MEPERKUDA PUISI

Puisi: Cunong Nunuk Suraja
kepada kritikus sastra cyber

memacu laju kuda beban garam Kuningan larut
ke laut imajinasi kacamata penolak mantra psedo
Freud memasuki hutan berjalan cagak bernama
lidah Robert Frost meludahi ranting jalan basah

kendali dikunyah besi zaman kolonial dipermak
cepat saji congklangan jejak samar biner kau-aku
kalian-liyan menanda warna-warni bianglala kata
menjorok pada jerit binatang jang menerjang palang Rendra Chairil Anwar
rambu pikir logis tersedak labirin makna serapah pepatah

moyang cadar bertikai bayang orientasi salah kaprah mementahkan
serangga dasar katak melompati kolam hutan beton grafiti kota terendam
cuaca salah eja meluruhkan salju putih malam natal di persinggahan pemburu
di pondok menunggu temaram mangsa mengoyak menghapus petaka bumi
sendiri menanak harap langit muntahkan hujan caci maki kemacetan kota
meningkap angin metapurna hikayat sejarah komunikasi tanpa bunyi

makanlah makna kamus lusuh penyair renta didera encok bahasa

2015

Comments

Popular posts from this blog

KRITIK EKOLOGIS DALAM PUISI "TANGISAN BUMI" KARYA SRI WURYANINGSIH

51 PENYAIR PILIHAN DALAM BANGGA AKU JADI RAKYAT INDONESIA

PUISI LUGU NOORCA MARENDRA