MERINDUKAN SEPI YANI

Puisi Heru Emka

malam ini, aku kembali merindukan sepi Yani
di dalamnya hamparan sunyi  benar-benar sepi
ketika nyanyi mulai berhenti sebagai bunyi
hanya berpendaran seperti warna pelangi

sunyi Yani terasa begitu melenakan
perlahan-lahan menyusutkan keresahan
begitu ringkas menghisap cemas
gembala mimpi di tidur pulas

aku merasakan sejuknya kesunyian yang mencair
seperti tembaran air, melapisi ruang kita berdua
membujuk-sang waktu agar berhenti mengalir
merasuki malam kota, menghisap warna nada kata

kita berdua merapatkan diri, melipat lembaran
sunyi menjadi begitu rapi, menata dalam tumpukan
mungil bantal kecil, alas sepasang tubuh cinta kita
berdua, saat melucuti kata-kata dari bahasa cinta

dirimu yang pernah kubayangkan sebagai kunang-kunang\
dengan cahaya yang redup, sedang bagimu akulah tambang
yang terjulur hingga jauh ke dasar liang. inilah kita berdua,
sepasang jiwa luka terbawa rakit cinta mencari bahagia
 
menjelang dini hari, 14 november 2011

  Aku belum berniat menghitungnya, ini sajak keberapa yang pernah kutuliskan tentang sunyi. Sejak kecil aku menyadari bila diri ini adalah insan solitaire, yang tak senang mengalir berbondong-bondong dalam sebuah rombongan. Aku sering menikmati sepiku sebagai sebuah kenyamanan yang mengasyikkan. Sejak kecil aku sudah terbiasa berenang dalam lautan sunyi seorang diri. Aku selalu bisa mendengarkan lagu kesunyian yang jauh berbeda dari nada suara. Karena itu aku menyatakan diriku sebagai  ’pejalan sunyi, pecinta yang menyendiri’

  Apakah para pecinta sunyi selalu seorang diri ? Tidak juga. Karena aku sering bertemu dengan pecinta sunyi lainnya, sehingga aku percaya bahwa di balik sebuah lap;isan dalam masyarakat kata, ada juga masyarakat pecinta senyap. Di sana apa saja bisa terjadi, bahkan sebuah percintaan sunyi. Seperti yang terkisah dalam puisi ini.

  Aku masih ingat, ketika aku tak mau diajak pergi bersama-sama untuk menuju sebuah tempat. Seorang teman bertanya, “ Kenapa kau lebih suka hidup terpencil, padahal kau punya teman ?”. Aku menjawabnya, “ Burung elang g selalu terbang sendirian. Hanya bebek yang selalu berjalan beriringan.”

Bagai mana menurut anda ?

Comments

Popular posts from this blog

KRITIK EKOLOGIS DALAM PUISI "TANGISAN BUMI" KARYA SRI WURYANINGSIH

51 PENYAIR PILIHAN DALAM BANGGA AKU JADI RAKYAT INDONESIA

Puisi Andang Bachtiar