LIMA SAJAK NANANG SURYADI YANG JALAN DI TEMPAT

Oleh: Cunong Nunuk Suraja

Di laman Nanang Suryadi: http://www.litera.co.id/2017/02/13/puisi-puisi-nanang-suryadi/ menyodorkan lima sajak teranyarnya walau secara nyawa-ruh -jiwanya tetap seperti sajak terdahulunya yang penuh hulu ledak ungkapan terkendali. Ada baiknya saya sandingkan dengan sajak teman seperinternetan saat rezim Yayasan Multi Media Sastra (YMS) masih suka bergoyang ala K-Pop ataupun Dangdut Pantura yakni Rukmi Wisnu Wardani

Rukmi Wisnu Wardani

BERHATI-HATILAH HAI KAU PARA BETINA! (1)

berhati-hatilah hai kau para betina
ketika mereka menertawai payudaramu yang rendah
apalagi ketika dikatakannya milikmu sama rata
dengan papan cucian di rumah orang tuanya
lalu dipuji-pujinya dada babu kakak iparnya
siapa tahu milik mereka sama mungilnya
dengan burung anak tetangga
-RWW-

BERHATI-HATILAH HAI KAU PARA BETINA! (2)

berhati-hatilah hai kau para betina
ketika bokongmu tak lagi mampu bangkitkan birahi mereka
lalu dikatakannya goyangan pinggulmu sama dengan lambaian penutup alas meja
kemudian dimimpikannya seonggok daging gempal dibalik
kain mbakyu jamu langganan bini mertuanya
siapa tahu diam-diam mereka remas bantal peyot milik neneknya

-RWW-

Dahsyatnya ledakan bom imaji milik Rukmi Wisnu Wardanii lebih menggejala dan membenam segala teori sastra yang menyumbat mata pena penyihir makna dalam literasi ceramah tentang makan makna kasur rusak surak rakus kuras saruk sukar sakur. Dani mama ikan panggilan legendaris mitologi bagi penyair “betina” bergelar insinyur ini memang bukan sejenis penngelola sastra wangi yang dulu juga meliar-bringaskan segala libido diksinya. Dani lebih memilih berdiksi ria yang semena-mena menuju anjungan puncak mandiri cipta ilusi puisi Tidak banyak penyair sekalibernya yang mampu memuncaki daya unngkap yang memang lugas dan sesua tuntunsn Kamus Besar Bahasa Indonesia.  Berbeda dengan Nanang Suryadi yang pejantan tulen dari Pulau Merak berumah jadi imitasinya Ngalam Kera denga latar ilmu ekonominya lebih memilih daya saing dengan ilmu penawaran dan permintan pasar mengacu pada tokoh iolanya yang dulu sering disemiotikakan dengan berkuncir kepala dengan botol kosong birnya sebagai perambah sejati dengan pendahulu yang sudah membabad jalan lempang menuju hutan belantara kata-kata maka pulasan sebagaimanapun warna dasar Nanang Suryadi bukan sejenis warna liris Linus Suryadi AG walau secara ‘marga atau nama fam atau leluhur” (?) sesama klan Suryadi (Hmmm apa iya yang satu di tengah yang lain di ujung barat Pulau Jawa!?) Simak dengan seksama sajak berikut:

(1) AWAS

Awas tukang kipas, serunya. Aku tak melihat seorang pun membawa kipas. Udara hujan. Dingin. Untuk apa kipas? Nanti masuk angin.

Udara panas pun tak ada yang membawa kipas, gumamku, terlebih ini udaranya dingin.

Lalu siapa yang tadi.berseru awas tukang kipas? Dia mengingatkan kipas yang semakin langka atau bagaimana? Dia mengingatkan orang tentang pembuat kipas, pengguna kipas atau penjual kipas.
Ada pernah kudengar film karena tak pernah kutonton: kipas kipas cari angin. Mengapa angin dicari? Siapa yang menculik?

(Kipas angin menderu. Di ruangan penuh rencana. Udara terasa demikian panas.g Hujan menderas di luar).

Perpaduan yang kempal antar diksi yang semakin lincah memainakan tanda Tanya dan tanda seru sebagi informasi tanda menjadikan sajak ini mempolitisir suasan pemabaca teraduk kipas yang dapat menjadi senjata wanita maupun sebagai peraga tarian di atas pagung sandiwara kata-kata. lincahnya tuju imaji ini menandakan semakin matangnya wawasan penyair pada nilai sasar suatu gagasan dalam bentuk misteri makna Nanang Suryadi memang sudah mampu menjadikan resep dasar liris imajis dan gelap terangnya sajajak penyair terdahulu semacam Sapardi Djoko Damono dan Goenawan Mohamad walau kulit ari Sutardji Colzoum Bachri tak kunjung terkelupas . Justru di ditulah tersimpan hulu lendak terkendalinya berondongan diksi sajak Nanang Suryadi yang terakumulasisebagai jati diri.
Lain lagi dengan sajak kedua kuyup dengan  lirika yang mencoba berkelit bukan prosa liris atau imajis tapi tetap saja penggnaan senja yang melonkolik itu menjerumuskan Nanang Suryadi jadi persis penyair tua yang rabun senja: ‘mungkin puisi enggan datang kepadamu, penyair yang gagal menangkap isyarat, tanda-tanda, yang berulang disampaikan. cerminmu terlalu berdebu’. Karena kilat bayang sebagaimana Subagio Sastrawardoyo menamai letupan imaji puisi selalu dayang walam wujud isyarat yang sangan sumir dan samar.

Sayang pada puisi ketikanya akan pudar menjadi ‘salad words‘ (rujak kata) karena tumpukan kata ini semajam jajaran wayang kulit yang terpampang di samping kanan kiri kelir sang dalang dan wayang yang terjajar ini jarang dimainkan makan sajak ketiga ini kalah pamor dengan sajak betina Dani (RWW) mama  ikan di atas. Demikian juga sajak keempatnya yang sekan menubruk cermin retak di kamar nenek tua di desa yang tak berlistrik apalai berinternet. sebuah sekam petani yang terbakar saat pagi dan senja sebagai saran pengusir nyamuk semat: ‘Hari ini, kau menulis puisi/Menjenguk diri sendiri//Nun jauh di dalam diri’

Sebagai sajak pungkasan kali ini walau belum dalam nemtuk antollogi yang lebih mentereng dan keren, menjadikan sebagai ungkapan maaf atau apologia penyaor atas capaian estetiknya pada sajak ‘Awas’ yang lebih bergizi dan punya daya gigit yang berbisa. Sajak ini adalah anti klimaks bagi penulisan lima sajak ini jika tercoret serempak sebagimana telor ayam yang dieram tidak semua akan menetas menjadi ayam jagoan untuk disabung-adukan Simak saja seutuhnya:

(1) DIAM DIAM ADA YANG KEMBALI

Diam diam ada yang kembali ke gedung itu
Diam diam sajalah jangan berisik jangan gaduh
Diam diam ada yang kembali ke gedung itu
Diam diam duduk di singgasana
“Diamlah kau, penyair, jangan berisik
Aku berdiam di gedung ini menyuarakan suaramu.”
Di seberang jalan, di seberang gedung itu
Seorang pengamen memetik gitarnya:
“Buaya.buaya di dinding, diam diam merayap
Hup… lalu ditangkap”
Setelah itu, udara demikian senyap

Mohon diri untuk kembali ke dalam sarang labirin imajinasi sendiri.

Bogor diguyur hujan Maret 2017 ketujuh

Comments

Popular posts from this blog

KRITIK EKOLOGIS DALAM PUISI "TANGISAN BUMI" KARYA SRI WURYANINGSIH

51 PENYAIR PILIHAN DALAM BANGGA AKU JADI RAKYAT INDONESIA

Puisi Andang Bachtiar