MITOS DEWI SRI DALAM PUISI "BUNDA PADI" KARYA AL IMAN

Oleh: Agung Pranoto

Grup Dapur Sastra Jakarta (DSJ), Jumat, 11 Agustus 2017, memuat puisi Al Iman berjudul "Bunda Padi". Membaca judul puisi tersebut, tergelitik pikiran saya pada sebuah nama yang melegenda, yakni Dewi Sri. Lalu, ketika membaca teks puisi tersebut secara utuh, dugaan saya tentang diangkatnya mitos Dewi Sri dalam puisi Al Iman, tampaknya tidak meleset. Oleh sebab itu, kali ini dicoba menelisik lebih dalam kehadiran mitos tersebut dalam puisi penyair yang satu ini.
Siapakah Dewi Sri? Dewi Sri oleh orang Jawa selalu dihubungkan dengan mitos padi. Cerita Dewi Sri sebagai mitos memiliki banyak versi. Suripan Sadi Hutomo (1992: 245) menyatakan bahwa dalam tradisi lisan Jawa, cerita Dewi Sri banyak disesuaikan dengan keadaan atau adat-istiadat setempat. J. Kats (1915) dalam tulisannya Dewi Sri, tokoh ini dikaitkam dengan tradisi penjagaan bayi setelah lahir. Dewi Sri menasihati orangtua bayi agar membacakan mantra dengan harapan si bayi selamat atau tidak ada gangguan. Dalam versi ini Dewi Sri berwujud ular sawa.
Di sisi lain, (Pitono, 1962: 13) menjelaskan mitos padi itu telah ada di Indonesia sejak sebelum kedatangan kebudayaan Hindu. Dalam tradisi yang masih hidup di masyarakat Jawa, Dewi Sri sering dihubungkan dengan Raden Sedana sehingga orang menyebutnya Sri Sedana. Dewi Sri sebagai Dewa Kehidupan petani di desa, sedang Raden Sedana sebagai dewa sandhang. Jika dua nama itu digabung maka dianggap sebagai dewa sandhang dan pangan.
Dalam cerita kentrung di Jawa Timur, menurut Suripan Sadi Hutomo (1992: 250), cerita Dewi Sri tidak pernah diceritakan oleh dalang. Alasannya si dalang menganggap cerita Dewi Sri tabu meski untuk keperluan sedhekah desa (pesta usai panen). Namun dalam cerita kentrung, Dewi Sri muncul dalam bentuk lain sebagai sistem klasifikasi simbolis dan sebagai mnemonic device atau alat pembantu pengingat.
Selanjutnya bagaimana mitos Dewi Sri dalam puisi "Bunda Padi" karya Al Iman? Mari kita resepsi puisi yang dimaksud berikut ini.
Bunda Padi
Undakan sawah terlihat merumput kerbau
Semilir angin semampai merumpun hijau
Terhampar luas laksana zamrud kemilau
Tertata apik mahakarya petani terhimbau
Wajahmu nian belia dalam rundung galau
Musim kemarau langit kau tengadahi
Musim penghujan kau sulam pelangi
Silih berganti ritus cuaca sambangi
Tetap tabah walau hama gerogoti
Terpatri berbagi berkah insani
Musim memanen telah tiba
Padi-padi menguning gembira
Kilauan emas terhampar luas
Butiran padi menjelma beras
Bunda padi, bundaku Dewi Sri
Apakah orang kuat cerna besi
Ketika perut lapar pucat pasi
Sepiring nasi bentuk energi
Seucap ilmu di lidah Bestari
Lahan persemaianmu di renovasi
Di bangun gedung-gedung tinggi
Di sulap pabrik-pabrik industri
Di jadikan kawasan tanah mati
Dalam struktur tergiur birokrasi
Airmatamu mengkristal di perigi
Petani jadi tumbal di bentuk kuli
Insani terpaksa mencerna besi
Dari beton-beton gedung tinggi
Dari puing-puing kelemahan negeri
Dari kapitalis-kapitalis hujam nyeri
Corat-coret Condet /2017/05/17
Menikmati puisi di atas, kita rasakan atmosfir kegetiran di tengah laju peradaban. Modernisasi yang terjadi sering mengabaikan yang substansial, demi hadirnya gebyar kemajuan negeri yang hanya kasat mata semata.
Kemajuan negeri tidak selalu harus dicirikan oleh banyaknya gedung menjulang tinggi. Apalah artinya gedung menjulang tinggi jika ladang-ladang subur harus diubah menjadi gedung tinggi. Sementara rakyat negeri tidak makan "besi", tidak makan batu, semen, atau pasir. Lalu, ke depan cucu-cucu negeri haruskah makan nasi sisa-sisa para kapitalis itu? Inilah hebatnya negeri kita untuk sekelas garam atau cangkul saja harus impor. Sebenarnya sedemikian bodohkah rakyat negeri ini? Atau perlukah gerakan ketidakpercayaan kita benturkan dengan wakil-wakil yang berdasi?
Puisi di atas memang bernuansa kesedihan, keprihatinan penyair Al Iman terhadap dampak modernisasi. Modernisasi itu memang tak bisa dibendung, namun para stakeholder semestinya menggunakan intelegensinya secara baik, bijak, dan penuh pemikiran makro yang matang. Kehadiran kapitalis itu penting. Namun jangan sampai kapitalis mencengkeram penguasa negeri.
Bait 1 puisi di atas penyair melukiskan keindahan pematang sawah yang berbentuk terasering (undakan); begitu menghijau nan subur dan semilir angin yang menyejukkan hati. Namun petani digambarkan tengah galau.
Bait 2 menyiratkan pergantian musim tetap tak menjadi kendala dalam menanam padi. Hanya saja terkadang ada "hama yang menggerogoti". Meski begitu, kehadiran hama tidak dipandang negatif oleh penyair, melainkan sebagai "kemengertian" bahwa hama pun punya hak hidup.
Bait 3 menyiratkan saat tiba musim panen dan ini yang dinantikan petani. Saat padi menguning di sepanjang jangkauan mata memandang memang serasa hidup itu bahagia, tenteram, damai. Sebab padi yang dipanen merupakan sumber makanan pokok. Saat seperti itu, jiwa dan pikiran tenang, sebab beras tersedia melimpah.
Bait 4 pada baris pertama, penyair menghubungkan padi dengan Dewi Sri. Mitos ini hingga sekarang masih banyak diketahui oleh masyarakat kita. Rupanya penyair pun mengenal soal mitòs padi ini; dan mengapa harus Dewi Sri. Sebab nama tersebut dalam tradisi lisan sudah melekat dalam sanubari masyarakat Jawa sebagai "dewa pangan". Melalui bait ini pula, Al Iman menyindir "orang kuat" (penguasa dan kapitalis) apakah mereka tidak makan nasi tetapi kenyang "makan besi"? Nasi mengandung unsur karbohidrat yang menghasilkan energi bagi manusia.
Bait 5 penyair merintihkan kepedihan petani karena lahan subur petani itu digusur untuk didirikan tempat industri/pabrik atau yang lain. Dalam konteks ini, penyair menyayangkan praktik birokrasi yang begitu mudahnya mengizink?an lahan subur berubah fungsi. Apakah hal ini tidak ada kolusi untuk kepentingan pribadi? Entahlah. Kecenderungan yang terjadi, para kapitalis itu memiliki konsep "uang dengan sendirinya akan menyukseskan apa yang diniatkan". Uang menjadi dewa yang memudahkan untuk penyaluran hasrat atau keinginan.
Bait 6 merupakan penutup sekaligus kunci puisi ini yakni penyair memberikan renungan tentang petani yang akhirnya jadi kuli. Dalam bait puisi ini pula penyair menyampaikan kritik sosial kepada pemangku negeri. Inilah kelemahan negeri yang mudah disetir oleh kaum kapitalis.
Secara utuh puisi ini mengekspresikan gejolak hati anak-anak negeri terhadap kondisi negeri yang sebetulnya kita miris untuk ke depannya. Belum lagi ketersingkiran kita karena tak akan mampu bertahan hidup di kota-kota besar negeri sendiri. Sesungguhnya kita sudah teralienasi di tanah pertiwi.
Kapitalis memang secara halus "menjajah negeri". Akankah sistem kontrak dalam mencari tempat kerja di negeri ini tak mampu direvisi bahkan dicabut? Jika hal ini dipertahankan maka warga utama pemilik negeri akan tetap tidak merdeka di negeri yang secara dejure memang telah merdeka.
Akhir kata, mitos Dewi Sri sebagai mitos padi, dalam puisi ini, oleh penyair tidak dijadikan fokus muatan isi. Mitos Dewi Sri dimanfaatkan penyair sebagai sarana kritik sosial yang ditujukan kepada pemangku birokrasi yang mudah dimainkan oleh kapitalis.
Secara umum memperhatikan puisi Al Iman memang menarik. Yang menarik tidak sekadar pada pesannya semata, melainkan juga puitika yg ia hadirkan.

Comments

Popular posts from this blog

KRITIK EKOLOGIS DALAM PUISI "TANGISAN BUMI" KARYA SRI WURYANINGSIH

51 PENYAIR PILIHAN DALAM BANGGA AKU JADI RAKYAT INDONESIA

PUISI LUGU NOORCA MARENDRA