MEMUNGUT IMAJI SAJAK-SAJAK NANANG SURYADI YANG TERCECER

Oleh: Cunong Nunuk Suraja

Sudah lama tidak melakukan mengorek kotak limbah di sudut layar laptop maupun computer meja. Kebringasan memburu kecepatan saji Facebook menjadikan abai pada ceceran karya yang biasanya di zaman kertas sudah jadi abu atau bungkus gorengan.

Sampah lebih dari dua tahun tersodorkan dan menarik untuk dikunyah dikuliti seperti juga membaca puisi yang makin genit dengan polesan gambar tatoo foto dalam pantun kilat model Jepang haiku.

Puisi yang kata Sapardi Djoko Damono dalam buku ‘Bilang Begini Maksudnya Begitu’ puisi itu berita yang tertata dengan suatu cara dan memaknai dengan bunyi sebagaimana mantra yang diucapkan para pawang atau dukun yang terkadang makna ditinggalkan yang penting berirama maka tak heran jika penyair Nanang Suryadi juga menuliskan yang dimaksud dengan puisi seperti pawang mengusir hujan. Misalnya seperti puisi berikut:

PENYAIR DAN PUISI

“kita pura-pura menjadi penyair, karena tak tersisa kamar di rumah sakit jiwa” tulisnya suatu ketika

puisi menyimpan sepinya. hingga derum memanggilnya kembali. ke jalan yang lapar

“pagut aku, sepiku. hingga ngelangut hati, melarutlah segala karut marut”, ujarnya meradang

puisi tetap bangkit, dari kematian demi kematian ingatan, dan kehendak menghapuskan segala kenangan

Menengok kembali hal yang dimaksudkan apresiasi sastra yang tertulis dalam buku ‘Bilang Begini Maksudnya Begitu’ maka dapat dimengerti bentuk seperti yang ditawarkan Nanang Suryadi ini adalah bentuk puisi bukan berita atau cerita tetapi tentu ada unsur pesan. Gaya berpuisi seakan berpantun inipun dapat dilacak dengan membagi sebagian barisnya  sebagai sampiran dan sisanya isi kalau mau, tetapi karena sikap moderen yang bebas biasanya cederung tidak mau kembali ke kulit kepompong tradisi puisi klasik atau kuno atau lama. Akan lebii jelas bentuk pantun kilatnya pada  puisi berikut:

NASEHAT YANG PERLU DIDENGAR

jangan terpaku pada masa lalu,
karena sesungguhnya kita punya masa depan

ADA SAAT

ada saat kita menggamit senja, ada saat kita digamit senja, dan puisi menera
kita bertukar tempat, bertukar peran, memainkan lakon takdir
 
GAPAI PASIR MEMANGGIL

demikian jenuh demikian penuh. aduh demikian gaduh

sebutir pasir menggapai memanggil, ombak memburu, memecah rindu pantai landai

KOSONG

kita sama melebur menghancur jumawa diri

kita melebur di titik nol: puncak sunyi diri sendiri

KUPU-KUPU DI BUKU WAKTU

di buku waktu, seseorang melukis bunga matahari. seekor kupu-kupu hinggap di lembarnya

seekor kupukupu terbang dari dalam buku dongeng. sayapnya basah, menggelepar di atas kertas . seekor kupukupu terperangkap jaring sepi

Kalau ditilik dengan lekat, pantun modern ini masih menyisakan pola dan ciri sampiran serta isinya atau katakanlah ini gurindam yang selalu memenuhi dengan pesan sebab akibat.

Secara kilat dan cepat sepertinya pilihan kata yang berantakan logika dan sitaksisnya maupun struktur makna tetapi sejatinya puisi ini mengalami masa yang dikenalkan Subagio Sastrowardoyo sebagai atavisme.

Nanang yang kumuh sekumuh-kumuhnya dengan bayang-bayang kredo puisi yang dibebaskan makna menjadi mantra oleh Sutardji Calzoum Bachri ternyata sudah sejak lama menyatakan jati dirinya lebih ke Amir Hamzah yang diakui sebagai ‘simbah’nya penyair modern Indonesia.

Sedang sisa sajaknya yang ada merupakan reinkarnasi dari tiwikramanya karya klasik menjadi modern dengan ‘casing’ tetap berpantun. sebagai contoh sajak berikut:

URBAN

kota menawarkan gedung dan jalan raya, pada kuning padi yang rebah
kota menawarkan asap hitam dan bising suara. pepohonan ranggas, menangisi nasibmu

kota-kota selalu menyihir, bahkan kepadamu penyair, yang menulis syair getir

“kota-kota menawanmu, sepanjang jalan macet, hidup habis di jalan raya” ujar burung dari dalam hapemu

Pengualangan yang menjadikan penajaman ini upaya pelebaran makna sampiran yang dimulai dengan diksi yang sama ‘kota’.

Begitulah kata penyair begini kata penyinyir bemahkota pengritik!

Bogor- 19 Nop 2015

Comments

Popular posts from this blog

KRITIK EKOLOGIS DALAM PUISI "TANGISAN BUMI" KARYA SRI WURYANINGSIH

51 PENYAIR PILIHAN DALAM BANGGA AKU JADI RAKYAT INDONESIA

Puisi Andang Bachtiar