LARIK-LARIK KATA (2016) BUKU SAJAK DHARMADI TERBACA SENAFAS LANSIA

Oleh: Cunong Nunuk Suraja

Dalam buku Seno Gumira Ajidarma (2015) Obrolan Urban Tiada Ojek di Paris diprakatai [Kehidupan] urban, yang pertumbuhannya memang dibentuk pergulatan berbagai kepentingan, dengan segala keambaradulan yang diakibatkannya, adalah lahan subur untuk memeriksa usaha memapankan peradaban, dan membongkar mitosnya, agar kebudayaan bisa dilanjutkan. (hal 14) Maka tak heran jika penyair mulai mengunggah  keluhannya di muka buku dalam puitisasi yang riuh seriuh burung-burung migran yang mennghidari pergantian musim yang makin njekut. Demikian Dharmadi menorrehkan bait yang kikir nafas panjang tak lebih dalam satu elahann nafas manula yang menanjaki tangga mall tannpa bantuan mesin elektrik traveler maupun kotak pengangkat lift yang sangat boros energy.

Kumpulan puisi bertarih 2016 ini dibuka dengan tiga larik sajak saja:

68

sampai angka berapakah umur
hidup terus berjalan meninggalkan pangkai
menuju ujung
dan apa tentang hidup itu sendiri

2016

Judul angka memang menyaran pada usia penyairnya dan mempertanyakan kegelapan kehidupan setelah titik kematian Misteri yang tak sesiapa pun dapat menjawab kecuali mengurai segala maccam isyarat yang menndahuluinya maupun setelah peristiwa mati terjadi oleh yang disebut sebagai manusia waskita. Dan berturut-turut Dharmadi mengolah isyarat dalam elahan nafas manuslanya usai menaikki tangga tanjakan rumah persinggahan ‘mampir ngombe’.  Seperti membicarakan pennyair juga memaknai sajak sebagai kelahiran itu sendiri terungkap dalam:

sajak 1

begitu sajak dilahirkan dibiarkan
berjalan sendiri agar menemu kedewasaan sejati

2016

Sehingga harapan disapanya kumpulan puisi pada pembacanya sunngguh seperti mengahrap gemas mengemas cemas karena sebagaian besar kita hanya membaca ‘mampir ngombe’ tanpa mengunyah apalagi mencernna pesa penyair yang mulau menapaki kemisterian kehidupan sesudah peristiwa ajal. Maka sajak-sajak itu “berjalan sendiri” setelah “membaca alam” meraih “puncak/menemu kosong” di rak buku “membaca diri” membiaskan “penghuni tak saling sapa”.
Perjalanan demi perjalanan menyebrangi peristiwa demi peristiwa terrbuncah di tepian palaing tepi dari senggal nafas sebelum semuanya membuka misterinya:

di keranda

di atas pundak pelayat aku mendengar binccang-
       bincang lirih tentangku mayat agak berat
aku sedang menempuh perrjalanan jauh ke sana
tak mungkin dapat berbalik lagi
2016

Seno pun berujar kembali dalam esainya di buku”Tak ada Ojek di Paris” [Tentu] dunia tidak akan menjadi kiamat dengan ini. Selama kita tidak terlalu percaya kepada media massa dalam pengertian  untuk selalu bersikap kritis – karena sikap kritis inilah yang akan memmbawa emansipasi. Artinya bahwa di hadapan media kita berada dalam posisi setara sebab memang sadar akan adanya konstruksi makna hegemonik yang dapat selalu dibogkar (hal  202).

Media internet pun menjadi pulasan sajak-sajak penyairnya yang sealu mengeluh di lahan muka buku yang bebas tanpa batas apapun dan merdeka semerdekanya kecuali pemilik aplikasi ‘membunuhnya’

Catatan siang seusai lunch di Bogor 2080 setara 14 Nov 2017

Comments

Popular posts from this blog

KRITIK EKOLOGIS DALAM PUISI "TANGISAN BUMI" KARYA SRI WURYANINGSIH

51 PENYAIR PILIHAN DALAM BANGGA AKU JADI RAKYAT INDONESIA

Puisi Andang Bachtiar