KRITIK EKOLOGIS DALAM PUISI "TANGISAN BUMI" KARYA SRI WURYANINGSIH

Oleh: Agung Pranoto 

Untuk ke sekian kalinya persoalan ekologi/ekologi lingkungan termasuk ekologi kelautan dalam teks sastra (puisi) telah saya telaah melalui beberapa grup sastra. Telaah ecocriticsm misalnya telah saya lakukan secara terpisah terhadap puisi Eko Windarto, Puisi YS Sunaryo. Telaah ekologi kelautan secara panjang lebar saya lakukan terhadap puisi penyair Indonesia dari Riau --generasi ketiga setelah Sutardji Calzoum Bachri dan Ibrahim Sattah-- yakni berjudul "Representasi Kelautan dalam Puisi-Puisi Abdul Kadir Ibrahim". Telaah tersebut objeknya diambil dari puisi yang dimuat di antologi Hari Puisi 2016 dengan judul buku Matahari Cinta Samudra Kata (2016).
Kali ini, melalui Grup Dapur Sastra Jakarta (DSJ), tanggal 28 Juli 2017, Sri Wuryaningsih mengunggah puisi berjudul "Tangisan Bumi". Puisi ini menyuarakan kesedihan, kenestapaan Sri Wuryaningsih terhadap hadirnya teknologi modern yang dinilai tidak ramah lingkungan. Terkait dengan puisi tersebut, saya teringat pernyataan penerbang Amerika Serikat, Charles A. Lindberg: "manusia harus memahami bahwa mengenal bumi berarti mengenal dirinya sendiri, juga mengenal nilai-nilai kehidupan; Tuhan membuat hidup kita mudah, tetapi manusia yang mempersulitnya". Pernyataan tersebut renungan bagi kita, juga tamparan bagi yang meremehkan tentang bumi dalam pengertian luas.
Puisi yang menyoal sastra hijau atau ekologi lingkungan, masih tetap menarik untuk kita cermati mengingat bahwa kehidupan manusia, disadari atau tidak, sangat bergantung pada lingkungan. Tanpa kehadiran lingkungan, manusia tidak bisa hidup. Lingkungan memiliki kontribusi penting pada kelangsungan hidup manusia.
Persoalan ekologi lingkungan dalam hubungannya dengan teori sastra postmodernism dikenal dengan istilah ecocriticism. Di Indonesia, kalangan akademisi menamakan teori ekologi sastra yang kini merambah pada kurikulum di jurusan atau program studi di Perguruan Tinggi sebagai suatu matakuliah tersendiri dengan nama Ekologi Sastra. Teori ini relatif baru dalam dunia sastra, setidaknya termasuk teori sastra yang muncul pada abad 20-an. Dalam esai ini, sengaja tidak dipaparkan lagi pencetus teori tersebut dan bagaimana perkembangannya. Sebab hal itu beberapa kali telah dipaparkan pada tulisan saya sebelumnya. Sekadar menyebut nama yang terlibat dengan hadirnya ecocritcism yakni Gairin, Buel, Coupe, Glotfelty & Fromm, Garrard, Kerridge, dll.
Teori ekologi sastra menitikberatkan pada kajian sastra yang menghubungkan antara sastra dan berbagai persoalan ekologi. Tentu saja dalam kajian ini diarahkan pada berbagai indikator, di antaranya: representasi ekologis, kearifan ekologis, dan kritik ekologis.
Sebelum kita menelaah lebih jauh tentang kritik ekologis dalam puisi Sri Wuryaningsih, di bawah ini disajikan secara utuh tentang puisi yang dimaksud.
TANGISAN BUMI
Mataku menatap jauh
Dentang waktu membangunkan lamunanku
Menggeliat dan terseok-seok
Dalam kesendirian
Tertatih tatih kaki melangkah
Demi mengais sejumput
Harapan dan pengabdian
Aku terjaga oleh gemuruhnya suara mesin
Wahai bumi raut wajahmu kian pilu
Terjabik
Bumi pun menghiba menangis
Wahai manusia hentikanlah
Dentuman suara yang semakin membahana ini
Surya dan rembulan selalu berputar
Wajah bumi berselimutkan jelaga
Raunganmu mengiris hati
Wahai bumi
Simpanlah hatimu
Derai tangismu dalam diam
Maafkan kami
2872017
Puisi di atas terdiri atas empat bait. Masing-masing bait berisi jumlah baris yang tidak sama. Diksi yang dihadirkan merupakan diksi yang sederhana; diksi keseharian. Puisi tersebut dari sisi substansi ide atau inspirasi yang mendasari terciptanya puisi termasuk puisi yang menyuarakan kritik ekologis.
Jika kita cermati dari sisi judul puisi "Tangisan Bumi", dua kata yang menjadi judul itu tidak bermakna denotatif. Bumi tak bisa menangis. Judul itu memendarkan makna konotatif. Kata "tangis" yang disandingkan dengan kata "bumi" digunakan penulis puisi sebagai ungkapan kesedihan yang mendalam atas perilaku manusia terhadap bumi (lingkungan).
Selanjutnya, bait 1 puisi tersebut merupakan pembuka atau prolog, atau hantaran menuju gagasan/ide utama yang substansial. Bait 2 si aku lirik merasakan terdengarnya kegaduhan yang bersumber dari deru mesin (tentu saja terdengar keras). Dalam konteks ini, interpretasi pembaca mengembara pada ranah makna (meaning) yang dalam ilmu linguistik termasuk ilmu semantik. Frase "deru mesin" dalam puisi tidak menunjuk referensi mesin tertentu melainkan bisa terkait dengan mesin yang lain seperti suara mesin motor, mobil, alat pemotong pohon, dan lain-lain. Selain itu, baris puisi "Bumi pun menghiba menangis" merupakan bahasa kias yang melukiskan benda mati seolah-olah hidup, seolah-olah memiliki perasaan sedih layaknya manusia.
Bait 3, baris 1, suara mesin itu semakin membahana (keras) dan pada baris 3 "raunganmu mengiris hati" merupakan kunci utama khususnya dalam konteks pemaknaan atau penafsiran. Baris puisi tersebut menunjukkan kejelasan tentang atmosfir atau suasana tak enak, tak nyaman yang bermula terdengar di telinga hingga merasuk di hati.
Bait 4 merupakan epilog puisi yang seakan si aku lirik melakukan komunikasi satu arah dengan "bumi" sebagai komunikan. Komunikasi itu menyiratkan suatu kesejukan yang diakhiri dengan permohonam maaf atas ulah manusia.
Puisi yang menggunakan bentuk ungkap sederhana itu, menggunakan diksi "bumi" sebagai titik pusat. Diksi "bumi" merupakan metafora yang menandakan karya puisi yang berhubungan dengan lingkungan (ekologi). Tentu saja kata "bumi" tidak hanya menunjuk pada tanah tempat kita hidup dan berpijak melainkan harus dimaknai beserta seluruh isi bumi tersebut. Jika pemahaman kita tentang bumi itu utuh maka tak bisa ditepis bahwa puisi di atas sangat berkaitan dengan ekologi sastra.
Jika kita mencermati aspek kearifan ekologis, puisi Sri Wuryaningsih tersebut mencerminkan sikap dan pandangan penyair tentang ketidaksetujuan hadirnya deru mesin pada bumi ini.
Mengapa penyair cantik yang berdomisili di Wonosobo ini tidak suka dengan suara mesin yang membahana? Tentu saja ada alasan yang mendasari yaitu (1) bunyi keras mesin membuat telinga, hati, dan pikiran tidak nyaman; dan (2) mesin dengan suara keras terkait dengan polusi yang bisa mengganggu kebersihan udara dan ini lambat-laun berpengaruh pada perubahan iklim dan rusaknya lingkungan.
Selanjutnya, melalui puisi di atas, terdapat pula kritik ekologis. Kritik ekologis itu berkaitan dengan ulah manusia yang bisa merusak lingkungan. Membunyikan mesin dengan suara yang keras tidak dibenarkan. Sebab hal tersebut mengganggu lingkungan sekitar.
Demikianlah uraian sekilas tentang puisi "Tangisan Bumi" dari salah satu perspektif teori. Ada kemungkinan sangat terbuka bila siapa pun hendak menelaah puisi tersebut dari teori lainnya secara terpisah-pisah; bisa pula secara eklektif.
Paparan tulisan ini tidak menghadirkan kritik atas teks puisi melainkan semata-mata untuk menyemangati kegairahan dalam berproses kreatif.
Surabaya, 30 Juli 2017

Comments

Popular posts from this blog

51 PENYAIR PILIHAN DALAM BANGGA AKU JADI RAKYAT INDONESIA

PUISI LUGU NOORCA MARENDRA