KRITIK SASTRA CYBER TANPA KASTA TAK BERKASTIL

Oleh: Cunong Nunuk Suraja

Pendahuluan

Bahasa tercipta untuk saling menukar gagasan dan menjelaskan makna angan-angan di kepala yang kadang tergelincir jadi salah tanggap. Sastra merupakan hasil limbah otak yang disalurkan dalam wacana yang semula hanya bunyi bagi manusia purba yang tidak memunculkan penilaian yang termaknai sebagai kritik. Di masyarakat yang mengandalkan wacana bunyi - layaknya ujaran language is a sound or a sign - kritik terejawantah dengan melakukan perubahan atau pengembangan dengan melengkapi wacana nenek moyang bukan melakukan penilaian uji ulang atau pembongkaran sepenuhnya. Jadilah budaya lisan yang santun memoles menambal dan mengelus bukan merombak membrontak tatanan yang sudah tergelar beratus-ratus tahun pewarisan kekayaan kearifan budaya moyang dengan tanpa pergeseran kuasa berdarah - hanya epos kepahlawanan yang penuh wibawa dan bijak.

Perkembangan jumlah anggota masyarakat yang sehat kuat menjadikan keperluan pemenuhan kebutuhan meningkat dan perubahan musim menjadikan hambatan pemahaman hubungan antar wacana lisan. Muncullah peristiwa perubahan wawasan lisan menjadi tulis. Catatan demi catatan menjadi prasasti yang merupakan saksi sejarah peradaban. Loncatan waktu menyisakan barang budaya tulis semisal puisi dan sejenisnya. Jejak sastra tulis terlihat dari peninggalan candi dengan prasasti lewat batu atau kulit binatang maupun kulit kayu dan lontar. 

Komputer dan Kearifan Budaya

Menjadi modern atau kekinian dengan adanya penemuan mesin uap hingga adanya serat optik yang menghantarkan semua informasi secara cepat dan lengkap dan bebas dimanfaatkan. Maka ketika awal millennium dengan kecemasan angka tahun dua digit kembali ke nol nol terjadilah heboh yang tercatat dengan kegelisahan dan kegalauan pada mesin komputer yang bergerak ke ujung angka nol nol. Seperti yang tercatat dalam makalah pendek berikut:

Menengok ke belakang saat tahun 2000 yang menggegerkan dunia teknologi atas titi mangsa pada komputer yang dikawatirkan akan crash karena angka tahun kembali pada ujung angka 00 yang ternyata hanya polah kapitalis untuk menjual dagangan programnya sesuai dengan kecurigaan yang menurut Baker (2003) yang dikutip Ignatius Haryanto dalam artikel tentang Cultural Studies “Menimbang Kembali Imperialisme Kultural dalam Konteks Globalisasi Kebudayaan Awal Abad ke -21” imperialisme kultural berasal dari homogenisasi budaya dalam proses globalisasi dari kapitalisme konsumtif yang menghilangkan keragaman budaya. … imperialisme kultural merupakan hasil kesatuan proses ekonomi dan budaya yang juga termasuk dalam kapitalisme global. (Mudji Sutrisno dan Hendar Putranto.Editor.tanpa tahun.Cultural Studies: Tantangan bagi Teori-teori Besar Kebudayaan.Depok: Penerbit Koekoesan, halaman 55) Tesis homogenisasi budaya ini juga digarisbawahi Seno Gumira Ajidarma (2008) dalam catatan esai Kentut Kosmopolitan bahwa homogenitas bukanlah satu-satunya penyebab yang membedakan kebudayaan urban misalnya dengan kebudayaan tradisional, yang seolah-olah menjadi mudah disiasati karena masyarakatnya yang homogen. … justru dalam kebudayaan urban, iklim industri memberlangsungkan homogenisasi. (halaman 188).

Dari titik kegalauan inilah muncul kelompok sastra cyber (silakan pilih untuk penulisan yang mau diacu: siber, saiber, elektronik, internet untuk menandai sastra yang terlahir dalam sarana hubungan komunikasi maya atau internet) yang semula ditengarai sebagai ‘tong sampah’ karya yang ditolak redaksi koran (bisa ditilik di buku Saut Situmorang. 2004. Cyber Graffiti: Polemik Sastra Cyberpunk.Yogyakarta: Jendela bersama YMS) tetapi saat ini semua media koran dan majalah menggunakan sarana on line untuk penerbitannya. Pertanyaannya menjadi keranjang sampah besar yang mana yang merupakan tempat buang limbah penolakan hasil suntingan redaksi media cetak? Sayangnya juga yayasan yang bermula mengibarkan bendera perlawanan itu sudah tinggal gema dan gaung sejarah karena sebuah persekutuan atau perkumpulan hanya akan erat dan kuat saat mendapat tekanan, ketika ketegangan yang datang dari luar hilang pecahlah kekerabatan dan berjalan di rel masing-masing menuju sasaran dan target yang berbeda seperti juga kelompok Manifest Kebudayaan yang sekarang terbelah-belah seperti amuba.

Lalu cara menilai dan mengukur kemampuan sastra cyber (pilihan istilah jatuh pada kata cyber untuk kelihatan gagahnya, sedang tentang makna kembalikan pada Kredo Sutardji Calzoum Bachri  saja!) boleh dilakukan dengan segala teori yang ada dan yang sering mudah meramunya adalah dengan sudut kajian budaya atau hubungan antar wacana. Maka tak pelak jika membandingkan kadar sastra dengan karya sastra yang sudah tercetak dalam buku atau koran. Di sini letak ketinggalan wawasan penulis sastra cyber yang rata-rata tidak memiliki tradisi baca sastra sebelumnya sehingga dengan marah mencak-mencak tiwikrawa Rahwana mereka akan lantang berujar ‘saya tidak pernah membaca karya sastra cetak/buku/koran!” jika karya mereka (penulis satra cyber) terendus gaya atau langgam atau aksen pengkarya sastra sebelumnya yang sudah dalam bentuk tercetak. Jejak ini yang mestinya dijembatani oleh pakar ahli teori seni, sastra dan sejarah berdasarkan akademik yang senantiasa berbenturan dengan pelaku seni dan sastra di luar kampus sejak zaman kelompok penulis Bulaksumur - Malioboro, Rawamangun - Pasar Senen hingga kota dan pedalaman serta sekarang cyber - cetak.

Peneraan kajian budaya  mestinya akan menyangkut pada kearifan budaya lokal  maupun tradisi yang senantiasa berbeda karena batasan letak georafis dan etnis. Melalui paparan kajian budaya akan tampak wilayah yang melahirkan karya cyber akan memantulkan warna lokal maupun mitos-mitos dan legenda-legenda yang memperkaya ungkapan bahasa atau menjadi mind setter-nya.

Hal yang mengejutkan adalah pencarian pola tuang puisi karena efek puisi pendek Sitor Situmorang: Malam Lebaran  maka tercatat ada pola puisi dengan nama 2,7 (dukotu), Panatha, 517, Sonian (berdasar pada penggagasnya Soni Farid Maulana ) dan terakhir muncul (Oktober 2015!) Syair Syiar AkusukA. Tentunya pola-pola ini akan bermuara pada bentuk sastra klasik gurindam dan karmina maupun pantun. Apakah para penggasgas ini menelusuri jejak puisi pendek yang juga ada imbas dari puisi pendek Jepang yang dikenal dengan haiku?  Hingga saat ini pola tuang puisi ini belum tersentuh akademisi untuk diuji-ulang kekuatan dasar filosofinya yang tentunya akan bermuara pada puisi klasik semacam gurindam, karmina maupun pantun atau haiku Jepang.

Kuasa Ideologi

Mengutip paparan Daniel Hutagalung dalam “Hegemoni, Kekuasan dan Ideologi’dimuat pada Diponegoro 74: Jurnal Pemikiran Sosial, Politik dan Hak Asasi Manusia, No. 12. Oktober-Desember 2004; [k]uasa dimaknai sebagai otoritas subyek atau juga bentuk dominasi subyek atau institusi terhadap subyek lainnya. Meskipun dalam ranah pemikiran mengenai kuasa perdebatannya masih belum berujung pada titik temu, namun dari perbedaan tersebut bisa kita lihat bagaimana konsep kuasa berkembang. Lalu dari dua konsep hegemoni dan kuasa, bagaimana kita bisa menarik sebuah relasi yang berkaitan dan logis antara satu dengan lainnya? Bagaimana bisa menjahit dua konsep tersebut dalam sebuah analisa mengenai hubungan kuasa dan hegemoni? Di bagian terakhir ini saya mencoba untuk melihat keterkaitan kedua konsep tersebut, ditambah dengan konsep ideologi, yang dalam pandangan saya tidak dapat dipisahkan dengan hegemoni dan kuasa. (http://www.academia.edu/4149115/Hegemoni_Kekuasaan_dan_Ideologi), yang nantinya dalam sastra cyber terlihat tidak adanya kuasa tunggal semacam editor, penyunting maupun kritikus, penulis dan penikmat/pembaca. Korelasi pembaca - penulis - kritikus sangat terbuka dan cair atas kemerdekanan sifat dunia maya. Kata ‘hegemoni’ ini telah diletuskan Saut Situmorang sejak awal menandai gerakan penerbitan karya dari penulis cyber pada penerbitan buku antologi puisi Graffitit Gratitude (2001) oleh Yayasan Mutimedia Sastra (YMS). Kata ‘hegemoni’ menjadi daya tolak membebaskan karya mengalir apa adanya seperti disarankan pengantar buku puisi YMS berikutnya oleh Asep Sambodja (2005) Les Cyberlettres. Dari sini tampak keraguan sesama cyborg untuk mengkaji karya cyber baik secara apresiasi maupun kritik berdasar teori akademik. Walau kemudian pelaju peluncur dunia maya yang bergelar doktor sastra membukukan catatan apresiasinya yang diberi label Kritik dan Resensi Sastra yang dalam pengantarnya menuliskan bahwa [f]okus utama dalam mengulas puisi dalam buku ini adalah faktor kenikmatan membaca teks sastra, jadi terkadang memang tidak peduli apa kata teori kritik sastra dalam hubungannya dengan strategi mengulas sastra atau puisi dan cerpen khususnya. Dan ternyata, dengan menikmati karya di Facebook ini mendatangkan dampak positif bagi pembaca dan bagi dunia sastra Indonesia. Dengan membaca karya-karya puisi dan cerpen di dalam Facebook ini, hubungan batin sesama anak bangsa menjadi dekat, tak terintangi oleh batas ruang dan waktu. Di samping itu, kembang setaman sastra Indonesia juga mekar bersemi dengan indahnya karena ternyata begitu banyak karya yang muncul secara bersama-sama dan continue, tidak perlu menunggu terbitnya buku yang terkadang memang membutuhkan waktu terlalu lama, dan bahkan kendala biaya yang tak mampu dipikul oleh si penulisnya. (Esti Ismawati, 2014: vii - viii) Sedangkan Dimas Arika Mihardja (2015: 5) menekankan memuat uraian ikhwal dua nilai utama sastra (indah dan bernakna) itu. Tentang keindahan-keindahan dalam sastra, juga kemanfaatan-kemanfaatan yang bisa dipetik dari sastra. Buku ini bukan kumpulan gagasan tanpa acuan yang jelas, sebaliknya teori-teori yang dipakai para penulis menjadikan buku ini memiliki muatan ilmiah, sekalipun dibawakan dengan penuturan yang santai dan tidak kaku laiknya buku-buku teori sastra pada umumnya. Jelaslah para cyborg yang menolak hegemoni kuasa ideologi memanfaatkan kemerdekaan dengan seluas-luasnya termasuk kritik anti teori sastra (walau hal ini sangat muskil dilakukan dalam ranah akademis!) ditambah dengan perwakilan akademisi (dua doktor sastra Indonesia) yang seakan mengabai-acuh-nafikan adanya teori yang sudah ada walau dari barat sekalipun datangnya. Demikian juga dengan Sapardi Djoko Damono (2014) mengantarkan bukunya Bilang Begini, Maksudnya Begitu menjelaskan [b]uku ini bukan buku teori sastra tetapi semacam ajakan untuk mengapresiasi puisi dengan pengenalan akan sejumlah alat kebahasaan yang dimanfaatkan penyair untuk menyampaikan sesuatu yang bisa saja berupa cerita, gagasan, sikap, suasana, dan sebagainya. (halaman 3). Berbeda dengan Imron Tohari yangng menggunakan diagram alur (flow diagram) membedah suatu karya secara apresiatif. 

Pilihan Mendasari Jejak Ruang Kritik Sastra Cyber

Dengan menunjukan dua buku yang dapat mewakili sikap kritis penulis dan penggiat sastra cyber maka kembali kajian budaya adalah landasan yang mungkin dapat diterapkan untuk mengangkat derajat kekustaan tanpa kastil karya-karya yang terserak di laman-laman, Facebook, grup diskusi maupun blog-blog yang dengan bantuan mesin pintar Google dapat dicari jejaknya yang kadang juga hilang tak berbekas jika pengelolanya sudah menjadi ‘mendiang’ atau non aktif. Pendekatan kajian budaya yang juga bersifat terbuka akan menjembatani pembaca dengan penulis jika kelak ketemu jejak sejarah atau mitos maupun legenda yang mungkin seperti puisi pendek Sitor Situmorang yang merujuk pada gurindam, karmina dan pantun serta haiku Jepang. Jejak itu melahirkan pola tuang puisi dengan segala variasinya.

Pola tuang 2,7 yang menurut catatan dalam file grup disebutkan Puisi Pola 2,7 (dua larik, tujuh kata) merupakan penamaan puisi hasil upaya kreatif Imron Tohari. Keberhasilan mas Imron pertama-tama bertumpu pada penamaan puisi (Puisi Pola Tuang 2,7). Puisi 2,7 meskipun bukan sesuatu yang baru, dapat dianggap baru sebab diberi nama 2,7 oleh mas Imron. Pencarian pola tuang puisi ini mesti secara budaya atau cultural dicermati karena kebutaan akan pemahaman budaya akan memusnahkan bahkan mengaburkan periodisasi sastra yang sering berhubungan erat dengan perubahan wawasan politik atau peristiwa besar dalam sejarah manusia semacam penemuan mesin hingga era komputerisasi yang dilecehkan sebagai perangkat mendekatkan yang jauh tetapi menjauhkan yang dekat karena kesibukan melayani perdentang-dentingan bunyi pemeringat dari gawai di telapak tangan menandai adanya gelombang cyber yang menyasar.

Pola lain yang disodorkan Imron Tohari adalah pola tuang Panatha:
Secara singkat akhirnya saya putuskan bait dua dengan nafas pantun, karmina, dan gurindam. Atau mana nantinya yang lebih kuat mempengaruhi alam bawah sadar penyairnya. Namun kalau saya sendiri lebih condong pada gaya ungkap pantun atau karmina, tapi saya ingin bait I dan Bait II tetap tidak putus, namun sebelum masuk pada inti bait II yang merupakan simpulan dari bait I, ibarat musik ada semacam introduksi terlebih dahulu. Dan saya pandang sampiran pada pantun bisa melaksanakan fungsi peran yang saya maksudkan dengan tujuan bait I (pertama) yang cenderung full konkret-imajis mendapat efek musikalitas yang memperkuat nada masing-masing baris bait pertama

PANca saptA asTHA
PANA-THA; tidak abadi-menyucikan
PANATHA; Pranata

PANATHA--PANca saptA asTHA

5 = pañca
7 = sapta
8 = aṣṭha

BAIT I
Baris pertama: lima suku kata idea awal—yang berkaitan dengan unsur sensoris (berkaitan dengan indra)
Baris kedua: Tujuh suku kata perluasan idea/gambar dari idea awal baris pertama
Baris ketiga: Tujuh suku kata perluasan idea/gambar dari idea awal baris pertama
Baris keempat: Tujuh suku kata perluasan idea/gambar dari idea awal baris pertama—wajib ada satu bentuk kata yang merujuk pada kata kerja atau kata sifat, ini penting untuk rangsangan energi yang menjadikan gerak hati dan gerak pikir tidak dalam keadaan stagnasi.
Baris kelima: Lima suku kata yang merupakan gema/kesan dari empat larik awal ayat/bait I.

BAIT II
Baris keenam: Delapan suku kata --------- sampiran/ menghadirkan introduksi musikalitas
Baris ketujuh: Delapan suku kata --------- isi merupakan simpulan perasaan dari lima larik awal ayat (Bait I).delapan suku kata adalah batasan minimal pantun, karmina, dan gurindam dalam tiap lariknya.

Catatan:Bait I bebas, atau tanpa rima
Bait dua Wajib Rima akhir aa atau bb, ciri khas pantun Melayu
(https://www.facebook.com/notes/padma-panatha-444/panatha-pengenalan-sebuah-konsep/476681369165366)

Pola tuang berikutnya dikenalkan pola tuang Puisi 517 yang menurut catatan Muhammad Rois Rinaldi —awalnya dinamakan Puisi Sujud—telah digagaskan oleh Syafrein Effendi Usman pada 13 Januari 2013 dan diperkenal melalui beberapa grup puisi di Facebook pada 13 Julai 2013/5 Ramadan 1434. Dengan acuan jumlah shalat lima waktu. Di mana jumlah larik mengikuti jumlah shalat dalam satu hari satu malam, yakni lima larik. Kemudian jumlah kata mengikuti jumlah rakaat shalat dalam satu hari satu malam, 17(tujuhbelas)  kata. Untuk judul, diwajibkan hanya mengandung 1(satu) kata. Hal ini dikorelasikan dengan tauhid yang terkandung dalam surat Al-Ikhlas: Katakanlah: Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. (Pin post pada https://www.facebook.com/groups/Puisi517/)

Pola yang menggunakan nama penemunya atau penggagasnya adalah sonian - Soni Farid Maulana adalah puisi sepanjang empat baris yang saya kreasi dengan pola 6-5-4-3 suku kata perlarik. Semakin bawah seorang penyair menulis sonian, maka semakin sulit, karena kata-kata yang dibutuhkan semakin sedikit jumlahnya. Hal ini dimaksudkan, agar puisi yang ditulis dalam bentuk ini tidak pecah, melainkan kian fokus pada pengalaman batin macam apa yang ingin diekpresikan. Jika diibaratkan dengan mata panah yang terbalik, maka jelas sudah, bahwa kian bawah kian runcing adanya. (https://word.office.live.com/wv/WordView.aspx?FBsrc=https%3A%2F%2Fwww.facebook.com%2Fattachments%2Ffile_preview.php%3Fid%3D334378863422225%26time%3D1444875219%26metadata&access_token=100000395104756%3AAVKA06ANegG6PD81yM4D-uAyACs-BLV8e247IyKG9eZHNg&title=Apa+itu+Sonian.docx)
[d]angding asmarandana berbeda dengan dangding kinanti. Perbedaan tersebut bukan hanya pada tema, tetapi juga pada jumlah suku kata perlarik yang ditulis oleh para penyairnya. Dangding asmarandana yang mengungkap cinta kasih, atau persoalan-persoalan asmara yang ditulis terdiri dari 7 larik. Masing-masing terdiri dari 8-i, 8-a, 8-e atau o, 8-a, 7-a, 8-u, dan 8-a suku kata. Sedangkan danding kinanti, terdiri dari 6 larik. Masing-masing larik terdiri dari 8-u, 8-i, 8-a, 8-i, 8-a, dan 8-i. Isi dari larik tersebut biasanya menggambarkan rasa khawatir, penantian, dan rasa sayang.

Sekaitan dengan itu, puisi sonian tidak ditulis dari tradisi semacam itu, walau dalam penulisannya punya pola tuang dengan suku kata tertentu pula. Puisi sonian adalah puisi sepanjang empat baris yang saya kreasi dengan pola 6-5-4-3 suku kata perlarik. Semakin bawah seorang penyair menulis sonian, maka semakin sulit, karena kata-kata yang dibutuhkan semakin sedikit jumlahnya. Hal ini dimaksudkan, agar puisi yang ditulis dalam bentuk ini tidak pecah, melainkan kian fokus pada pengalaman batin macam apa yang ingin diekpresikan. (https://www.facebook.com/notes/sonian/sonian-dan-pertumbuhan-puisi-indonesia-kini/420677941438764)

Lalu Anton De Sumartana menawarkan pola lain yang sangat erat dengan tanggal keramat bangsa Indonesia yakni 17-8-45. Sehingga terbentuk pola 45 17 8 yang berbeda dengan pola tuang sebelumnya yang lebih mengandalkan jumah suku kata atau kata dengan latar belakang budaya yang diakui mereka sebagai penggagas merupakan jejak sejarah literasi bangsa. Sedang Anton De Sumartana mendasarkan pada permenungan di bulan penuh rahmat bernama Ramadhan.
Syair Syiar 4 5, 17, 8 lahir sebagai bentukbaru,
berbeda dengan bentuk pantun/puisi lama bersajak terikat irama,
susunan larik persamaan bunyi.
Syair Syiar dilahirkan guna memenuhi kebutuhan kehidupan
yang cenderung sibuk serba cepat dengan menyajikan karya kesenian
kembali ke kesederhanaan, mengarah kepada fitrah, polos,
apa adanya, hingga terasa: praktis, nikmat, mencerahkan.
Karena kesederhanaan adalah keindahan, pelahir karya Empu.
Syair Syiar 4 5, 17, 8 hendaknya menjadi karya kebutuhan spiritual,
mewujud sebagai Kebudayaan memperteguh Peradaban Bangsa.
(https://word.office.live.com/wv/WordView.aspx?FBsrc=https%3A%2F%2Fwww.facebook.com%2Fattachments%2Ffile_preview.php%3Fid%3D798089936980242%26time%3D1444875943%26metadata&access_token=100000395104756%3AAVImTUaZ4-tHH8T3Rc6gHcyr3xIKdzEEBRW5_1C49vtlKQ&title=SEHIMPUNAN.docx)

Melihat perkembangan penelusuran jejak lama dan memunculkan pola yang berkait berkelidan dengan pola tuang puisi ini maka wawasan akan sejarah sastra Indonesia dan dunia akan sangat memepengaruhi kejelian penelusuran kerja kreatif penulis cyber yang sudah secara alami tanpa batas geografi dan etnis juga ideologi kuasa maupun menyadari akan keterkaitan dengan kearifan budaya mereka masing-masing.  Kajian budaya yang longgar akan meruangkan pemandangan dan penguasaan akan latar belakang budaya penulisnya sehingga pameo tentang pengarang sudah mati selesai menuliskan titik tanda baca akhir karyanya jadi buyar. Jejak budaya adalah jejak yang tak terhapuskan walau Sodom dan Gomora  sudah dibalik buminya dan terkubur sebagai tanda kekuasaan ilahi.

Penutup

Tak ada teori sastra yang tak akan mempan menerobos jejak kekaryaan sastra cyber. Semua kerja kritis akan menandai karya sastra sekecil apapun termasuk sastra cyber yang disudrakan.

Bogor, 15 Oktober 2015

Comments

Popular posts from this blog

KRITIK EKOLOGIS DALAM PUISI "TANGISAN BUMI" KARYA SRI WURYANINGSIH

51 PENYAIR PILIHAN DALAM BANGGA AKU JADI RAKYAT INDONESIA

PUISI LUGU NOORCA MARENDRA