu, melainkan ia membawa sesuatu. Bahasa perempuan tidak menghambat, melainkan membuka kemungkinan. 
.
Pemikiran Helene Cixous khususnya terkait dengan eksplorasi tubuh dan seksualitas perempuan tersebut dijadikan dasar pijak utama untuk menelaah teks novel Keindahan dan Kesedihan karya Yasunari Kawabata. Selanjutnya, analisis akan diarahkan pada kontruksi seksualitas perempuan yang mencakup (1) tubuh, (2) hasrat, dan (3) relasi seksualitas perempuan. Analisis terhadap ketiga hal tersebut diperlukan teori pendukung yang akan dipaparkan lebih lanjut.
..
Tubuh, Hasrat, dan Relasi Seksualitas Perempuan
.
Kajian aspek tubuh, hasrat, dan relasi seksualitas perempuan bertolak pada konsep Barthes tentang analisis semiotik. Barthes (2004) memahami idiologi sebagai kesadaran palsu yang membuat orang hidup di dalam dunia imajiner. Idiologi ada selama kebudayaan ada, dan konotasi sebagai ekspresi budaya.
.
Semiotika digunakan untuk memahami konstruksi seksualitas perempuan. Dalam hal ini Ang (1996) mencontohkan kerangka kerja semiotik dapat membantu memahami cara penyajian teks dalam membangun berbagai definisi budaya tentang feminitas dan maskulinitas yang sering bertentangan, yang memberi ruang pada pembaca untuk membangun relasi penuh makna dengan teks yang dibaca.
.
Representasi Tubuh Perempuan
.
Teks menyajikan tubuh perempuan. Tubuh perempuan sering disajikan dalam wujud yang erotis. Pola yang muncul dalam teks ini adalah tubuh perempuan yang disegmentasikan, antara lain, wajah, bibir, dada yang padat berisi, kaki yang jenjang, kulit, dan sebagainya (Pakasi, 2007:18-19).
.
Tubuh tidak dapat dilihat sebagai fenomena biologis semata, melainkan juga dibentuk, dibatasi, dan dirumuskan oleh masyarakat (Shiling, 1996). Menurut Bourdieu (dalam Shiling, 1996) tubuh adalah “penerima nilai-nilai simbolik dan fenomena materi yang membentuk dan dibentuk oleh masyarakat”. Foucault (dalam Shiling, 1996) juga memandang bahwa tubuh sebagai objek pengaturan wacana. Di pihak lain Cornnell (dalam Shiling, 1996) berpendapat bahwa “tubuh yang dikonstruksi secara sosial berdasarkan jender adalah bagian luar tubuh, yaitu konstruksi bentuk dan ukuran”. Cornnell berargumen bahwa ketimpangan dalam masyarakat terutama didasari oleh kriteria yang ditentukan secara sosial terhadap tubuh. Melalui tubuh pula manusia diajari untuk melihat perbedaan antar jenis kelamin, misalnya melalui perbedaan pakaian dan pelbagai stereotip yang mengunggulkan laki-laki secara fisik. 
.
Piliang (2004) sependapat dengan pemikiran Bourdieu yang menyatakan bahwa tubuh perempuan merupakan arena permainan tanda yang bisa dipertukarkan dengan istilah political economy of the body signs. Dalam konteks ini misalnya, tubuh perempuan seperti wajah, dada, kulit, kaki, pantat ditujukan untuk membangun citra tubuh perempuan yang seksi. Nilai tubuh perempuan dieksplorasi menjadi permainan tanda yang membangun makna tertentu, misalnya seksi, menantang, maupun bergairah bagi lawan jenisnya. 
.
Representasi Hasrat Seksual Perempuan
.
Pakasi (2007:24) berpendapat bahwa hasrat perempuan yang terbangun dalam teks adalah hasrat mendapatkan cinta dan romantisme dari pasangannya. Hasrat tersebut terbentuk berdasarkan jender. Perempuan menghasratkan cinta, sedangkan laki-laki menghasratkan kenikmatan. Di sisi lain, ada juga kontradiksi dalam teks yang juga menampilkan hasrat seks perempuan demi kenikmatan perempuan itu sendiri dan dilakukan melalui aktivitas seksual yang secara sadar ia lakukan atas keinginannya sendiri. Di dalam teks, perempuan sesungguhnya bebas menyatakan keinginan seksnya, tetapi hal tersebut akan menjadikan perempuan objek fantasi laki-laki (Pakasi, 2007:27).
.
Representasi Relasi Seksual Perempuan
.
Teks cenderung menampilkan seksualitas perempuan sebagai objek seks laki-laki (Pakasi, 2007:30). Barthes (2004) menanggapi hal itu sebagai idiologi tersembunyi yang terpantul dalam teks. Idiologi yang menempatkan perempuan sebagai objek seks dapat dijelaskan melalui mitos. Mitos merupakan sistem komunikasi, yaitu pesan yang terdiri atas tanda-tanda. Idiologi objektivikasi tubuh perempuan beroperasi melalui tanda-tanda.
.
Idiologi objektivikasi tubuh perempuan terlihat jelas pada teks yang melakukan fragmentasi terhadap tubuh perempuan: dada, mata, kulit, kaki, dan sebagainya. Fragmentasi ini mereduksi perempuan dan mendepersonalisasi bagian tubuh perempuan untuk kepentingan kepuasan laki-laki. Teks itu menampilkan tubuh perempuan sebagai objek hasrat laki-laki demi kekuasaan dan dominasi seksual laki-laki terhadap perempuan (Pakasi, 2007:30). Penyajian yang mengobjekkan perempuan oleh Zoonen (1994) disebut sebagai thanatica representation, yaitu penyajian yang memperlakukan perempuan sebagai objek dan mereproduksi dominasi laki-laki.
.
Teks juga masih secara ambigu mengontraskan hasrat seksual laki-laki dan perempuan. Menurut Pakasi (2007:30) penampilan hasrat seksual perempuan yang aktif lebih ditujukan untuk memuaskan fantasi pembaca teks laki-laki. Namun teks juga dapat menampilkan perlawanan perempuan untuk keluar dari objektivikasi laki-laki. Dalam konteks ini, Stuart Hall (1982) berpendapat bahwa teks merupakan pertarungan makna. Teks tidak menyajikan satu makna, tetapi ada beragam makna yang dapat saling bertentangan dan berkompetisi satu sama lain.
.
Dalam teks sebenarnya masih ada ruang bagi perempuan untuk melunakkan objektivikasi tubuh dan hasratnya. Dalam konteks ini dapat dijelaskan pula bahwa perempuan dapat mengubah posisi dari objek menjadi subjek. Dengan demikian bahwa relasi seksual dalam teks itu bisa objek-subjek atau sebaliknya subjek-objek, suatu relasi yang saling bergantian.
.
Konstruksi Seksualitas Perempuan dalam Keindahan dan Kesedihan
.
Konstruksi seksualitas perempuan dalam novel Keindahan dan Kesedihan karya Yasunari Kawabata, sesuai dengan permasalahan dan ancangan teori yang dibahas sebelumnya terpilah menjadi tiga bagian, yaitu (1) representasi tubuh perempuan, (2) representasi hasrat seksual perempuan, dan (3) representasi relasi seksual perempuan. Analisis dan pembahasan ketiga hal tersebut dideskripsikan sebagai berikut.
.
Representasi Tubuh Perempuan dalam Keindahan dan Kesedihan
.
Pemerian tubuh perempuan dalam teks dibangun dengan menempatkan pembaca seakan-akan menonton tubuh. Objektivikasi tubuh perempuan dalam teks yang terkesan dibuat erotis dan hal ini secara seksual dianggap oleh laki-laki menarik. Tubuh perempuan menyiratkan seni yang indah dengan segala lekuk-lekuknya. Dalam konteks tubuh ini tidak bisa dipungkiri menempatkan perempuan pada posisi tersubordinasi oleh laki-laki.
.
Dalam novel Keindahan dan Kesedihan, Yasunari Kawabata berkali-kali menampilkan tubuh perempuan. Representasi tubuh perempuan dalam teks novel tersebut, tidak ada satu pun yang menyentuh organ genital perempuan seperti vagina maupun klitoris. Representasi tubuh perempuan di antaranya dapat dibaca dalam kutipan berikut.
.
“Bukan. Tokyo. Tetapi saya jatuh cinta dengan karya-karya Nona Ueno dan datang kemari untuk mengejarnya, akhirnya dia mengajak saya untuk tinggal bersamanya.” Oki menatap wajah sang gadis. Sewaktu dia berbicara padanya di hotel, dia tidak sempat menyadari kecantikannya, tetapi sekrang dia melihat betapa cantik raut wajah gadis itu. Dia memiliki leher yang jenjang dan cuping telinga yang menawan. Semua itu berpadu serasi. Dia memang cantik….” (Kawabata, 2006:39).
.
Kutipan tersebut merupakan representasi tubuh Otoko. Otoko oleh Oki dinilai memiliki wajah yang cantik, leher yang jenjang, dan cuping telinga yang menawan. Pemerian Oki terhadap tubuh Otoko yang seperti itu melukiskan adanya nilai lebih dalam diri tokoh Otoko. Bagi Oki, sesuai dengan pengakuannya bahwa, “Otoko dalam kenangannya adalah perempuan paling menggairahkan yang pernah dia kenal” (Kawabata, 2006:38). 
.
Perempuan selalu menjadi objek tatapan mata laki-laki. Raut wajah yang cantik, leher yang jenjang, dan cuping yang menawan disegmentasikan dan diberi kode-kode seksual sebagai penanda tubuh yang seksi. Beberapa penanda keseksian itu dimunculkan oleh pengarang telah menyita waktu pada pembaca untuk membayangkan kencantikan yang mendalam pada tokoh Otoko. Secara konotatif penggambaran sisi fisik tokoh Otoko merupakan representasi tubuh yang bisa membangkitkan gairah laki-laki.
.
Representasi tubuh perempuan juga tampak dalam kutipan berikut. Kutipan ini masih terkait dengan hubungan antara Oki dengan Otoko. 
.
“Oki tinggal di rumah mereka untuk merawat Otoko. Jam demi jam dia memijit kaki dan pahanya yang keras dan membengkak karena suntikan. Ibunya keluar masuk dapur membawa handuk hangat. Otoko terbaring telanjang memakai kimono tipis. Dia masih berusia tujuh belas tahun dan memiliki sepasang paha yang sangat ramping. Suntikan itu membuat paha indah itu membengkak. Kadangkala saat dia menekan keras, tangannya merosot ke paha Otoko.” (Kawabata, 2006:42).
.
Kutipan tersebut dipertegas kembali dengan kutipan di bawah ini
.
“Bagi Oki hal itu tak akan pernah terlupakan. Lebih hidup daripada kenangan akan tubuh Otoko terbaring telanjang yang membuat mukanya bersemu merah. Dia memijat paha telanjang Otoko untuk membuatnya kembali hidup.” (Kawabata, 2006:43).
.
Representasi tubuh perempuan dalam kutipan berikut melukiskan kedua paha yang telanjang (dibalut dengan kimono tipis yang tembus pandang). Paha perempuan yang indah, bagi laki-laki memiliki daya tarik tersendiri. Paha perempuan yang lebih dekat dengan organ genital memunculkan kode gairah seksual bagi laki-laki yang melihat atau yang merabanya.
.
Representasi tubuh perempuan tidak hanya ditampakkan pada hubungan antara Oki dengan Otoko saja. Hubungan cinta antara Oki dengan Fumiko, hubungan cinta Oki dengan Keiko, dan hubungan antara Keiko dengan Taichiro juga banyak dihadirkan deskripsi tentang tubuh perempuan. Deskripsi tentang tubuh yang paling menonjol memang terkait dengan tokoh Otoko dan Keiko. Deskripsi itu selalu melukiskan tentang keindahan tubuh yang secara simbolik menghadirkan gairah bagi laki-laki. 
.
Tokoh Oki termasuk novelis yang senang berpetualang cinta. Petualangan cinta Oki dengan Otoko belum berakhir, ternyata Oki juga menjalin cinta kasih dengan Keiko, yang juga murid Otoko. Representasi tubuh Keiko dideskripsikan dalam kutipan berikut.
.
Oki menyentuh payudara Keiko yang lembut. Matanya menatap salah satu telinga Keiko.
.…
“Saya senang Anda berpikir demikian!” leher jenjangnya memerah. “Saya tidak akan melupakannya selama hidup saya. (Kawabata, 2006:104-105).
.
Kutipan tersebut merepresentasikan secara jelas tentang tubuh Keiko. Keiko memiliki payudara yang lembut dan lehernya jenjang. Payudara merupakan bagian tubuh perempuan yang bisa menjadikan dirinya seksi dan lebih percaya diri. ‘Payudara yang lembut’ secara denotatif dapat dimaknai bahwa perempuan itu memiliki payudara yang bernas, tidak keriput, dan tidak kendur. Secara konotatif, payudara yang demikian itu menyuguhkan kode/simbol daya tarik bagi laki-laki. Demikian juga leher perempuan merupakan salah satu titik simpul yang bisa menimbulkan rangsangan terhadap perempuan. Kaum laki-laki cenderung mengetahui bahwa leher juga merupakan daerah sensitif bagi perempuan. Oleh karena itu ‘leher perempuan yang jenjang’ bagi laki-laki menjadi daya tarik tersendiri dan jika dibayangkan leher tersebut disentuh (dicium) akan membuat perempuan menjadi ‘merinding’ yang akhirnya berserah diri. “Aku membayangkan apakah seorang gadis cantik bisa tahan digelitik.” (Kawabata, 2006:111).
.
Masih terkait hubungan antara Oki dengan Keiko, berikut ini dilukiskan tubuh Keiko yang memiliki gigi yang rapi, alis mata yang indah, dan bibir yang sensual. Perhatikan kutipan berikut.
.
“Aku menyukaimu apa adanya. Gigimu yang berbaris rapi dan alis matamu yang indah.” Dia mengecupkan bibirnya pada pipi keiko. Gadis itu meringis ketika kursinya terjungkir dan dia jatuh karenanya. Kini bibir Oki menempel pada bibirnya.
Sebuah ciuman yang panjang.
Dia menarik kepalanya ke belakang untuk menarik napas. (Kawabata, 2006:113).
.
Gigi perempuan yang berbaris rapi dalam kutipan tersebut merupakan daya tarik laki-laki. Gigi yang seperti itu kian menambah kecantikan perempuan. Alis mata yang indah juga ikut menyempurkan kecantikan perempuan. Bibir yang sensual, juga menjadi daya tarik laki-laki. Bahkan bibir yang sensual itu juga memberikan kode gairah seksual bagi laki-laki.
.
Representasi tubuh perempuan melalui tokoh Keiko juga dimunculkan oleh pengarang dengan mendeskripsikan keberadaan puting payudara. Hal ini tampak pada kutipan berikut.
.
Pertama-tama ia melihat salah satu puting payudaranya. Puting payudaranya berwarna merah muda, warna yang nyaris tembus cahaya…. Corak kulit Keiko tidak begitu terang, tapi warna merah muda putting susunya tampak segar dan basah, seperti kuncup bunga pada sepasang payudaranya yang berwarna krem. Tak terdapat kerutan-kerutan kecil yang buruk ataupun butiran-butiran kecil pada permukaannya yang berukuran sedang untuk menyusui seorang bayi dengan penuh kasih.
Tapi bukan hanya keindahannya yang membuat gambaran puting payudara Keiko muncul kembali di hadapan Oki. Meskipun gadis itu memberikan putting payudara yang sebelah kanan kepada Oki di kamar hotel malam itu, gadis itu mengelak memberikan yang sebelah kiri. Saat Oki berusaha menyentuhnya, Keiko menutupinya dengan telapak tangannya. (Keiko, 2006:178-179).
.
Kutipan tersebut memfragmentasikan keberadaan puting dan payudara Keiko. Puting Keiko yang berwarna merah muda menandakan bahwa putting tersebut belum terlalu banyak dijamah oleh laki-laki. Puting yang seperti itu secara denotatif diartikan milik perempuan yang masih gadis (pengertian gadis tidak selalu berarti masih perawan). Puting seperti itu secara semiotik menandakan gadis yang seksi dan secara konotatif menggugah gairah seksual laki-laki.
.
Kutipan tersebut juga merepresentasikan keberadaan payudara tokoh Keiko yang tidak semuanya boleh disentuh oleh laki-laki. Keiko telah memberikan pembatasan kepada Oki bahwa yang boleh disentuh hanyalah payudara yang sebelah kanan. Merupakan hak bagi Keiko melakukan pembatasan tersebut. Konon pembatasan tersebut dapat dimaknai sebagai pembagian kapling (wilayah). 
.
Pembatasan soal puting juga terjadi ketika Keiko menjalin asmara dengan Taichiro (anak Oki). Dalam teks payudara yang kanan boleh disentuh oleh Oki, sedangkan kutipan berikut justru payudara yang kiri yang boleh disentuh Taichiro. Perhatikan kutipan berikut.
.
Saat Taichiro mencengkeram kedua pundak Keiko yang gemetar, dia merasakan seutas tali pundak gadis itu di bawah tangannya. Dia menyelipkan tangannya ke bawah, menyingkap separuh payudara gadis itu dan kemudian melepaskan tali yang lain. Keiko bergerak maju ke arahnya, membungkukkan punggungnya sehingga kedua payudaranya terdorong ke depan. “Jangan! Jangan yang kanan. Kumohon! Jangan yang kanan!” (Kawabata, 2006:248).
.
Kutipan tersebut merepresentasikan tubuh perempuan berupa kedua payudara. Kedua payudara milik Keiko digambarkan pengarang memiliki pembagian wilayah; yang kanan untuk Oki dan yang kiri untuk Taichiro. Pembagian wilayah itu merupakan konsep yang luar biasa dilekatkan pengarang pada tokoh Keiko yang ditujukan kepada pasangannya--antara bapak dengan anak—yang menjalin cinta kasih dengannya tidak dicampur aduk.
.
Representasi tubuh perempuan dalam teks novel ini tidak sekadar menyoal wajah, cuping, paha, rambut, kaki, maupun payudara, melainkan juga dihubungkan dengan pakaian yang dikenakan perempuan. Ketepatan pakaian yang dikenakan perempuan juga semakin menonjolkan tubuh perempuan itu. Perhatikan kutipan dialog antara Keiko dan Taichiro berikut.
.
Pemuda itu tertawa meminta maaf dan melihat ke bawah, tatapannya tertuju pada obi gadis itu. “Kamu sangat mempesona, sulit kupercaya kamu ada di sini untuk bertemu seseorang sepertiku.”
“Kimonoku?”
“Ya kimono dan obimu, dan …”—dalam hati ia berkata, rambut dan wajahmu juga.
“Di musim panas terasa lebih sejuk jika aku menggunakan kimono dengan obi yang ketat. Aku tak suka pakaian yang longgar saat cuaca panas.” (Kawabata, 2006:185).
.
Kutipan tersebut dapat dijelaskan bahwa pakaian juga merupakan penunjang kecantikan seseorang. Dalam teks tersebut mata Taichiro juga tertuju pada kimoni dan obi yang dikenakan Keiko. Ketertarikan Keiko mengenakan kimono dan obi yang ketat secara simbolik merupakan cara-cara perempuan untuk membuat laki-laki menjadi tertarik. Bagi laki-laki, bila perempuan mengenakan pakaian yang ketat, justru melihat ada bagian-bagian tubuh perempuan yang semakin menonjol. Bagian tubuh perempuan yang menonjol itu dinilai sebagai pelengkap keseksian perempuan itu, selain juga bisa membuat laki-laki tergiur bahkan ‘menelan ludah’ terhadapnya.
.
Representasi tubuh perempuan dalam teks cenderung dibuat erotis. Pendeskripsian tubuh perempuan dalam teks selain menjadi penanda kecantikan dan keseksian perempuan, juga akan menjadi ramuan menarik bagi laki-laki, yang tak ayal membuat laki-laki menjadi lebih bergairah atau bahkan bisa ‘membakar darah’ laki-laki.
.
Representasi Hasrat Seksual Perempuan dalam Keindahan dan Kesedihan
.
Hasrat seksual tidak hanya menjadi dominasi laki-laki. Perempuan pun memiliki hasrat seksual pula untuk pemenuhan kenikmatan dirinya. Walaupun kenyataan secara biologis laki-laki dan perempuan memiliki hasrat seksual, namun fakta menunjukkan bahwa hasrat seksual laki-laki cenderung lebih ditampakkan dan hasrat seksual perempuan cenderung tidak ditampakkan.
.
Dalam novel Keindahan dan Kesedihan, Yasunari Kawabata juga menampilkan hasrat seksual perempuan. Representasi hasrat seksual perempuan dalam teks novel tersebut, di antaranya secara eksplisit dapat dibaca dalam kutipan berikut.
.
“Saat seorang perempuan memutuskan untuk menikahi seorang novelis, hal semacam itu tak bisa dihindari. Jika kamu harus mengkhawatirkan seseorang, maka ia adalah Otoko.”Selama masa pemulihan, kulit Fumiko tampak bercahaya dan ayu. Apakah itu keajaiban masa muda? Bahkan hasrat perempuan itu terhadap suaminya semakin hebat.” (Kawabata, 2006:63).
.
Hasrat seksual tokoh Fumiko kepada suaminya, Oki, dalam kutipan narasi tersebut dinyatakan secara eksplisit. Penggambaran hasrat perempuan yang demikian itu menunjukkan bahwa perempuan telah memosisikan sebagai subjek. Dalam konteks kutipan tersebut Fumiko sebagai subjek dan Oki sebagai objek. 
.
Hasrat seksual dimiliki setiap orang, baik laki-laki maupun perempuan. Hasrat seksual itu merupakan hal yang melekat pada diri manusia sejak mereka dilahirkan. Selain itu, hasrat seksual tersebut merupakan kebutuhan biologis yang tidak bisa dielakkan antara laki-laki dan perempuan.
.
Hasrat seksual bagi perempuan kadang-kadang timbul setelah ada sentuhan dari laki-laki, terutama laki-laki yang dicintai. Dengan sentuhan yang lembut dan romantis, perempuan akan merasakan ada dorongan yang memunculkan hasrat seksual. Perhatikan kutipan berikut.
.
“Sakiti juga aku,” katanya. Oki menatap lengannya—benar-benar seorang gadis belia--dan tangannya mulai menjelajah ujung jemari sampai bahunya. Otoko menggeliat nikmat.” (Kawabata, 2006:55).
.
Dalam kutipan tersebut tampak bahwa Otoko “menggeliat nikmat” setelah merasakan sentuhan tangan Oki yang menjelajah sampai bahu Otoko. Hal itu berarti bahwa dalam diri Otoko telah muncul hasrat seksual. Hasrat seksual Otoko timbul karena Oki sebenarnya merupakan laki-laki yang dicintainya.
.
Hasrat seksual perempuan dalam novel ini secara jelas dan tegas ditampakkan pada hubungan Keiko dengan Oki sebagaimana ada pada kutipan berikut.
.
“Cumbulah saya….”
“Tentu saja stamina perempuan lebih tinggi…” kembali Oki menciumnya lama sekali. Dengan mengambil napas sekali lagi, dia membopongnya dalam pelukannya dan membaringkannya di tempat tidur. Keiko melengkungkan tubuhnya seperti sebuah bola. (Kawabata, 2006:113).
.
Kutipan tersebut secara ekplisit menunjukkan bahwa perempuan pun memiliki hasrat seksual. Keiko yang berposisi sebagai subjek memiliki keberanian mengatakan “Cumbulah saya…” kepada Oki. Hal ini berarti bahwa perempuan tidak selamanya menjadi objek atau tersubordinasi oleh kaum laki-laki. 
.
Laki-laki dan perempuan memiliki hasrat seksual yang sama. Perbedaannya hanya terletak pada laki-laki lebih berani mendahului, sementara perempuan cenderung menunggu. Namun dalam kutipan tersebut, tokoh Keiko berani mengatakan dengan kalimat ajakan ‘cumbulah saya’. Hal ini berarti bahwa Keiko mencoba melawan diskriminasi jender bahwa perempuan pun tidak perlu harus malu-malu untuk meluapkan hasrat seksual terhadap pasangannya.
.
Representasi Relasi Seksual Perempuan dalam Keindahan dan Kesedihan
.

Relasi seksual dapat dimaknai sebagai wujud relasi kesalingbergantian antara laki-laki dan perempuan memperoleh kenikmatan seksual. Selain itu, relasi seksual juga bisa ditafsirkan sebagai siapa yang mendahului dan siapa yang didahului atau relasi antara subjek-objek dan sebaliknya. 
Secara umum teks sastra cenderung menampilkan seksualitas perempuan sebagai objek seks laki-laki. Dalam novel Keindahan dan Kesedihan karya Yasunari Kawabata ini relasi seksualitas lebih dominan laki-laki daripada perempuan. Laki-laki melalui tokoh Oki cenderung sebagai subjek dan tokoh Otoko maupun Keiko cenderung menjadi objek seks. Meski demikian, di dalam novel ini, dalam sebuah narasi juga ada yang mendeskripsikan relasi seksualitas perempuan melalui tokoh Otoko yang meregang nikmat dalam persetubuhannya dengan Oki.
.
Kutipan berikut merepresentasikan relasi seksual laki-laki melalui tokoh Oki sebagai subjek dan Otoko sebagai objek.
.
Saat itu perempuan itu baru berumur lima belas tahun dan itu merupakan kata-kata pertamanya setelah Oki merenggut keperawanannya. Oki sendiri belum berkata apa-apa. Tak ada kata yang bisa dia ucapkan. Dia memeluknya erat dengan penuh kelembutan, membelai rambutnya, tetapi dia tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun. Kemudian Otoko melepaskan tangan Oki dari tubuhnya dan mulai berpakaian. Oki bangkit, memakai kemejanya dan mulai mengikat dasinya. Otoko menatap wajahnya, sepasang matanya basah dan bercahaya, tetapi bukan karena tangisan. Oki menghindari tatapan matanya. Bahkan ketika dia mengecup gadis itu, selekasnya, sepasang mata Otoko tetap terbuka lebar sampai Oki membuatnya terpejam dengan kecupan bibirnya. (Kawabata, 2006:28).
.
Kutipan tersebut merepresentasikan relasi seksual yang menempatkan tokoh Oki sebagai subjek. Otoko yang masih usia lima belas tahun, sebagai objek, telah direnggut keperawanannya oleh Oki. Dalam konteks ini tampak bahwa dominasi relasi seksual ada pada tokoh laki-laki.
.
Di sisi lain, dalam hubungan seksual antara Oki dengan Otoko, ternyata Otoko memperoleh kenikmatan seks. Kenikmatan seks yang dirasakan Otoko itu juga membalik posisi Otoko sebagai subjek. Perhatikan kutipan berikut.
.
“Mungkin hal itu menjelaskan nafsu buta yang tak pernah terpuaskan. Saat ia meregang nikmat dan menggigit bahu pria itu, ia bahkan tidak menyadari bahwa darah kesuciannya telah mengalir”. (Kawabata, 2006:154).
.
Kutipan tersebut secara implisit merepresentasikan relasi seksual perempuan melalui tokoh Otoko. Relasi seksual perempuan terjadi setelah Otoko merasakan kenikmatan seksual yang pertama kali ia peroleh dari Oki. Pada saat Otoko dilukiskan ‘menggigit bahu pria (Oki) itu’, berati posisi Otoko yang semua menjadi objek berubah menjadi subjek.
.
Representasi relasi seksual perempuan juga tampak pada hubungan Keiko dengan Oki. Kutipan berikut merepresentasi keberadaan Keiko sebagai subjek.

Keiko kembali dan berlutut di samping tempat tidur. “Maukah kamu memelukku dan tidur sekarang?” katanya penuh bujuk rayu dengan menatap tajam wajahnya.
Tanpa sepatah kata pun Oki mengalungkan lengan kirinya pada gadis itu dan berbaring di atas punggungnya. Keiko mendekap ke arahnya dan meringkuk rapat padanya. (Kawabata, 2006:182).
.
Kutipan tersebut menunjukkan representasi relasi seksual perempuan karena Keiko-lah yang menjadi subjek. Dalam teks lebih lanjut, konteks kutipan tersebut keduanya melakukan hubungan seksual.
Teks sastra memang menghadirkan pertarungan makna. Pertarungan makna sangat ditentukan oleh interpretator. Teks tidak menyajikan satu makna, tetapi ada beragam makna yang dapat saling bertentangan dan berkompetisi satu sama lain.
.
Penutup
.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa di dalam novel Keindahan dan Kesedihan karya Yasunari Kawabata, mencerminkan konstruksi seksualitas perempuan. Konstruksi seksualitas perempuan tersebut, pertama, novel tersebut banyak merepresentasikan tubuh perempuan melalui tokoh Otoko dan Keiko dalam jalinan asmaranya dengan Oki dan juga jalinan asmara antara Keiko dengan Taichiro (anak Oki). Representasi tubuh perempuan dalam teks novel ini disegmentasikan dengan menampilkan penanda perempuan seksi, seperti raut muka, leher yang jenjang, alis mata, cuping telinga, paha telanjang, puting payudara yang masih berwarna merah muda, dan lain-lain.
.
Kedua, representasi hasrat seksual perempuan dalam novel Keindahan dan Kesedihan dimunculkan melalui keinginan tokoh Otoko dan Keiko untuk menyalurkan hasrat seksual dengan pasangannya. Pendeskripsian hasrat seksual perempuan dalam novel ini tidak begitu menonjol bila dibandingkan dengan pendeskripsian hasrat seksual laki-laki. Ketidakmenonjolan dialog maupun narasi tentang hasrat seksual perempuan karena lebih disebabkan oleh kecenderungan perempuan untuk mendapatkan cinta, kasih-sayang, dan romantisme dari pasangannya, sementara hasrat seksual laki-laki lebih mengarah pada diperolehnya kenikmatan seksual. 
.
Ketiga, representasi relasi seksualitas perempuan dalam Keindahan dan Kesedihan, oleh Yasunari Kawabata masih didominasi pada laki-laki sebagai subjek. Relasi seksual perempuan sebagai subjek dalam novel ini masih tetap dimunculkan oleh pengarang namun tidak mendominasi.
.
.
DAFTAR PUSTAKA
.
.
Ang, Ien. 1996. Living Room War: Rethinking Media Audience for a Postmodern World. London: Routledge.
Arivia, Gadis. 2003. Filsafat Berperpektif Feminis. Jakarta: Yayasan Jurnal Perempuan.
Barthes, Roland. 2004. Mitologi. Penerjemah Nurhadi dan A. Sihabull Millah. Yogyakarta: Kreasi Wacana.
Hall, Stuart. 1982. “The Rediscovery of Ideology: Return of The Repressed in Media Studies”, dalam M. Gurevitch dan J. Woollacott (ed.), Culture, Society, and the Media. Beverly Hills: Sage Publication.
Kawabata, Yasunari. 2006. Keindahan dan Kesedihan. Penerjemah: Sobar Hartini. Yogyakarta: Jalasutra.
Nasution, Ikhwanudin. 2006. “Sastra dari Perspektif Kajian Budaya: Analisis Novel Saman dan Larung”, dimuat dalam Jurnal Ilmiah Bahasa dan Sastra, Volume II No.1, April 2006.
Pakasi, Diana Teresa. 2007. “Tubuh, Hasrat, Relasi: Konstruksi Seksualitas Perempuan dalam Majalah Laki-laki”, dalam Pola dan Silangan Jender dalam Teks Indonesia. Lisabona Rahman (Penyunting). Jakarta: Yayasan Kalam.
Piliang, Yasraf Amir. 2004. Hipersemiotika: Tafsir Cultural Studies atas Matinya Makna. Yogyakarta: Jalasutra.

Comments

Popular posts from this blog

KRITIK EKOLOGIS DALAM PUISI "TANGISAN BUMI" KARYA SRI WURYANINGSIH

51 PENYAIR PILIHAN DALAM BANGGA AKU JADI RAKYAT INDONESIA

PUISI LUGU NOORCA MARENDRA