MENYIBAK ‘SUKMA’ PUISI Hj HARISHARIS Hj HAMZAH DAN RIMA RE (PASANGAN PENYAIR SINGAPURA)

Oleh: Agung Pranoto
(Lecture in Wijaya Kusuma Surabaya University, Indonesia)

/1/
Bergelut di Cyber sastra, sungguh indah, lebih-lebih berjumpa dengan pasangan penyair Singapura, Hj Harisharis Hj Hamzah dan Rima Re. Pasangan ini termasuk pengemban amanah pada Grup Dirgahayu Sastra Nusantara (Temasek), salah satu grup yang menjembatani penyair di sesama akar Melayu, tentu bersama Latty Latisa, Pauziah Mat Hassan, Mazlan Noor, Paul Arie, Roval Alavov, dan Yudi M Barzah, dan lain-lain.
.
Ada ketergelitikan di hati dan pikiran untuk mengetahui lebih jauh, bukan pada kiprah, melainkan lebih diarahkan pada puisi-puisi yang ditulis oleh pasangan penyair ini. Sebelum masuk ke pengembaraan makna dan kreativitas pasangan penyair ini, ada baiknya kita simak dulu catatan salah satu penyair senior Malaysia, yang mengamati kepenyairan pasangan tersebut. Penyair senior dari Malaysia, Noramin Mosyi Mosyi, menulis, “Hj Harisharis Hj Hamzah dan Rima Re, sentuhan-sentuhan puisi mereka, penuh meta yang amat dicemburui oleh penyair-penyair tua sesaingku. Aku juga begitu, aku turut mencemburui kehebatan muda-mudi ini, namun cemburuku amat berbeda…Muda-mudi ini hidup di zamannya, dan aku sendiri 'menumpang hidup' kerana zaman dan kegemilanganku telah berakhir dan berlalu”.
.
Berdasarkan pendapat Noramin Mosyi Mosyi tersebut, dapat ditengarai bahwa pasangan penyair tersebut memiliki ‘kehebatan’ dalam karya puisi maupun kiprah dalam dunia sastra. Telaah berikut mengungkap puisi berbahasa Melayu pasangan penyair Singapura, yang berpangkal tolak dari sampel beberapa puisi yang mewakili masing-masing penyair. Di dalam penelaahan ini, tidak diarahkan pada perbandingan dua penyair, melainkan diarahkan pada perebutan sukma puisi. Selain itu, kupasan ini tidak diarahkan pada kritik terhadap teks puisi untuk melihat kelebihan (kualitas) dan kelemahan puisi, melainkan lebih diarahkan pada kupasan yang bersifat apresiatif.
/2/
James Reeves berpandangan bahwa puisi adalah ekspresi bahasa yang kaya dan penuh daya pikat. Bahasa merupakan sarana ekspresi bagi penyair. Melalui bahasa puisi, kita dihadapkan pada penelusuran ruang makna tersurat di balik yang tersirat. Kemampuan menemukan makna yang tersirat itu menuntut pada kepekaan dan kedalaman menyigi untaian deretan kata yang indah. Jika kemampuan ini kita curahkan sepenuh hati pada teks puisi, tentu cepat atau lambat bisa kita temukan kekayaan dan daya pikat di balik ekspresi bahasa tersebut.
.
Bagaimana puisi penyair Singapura Hj Harisharis Hj Hamzah? Penyair Haris melalui puisi “Utopis?”, mempertanyakan hal-hal di balik seni sastra (puisi). Ada semacam kegelisahan pada seorang Haris selama berkecimpung di dunia kepenyairan, yakni gagasan yang ideal tentang satra (puisi), yang tidak sekadar rajutan kata yang indah, mendayu, bermajas/berkias, melainkan harus berpangkal tolak pada ‘akal budi’. Puisi (karya sastra) hendaknya mampu menyihir terhadap perubahan akal budi: //Marilah mengenali/Yang belum mencari/Arti sakti akal budi.../Pada nurani Manusiawi/Ada di kemerahan hati.//. Terkait dengan hal ini, penyair Haris ingin menyadarkan juga kepada para pekerja seni kreatif puisi agar sinergi antara moral dalam teks puisi dan moral dalam diri penyar. Simak kutipan ini: //…Sekali lagi/ Retoris.../ Bertinta waras/Di kertas.....//.
.
Di dalam puisi berjudul “Utopis?”, moralitas karya dan moralitas penyair seharusnya seiring sejalan. Penyair jangan hanya menampilkan ‘kewarasan’ di atas kertas semata, melainkan di dalam kehidupan sehari-hari harus mencerminkan muatan positif sebagaimana yang ia tuliskan. Lalu, pada judul, mengapa dilekatkan dengan tanda tanya (?), jawabannya adalah diulang-ulangnya kata “retoris”. Artinya, retoris itu merupakan kalimat tanya yang tidak perlu dimunculkan jawaban, melainkan semua terpulang kembali kepada individu masing-masing penyair. Kata “utopis”, utopia merupakan sesuatu yang diidealkan. Dalam konteks puisi tersebut, kegelisahan Haris mungkin saja atas dasar banyak penyair yang tidak seiring sejalan antara akal budi di teks puisi dengan akal budi dalam kehidupan sehari-hari. Bukankah puisi itu sebagai suatu seni dan seni itu menghaluskan budi serta seharusnya manusia akan semakin beradab?
.
Menikmati puisi “Utopia”, ingatan saya tertuju pada tulisan Jamal D. Rahman dalam esainya “Al-Quran, Penyair, dan Lembah”, yang melaporkan tentang Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) VII yang telah berlangsung di Singapura, 29-30 Agustus 2014, mengambil tema “Menjejaki Akar Sejarah Kewibawaan dan Perkembangan Dunia Perpuisian Nusantara”. Ada 15 makalah dibentangkan dalam forum yang dihadiri penyair, sarjana sastra, dan peminat sastra dari Indonesia, Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Thailand itu. Salah satu topic yang dibentangkan dalam diskusi adalah “Kepenyairan dan Perpuisian Islam dengan Rujukan kepada Surat Asy-Syu’aro (Para Penyair) dalam Al-Qur’an”. Pemakalah pada sesi ini adalah Ustad Abdul Manaf Rahmat (Singapura), Prof. Dr. Bukhari Lubis (Malaysia), dan Prof. Dr. Abdul Hadi W.M. (Indonesia), dengan moderator Prof. Dr. Syed Khairudin Aljunied (Singapura).
.
Surat Asy-Syu’aro’ (Para Penyair) (QS, 26: 224-227) menegaskan kritik Al-Quran terhadap perilaku negatif para penyair. Menurut Al-Quran, para penyair itu diikuti oleh orang-orang sesat, dan secara metaforis menurut Jamal D. Rahman, dikatakannya sebagai “mengembara di setiap lembah”. Dikatakan pula bahwa para penyair hanya mengatakan hal-hal yang mereka sendiri tidak mengerjakannya. Dengan kata lain, apa yang dikatakan penyair hanyalah omong kosong belaka. Tapi ayat terakhir menegaskan tentang penyair yang mendapat pengecualian, yaitu orang-orang beriman, beramal saleh, banyak mengingat Tuhan, dan membela diri bila dizalimi.
.
Selanjutnya, dalam puisi berjudul “Santet III”, Haris menyayangkan pada masyarakat modern masih banyak orang yang mengagung-agungkan soal ilmu ‘klenik’. Bait 1 puisi tersebut: “//Apabila okultismemu/ Menjadi eulogi/Tepuk kuduk /Bukan aplaus sanjungan../ Makanya/Bernafsu iblislah/Kamu berpoyang/Di alam gelap..”//dilukiskan Haris tentang keberadaan ilmu santet (okultisme) yang masih disanjung (eulogi) pada peradaban modern ini, tentu manusia masih bernafsu iblis. Lebih-lebih jika hal ini menjadi //…euforia gila// (bait 3), maka manusia semakin meninggalkan //…Di jalur radiah benar /tiada peduli..//(bait 2). Bait-bait berikutnya, penyair mengajak pembaca pada kesadaran untuk kembali pada jalan yang diridhohi oleh Tuhan. Ajakan Haris ini sebenarnya, renungan yang dapat kita petik yakni kesadaran akan kembalinya kepada Yang Maha Pencipta. Seperti halnya jika kita membaca kumpulan puisi Duka-Mu Abadi karya Sapardi Djoko Damono, maka kita harus bisa merasakan, yakin, dan tahu bahwa Duka-Mu Abadi bisa menjadi bahan renungan guna memenuhi kebutuhan rohani kita; atau pinjam istilah Djoko Saryono “permenungan tentang kemahasegalaan Tuhan”.
.
Persoalan duniawi memang beraneka ragam yang dapat dijadikan subject matter dalam penulisan karya sastra (puisi). Persoalan tersebut serasa tidak pernah habis digali sebagai sumber inspirasi. Namun semua itu sangat bergantung kepada sejauh mana kepekaan penyair di dalam menangkap fenomena yang ada. Senada dengan puisi “Santet III”, simak pula puisi berikut:
.
MATA BERKUTUK HATI BERSETAN
Begitu indah alam maya semesta
Dikaranya embun mendingin sukma
Namun.. ada debu diasap mata
Pada jiwa di relung hambar terbakar
Bagai sutera di dalam lukisan tergambar..
Dilupa-biar
Gaflat melebar....
Biar celur jaragau ada lagi di umbun umbun
Janganlah si cerdik terkedik
bingung terjual..
Tekadku bulat
biar tersekat terjerat
Sudah matiku tiada kesal
Lukaku tiada menyiuk
Dogmaku mati tidak bersumpah
Hidupku tidak kerana kaul
Dalam banyak rintang melintang lembah
Yakinku tetap tak tergaul
Hormatku sentiasa
Walau telingamu terbakar
Mukamu menyala..
Kutetap tegak
Pada yang datang
Di nafas sekelumit
Kupohon kaudongaklah ke langit
Biarlah aku seperti pohon bambu..
Ditiup angin sampai berpalu dan lalu..
Aku bukan sekerat ular
Sekerat belut
Di medan bergelut
Aku bukan kamu
Menjual petai hampa...
Mahupun terjual tangkal
Dengan cangkul
Pada Maha Mengetahui
Di situ sujud
Dan kakiku berdiri..
Salam santun jua kusembah
Kerana mati kita
Tidak bersumpah..
KotaCina
Temasek
Puisi “Mata Berkutuk Hati Bersetan” tersebut dari sisi judul ada dua kata kunci yakni “mata” dan “hati”. Dalam kehidupan, dua kata kunci itu berpadu, saling mengait dan tentu harus dikendalikan oleh nalar juga agar tidak terjebak arus dari sesuatu yang kasat mata. Mata yang dikaruniakan Tuhan kepada manusia akan melihat hal-hal yang di depan kita. Bagaimana manusia menyikapi terhadap hal-hal yang tampak itu. Akankah mata kita didorong oleh rasa/nafsu-nafsu yang lalu kita menjadi larut atau tergiur ke hal-hal yang tidak baik? Sementara hati juga bisa ikut membantu menuju jurang keterperosokan jika manusia tidak mampu mengendalikan. “Hati bersetan” hanyalah kias tentang manusia yang dirasuki sifat-sifat sebagaimana yang disenangi setan.
.
Menghadapi kenyataan hidup seperti itu, manusia harus kembali kepada hakikat hidup. Roval Alanov lewat puisi “Hidup” menyatakan bahwa “Hidup dan kehidupan hanyalah alur menuju ajalnya”. Dalam sekali makna baris puisi itu. Oleh sebab itu, hakikat beragama dan kehidupan duniawi ini sebenarnya bukan sekadar syariat yang begitu tekun kita lakukan, melainkan bagaimana ajaran yang kita yakini itu kita implementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Bukan soal kita mencari sanjungan di antara sesama manusia, melainkan hidup itu adalah ‘pengabdian’; pengabdian yang menyangkut kemenghambaan kepada Tuhan (dalam arti luas).
Tuhan merupakan pusat kendali dalam kehidupan ini agar kita memperoleh keseimbangan antara urusan duniawi dan ukhrowi. Oleh karena itu, tepat adanya pada bait 5 dan 6 penyair menulis: //Di nafas sekelumit/ Kupohon kaudongaklah ke langit/Biarlah aku seperti pohon bambu../Ditiup angin sampai berpalu dan lalu../Aku bukan sekerat ular/Sekerat belut// (bait 5) dan //…Dengan cangkul/Pada Maha Mengetahui/ Di situ sujud /Dan kakiku berdiri../Salam santun jua kusembah/Kerana mati kita/Tidak bersumpah…// (bait 6).
Menikmati puisi-puisi Haris sebenarnya kita dihadapkan pada jalur profetis-sufistik-religus. Artinya, menikmati puisi Haris, kita tidak hanya sekadar memperoleh literary enjoyment, tetapi lebih daripada itu kita mendapat pencerahan, kesadaran-kesadaran baru, dan bahan-bahan renungan yang bagus tentang berbagai hal yang bersangkut-paut dengan hidup dan kehidupan. Bahan-bahan renungan baru tersebut tentu harus kembali dihubungkan dengan jalur-jalur sebagaimana telah digariskan oleh Tuhan itu.
.
Puisi Haris berikut mengungkap tentang sifat yang tidak terpuji yaitu ”Hasad” (dengki). Mari kita baca secara utuh puisi di bawah ini.
.
HASAD
Hasad satu sifat
Lima perkara engkau
Akan buat
Merosak segala taat
Segala saat Pada-Nya
Hasad..
Memakan pahala
baik dan cermat
Seperti api membakar kayu
Setiap saat..
Hasad..
Sifat jahat dan maksiat
Tiga ciri sudah tersirat..
Suka di depan menjilat
Lalu di belakang
sempat mengumpat
Tertawa saudara celaka
kaurasa hebat..
Hasad..
Menjadikan kaulemah
tak kuat
Bingung kosong pikiran
tak manfaat
Timbullah dosa maksiat..
Samalah engkau bernafas zalim
yang larut dan sesat..
Hasad..
Yang celik pun buta
Bukan di bebola mata..
Lebih buruk di hati pula
Hingga beribu hokum
Satu pun engkau
tak faham dan maklum
Hasad..
Segala terhadang
kebaikan tertutup
Taufik-Nya jauh sekali
kauterlungkup
Pertolongan-Nya ....
kautercangup-cangup.
Hasad..
Tujuanmu penuh hasrat
Sia-sia di lembah maksiat
Engkau leka gaflat
Segala nikmat
Di dunia...
Hasad.
KotaCina
Temasek.
Puisi “Hasad” ini merupakan pengamatan terhadap objek (manusia) yang memiliki sifat dengki. “Hasad” ini berisi pemikiran-pemikiran penyair Haris tentang bagaimana ia memandang sifat dengki tersebut. Sebagai sebuah puisi ide, penyair Haris memandang ‘hasad’ sebagai berikut.
.
Pertama, hasad itu merupakan sifat buruk yang akan merusak ketaatan yang selama ini diperbuat manusia kepadaNya (bait 1). Kedua, sifat hasad itu akan mengurangi pahala yang selama ini didapatkan dalam kehidupan duniawi, yang dianalogikan “seperti api membakar kayu”(bait 2). Ketiga, hasad merupakan sifat jahat dan maksiat; yang kemudian diperjelas dengan “Suka di depan menjilat/Lalu di belakang /sempat mengumpat/” (bait 3). Keempat, hasad akan membuat manusia itu lemah dan tak berotak (tak berarti dalam kehidupan ini), serta disetarakan dengan “bernafaskan zalim” (bait 4). Kelima, hasad itu menunjukkan hati yang buruk karena mengabaikan norma (hukum) yang ada (bait 5). Keenam, sifat hasad akan menutup segala kebaikan yang ada dan tidak akan mendapatkan pertolongan dariNya (bait 6). Ketujuh, sifat hasad itu menuntut pemenuhan hasrat untuk kepentingan pribadinya dan “Sia-sia di lembah maksiat” (bait 7).
.
Dalam Islam, sifat dengki itu disebut “hasad” atau “hasud”. Dengki menurut H. Sunaryo AY merupakan perasaan marah yang timbul karena benci (iri hati) kepada keberuntungan orang lain. Orang yang bersifat dengki selalu berupaya untuk menghilangkan nikmat yang diperoleh orang lain agar nikmat itu pindah kepada dirinya atau hilang dari orang yang didengkinya. Karena itu, Nabi Muhammad SAW mengingatkan kepada orang-orang agar menjauhi sifat hasad itu melalui sabdanya: “Dan janganlah kamu berdengki-dengkian dan berbenci-bencian…” (HR Muslim). Hasad dapat menghapuskan segala kebajikan, sebagaimana api memakan kayu bakar (HR Abu Bakar).
.
Pada puisinya yang lain, misalnya “Yang Merah Tetap Merah”, penyair Haris juga mengritisi tentang manusia yang memiliki sifat dendam. Jadi puisi ini pun secara ekpresif merupakan tindak lanjut dari puisi “Hasad” di atas.
Secara umum, puisi-puisi penyair Haris ini memiliki kadar religious yang tinggi (kental). Muatan religious ini sangat bermanfaat bagi kita untuk bahan renungan sekaligus penyadaran diri.

Comments

Popular posts from this blog

KRITIK EKOLOGIS DALAM PUISI "TANGISAN BUMI" KARYA SRI WURYANINGSIH

51 PENYAIR PILIHAN DALAM BANGGA AKU JADI RAKYAT INDONESIA

PUISI LUGU NOORCA MARENDRA