KONTEMPLASI DI BALIK PUISI "DI SAAT DETIK AJAL TIBA" ROVAL ALANOV

Oleh: Agung Pranoto

Melalui lembaga formal maupun tidak formal kita diajarkan berbagai persoalan hidup. Realitas kehidupan pun begitu jelas di depan mata soal: gelap-terang, pria-wanita, siang-malam, hitam-putih, baik-buruk. Di luar itu juga kita yakini soal ada-tiada atau hidup-mati.
Dalam menjalani kehidupan, manusia sering terjebak pada eforia yang dikungkung oleh dominasi hasrat yang mengalahkan rasio. Manakala manusia pada posisi berada, manusia sering lupa adanya dosa. Lebih-lebih kekayaan itu diperoleh tidak dengan cara memeras keringat, kecenderungan manusia menaikkan gaya hidup dan tidak sedikit pula yang terjebak pada soal alkohol, narkoba, maupun liang nirwana.
Di sisi lain kita banyak menjumpai perilaku yang menyimpang dari norma yang ada, terutama norma agama. Banyak manusia yang bersifat "aji mumpung" dengan berperilaku korupsi, sewenang-wenang, dan semua itu lebih diarahkan pada kepentingan memperkaya diri. Ada pula kepandaian tetapi memunculkan sikap yang angkuh, sombong, merasa paling pintar, meremehkan masukan dari orang lain. Ada pula kepandaian yang malah digunakan tidak baik seperti hacker, membobol bank, memalsu dokumen negara, dan lain-lain.
Manusia hidup harus sadar diri bahwa ajal akan datang tiba-tiba dan tidak bisa diprediksi waktunya. Semua perbuatan manusia akan menjadi bahan kalkulasi sebagaimana yang kita yakini. Oleh sebab itu apakah manusia tidak sadar diri bahwa ada "Sang Pengintai" (pinjam istilah Indra Intisa) dalam kehidupan manusia?
Allah berfirman dalam An-Nisa: 78 sebagai berikut "... di mana pun Anda berada maka kematian akan menjemput Anda". Hal ini diperjelas dalam An-Nahl: 61 bahwa "Maka jika datang waktu kematian mereka, tidak bisa mereka tunda dan mendahulukannya sedetik pun".
Mari kita berkelana dengan puisi Roval Alanov berikut.
DI SAAT DETIK AJAL TIBA
Oleh : Roval Alanov
hidup di hujung waktu
melantunkan kidung kemahaan
antara ada dan tiada
terkurung pada ilusi tak pasti
pandai jadi semu
akal jadi patah
tergores luka menganga atma
meniti resah yang mengambang
ajal mendekat, amal pun punah
sekarang apa kemampuan kita
saat teori dah tak berfungsi
mampukah membaca amal diri
atau menulis dosa diri
hanya ruang kosong
hilang semua nama yang terbanggakan
manusia dalam atmosfir halusinasi
Petaling Jaya
Jumat, 181215
Kuala Lumpur
Puisi Roval "Di Saat Detik Ajal Tiba" menyiratkan tentang filosofi kefanaan atau ketidakabadian. Kita melalui puisi itu diingatkan pada renungan (kontemplasi) di balik yang tersirat.
Apa dan bagaimana renungan yang bisa kita tambang dari puisi tersebut?
Pertama, "hidup itu di hujung waktu". Artinya manusia harus sadar diri bahwa keberadaannya dihantui oleh kecemasan bahwa sewaktu-waktu ajal akan tiba. Saat ini kita tampak segar bugar namun beberapa menit kemudian tidak tahu apa yang akan terjadi. Hal ini dipertegas oleh Roval "antara ada dan tiada terkurung ilusi tidak pasti".
Kedua, terkait dengan konteks ajal "pandai itu semu / akal jadi patah". Artinya bahwa kepandaian setinggi langit pun jika ajal tiba manusia tak mampu berbuat apa-apa. Dalam keadaan ini maka kecerdasan akal pikiran manusia tak bermakna apa-apa kecuali dipaksa tunduk pada kehendak-Nya. Masihkah manusia menyombongkan kepandaian diri?
Ketiga, ketika ajal tiba maka perbuatan manusia pun berhenti. Artinya ajal merupakan batas akhir kehidupan di dunia dan manusia tidak punya waktu lagi untuk meratapi atas dosa-dosa yang telah diperbuatnya.
Keempat, ketika kita sadar diri akan datangnya kematian secara tiba-tiba, pernahkah kita sadar diri membuat daftar dosa yang pernah kita jalani dan pernahkah kita membaca amal diri kita? Manusia masih banyak yang lupa diri dan lambat dalam introspeksi.
Kelima, ajal merupakan saat pupusnya nama orang yang kita banggakan. Yang tersisa hanyalah kenangan dan kenangan ini sifatnya sementara pula.
Keenam, manusia hendaknya tidak terjebak pada halusinasi. Artinya, halusinasi itu berada pada dunia "awang-awang", dan berbeda dengan tindakan nyata. Dialam menjalani hidup manusia hendaknya tidak hanya berandai-andai melainkan pada kesadaran akan adanya Yang Maha Mengatur dan manusia harus tunduk serta berserah diri.
Kontemplasi di balik puisi di atas tentu penuh renungan yang dalam yang selayaknya menjadi perhatian ketika manusia berposisi kuasa, bergelimang harta, dan sebagainya.

Comments

Popular posts from this blog

KRITIK EKOLOGIS DALAM PUISI "TANGISAN BUMI" KARYA SRI WURYANINGSIH

51 PENYAIR PILIHAN DALAM BANGGA AKU JADI RAKYAT INDONESIA

Puisi Andang Bachtiar