Nanang Suryadi (NS): Manajer para Seniman Pinggiran

Suatu sore di tahun 2002 di Watu Gilang 17 B, seorang tamu hadir dengan kopiah seperti jamaah tabligh. Tamu itu langsung duduk di hall yang lengang itu. Berjongkok sambil memencet HPnya. Edi Syaiful Anwar, salah seorang penghuni yang mengetahui kedatangannya, langsung datang menyalami, dan mengajak saya yang kebetulan waktu itu sedang nonton televisi, untuk ikut diskusi dengan sang tamu, “Jay, ini Mas Nanang Suryadi, mantan ketua umum Komek.” Seketika itu saya baru tahu bahwa inilah sang sastrawan yang banyak dibicarakan di komek. Pada kesempatan itu beliau bercerita tentang kuliahnya di Jakarta. Sejak itu, saya akrab dan terpesona dengan tutur bahasanya yang apa adanya dan santun. Tidak menimbulkan kesan sungkan bagi seorang kader muda seperti saya waktu itu.

Obrolan kami selanjutnya banyak tentang puisi-puisinya. beliau lalu memberikan saya sebuah disket (waktu itu belum ada flash disc), berisi puisinya, Telah Dialamatkan Padamu (pada waktu naik cetak, kami juga diberi beberapa eksemplar buku tersebut). Saya baca puisi-puisi tersebut, isinya adalah kerinduannya pada sang kekasih –waktu itu mas Nanang belum menikah. Seluruh isi disket itu saya salin ke komputer saya. Beberapa saat Mas Nanang meminjam komputer saya untuk mengedit atau menuliskan beberapa idenya kala itu. Sayang sekali, oleh berjalannya waktu, komputer saya rusak. File asli dari NS menguap bersama rusaknya hardware di komputer tersebut.

Tidak banyak waktu yang saya luangkan dengan NS waktu itu, selain NS yang sibuk untuk menyelesaikan studi magisternya, beliau juga masih sibuk menyiapkan waktu untuk launching buku puisi Telah Dialamatkan Padamu. Launching buku yang diselenggarakan pada Rabu, 4 Juni 2003 malam di Resto Gama, pinggir kampus Unibraw, Malang tersebut dihadiri oleh banyak seniman seperti Bagyo Prasasti, Fatchurrahman Effendi, Jumali Alhambra dan para penyair kampus Ketawang Gede lainnya. Mereka membacakan sajak-sajak yang terkumpul dalam antologi puisi "Telah Dialamatkan Padamu".

Selang tidak beberapa lama dari launching buku tersebut (2003), NS menikahi Kunthi Hastorini, gadis Lumajang, yang menurut Yusuf Risanto, menjadi sumber inspirasi puisi-puisi NS pada tahun-tahun tersebut. Kami semua kader Komek diundang. Kami datang bersama-sama ke rumah barunya Mas NS di belakang terminal Landung Sari, berdekatan dengan rumah Mas Wildan Syafitri. Setelah acara resepsi tersebut kami mampir ke kediaman Mas Wildan.

Kini, tarian pena mas Nanang dan pada kertas Mbak Kunthi telah membuahkan dua sajak terindahnya yang berjudul Cahaya Hastasurya dan Arya Mada Hastasurya. Puisi hidup yang selalu mencerahkan hari-hari Mas NS dan isteri. Hastasurya, selain merupakan akronim dari sang penulis dan pendampingnya, juga bermakna ‘tangan sang matahari’. Nama indah dari sang penafsir keindahan.

Aktivitasnya di Dunia Sastra

Dalam satu percakapan ringan di tahun 2005 saya tanyakan pada NS tentang sastrawan idolanya. Dia menyebut nama Hamsad Rangkuti. Selama di Malang, tidak saya temukan karya Hamsad kecuali hanya beberapa baris tentang biografinya. Selain itu, saya juga jarang ke internet. Baru di Jakarta saya temukan buku kumpulan cerpennya, Bibir dalam Pispot (Penerbit KOMPAS).

Saya tidak tahu bagian mana yang disuka NS dari Hamsad. Mungkin pada fantasinya yang liar dan nakal seperti tampak dalam cerpen “Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu?”. Entahlah, tapi ketika saya membaca cerpen Hamsad tersebut, terasa sekali betapa imaji Hamsad dengan bebas mengalir melampaui batas yang pernah saya punyai. Mungkin begitu juga bagi NS. Membaca karya Hamsad, sayapun jatuh cinta pada sastrawan bohemian ini. Sebuah acara di The Habibie Center memberi saya kesempatan bertatap muka langsung dengannya.

Dalam pengantar buku tersebut Hamsad bercerita tentang bagaimana dia harus berjuang sebagai anak kampung untuk bisa berkiprah di dunia sastra nasional, yang waktu itu masih di bawah pengaruh sang Paus Sastra, HB Jassin. Cerpen karya masa kecilnya, yang kemudian menjadikannya sebagai bahan pembicaraan orang sekampung –karena tembus pada majalah sastra asuhan HB Jassin– adalah sebuah cerpen yang bercerita tentang anak juragan kaya di sebuah desa yang wafat karena luka akibat sunnatan. Anak kecil itu wafat dalam balutan perban pada alat kelaminnya serta balutan shalawat orang-orang sekelilingnya.

Inilah dua alasan yang menurut saya mengapa NS mengidolakan Hamsad Rangkuti; imajinya yang bebas dan liar menembus tradisi, serta latar belakang masa kecil yang sama-sama dari kampung, –NS dilahirkan dan dibesarkan di Pulomerak, Serang, Banten– walaupun secara jujur harus diakui bahwa NS bernasib jauh lebih baik dari Hamsad.

Diluar kesibukannya mengurus keluarga, mengajar mahasiswa dan menulis karya sastra, NS menyempatkan waktu untuk mengelola sebuah website khusus para pencinta seni dan sastra, namanya www.fordisastra.com. Fordisastra adalah kependekan dari forum studi seni dan sastra. Beliau adalah kreator dan administrator situs tersebut. Sebuah situs untuk para sastrawan ‘pinggiran’ yang ingin mencurahkan karya kreatifnya. Ketika awal tinggal di Jakarta, pernah sekali dalam sebuah chat YM beliau meminta saya untuk ikut aktif di dalamnya, baik untuk mengikuti perkembangan sastrawan muda non-mainstream, maupun untuk posting karya puisi dan cerpen. Saya mendaftarkan diri, namun sayang sekali saya sudah lupa username dan password saya. Walaupun begitu, saya selalu sempatkan untuk melihat situs tersebut sesekali dalam sebulan.

Pembantu Dekan III FE UB 2009 – 2013

Di jenjang struktur Fakultas Ekonomi Unibraw, khususnya Jurusan Manajemen, NS memulai karirnya sebagai Sekretaris Jurusan Manajemen FE Unibraw. Perjumpaan terakhir saya dengan NS adalah ketika FE UB menyelenggarakan temu alumni pada bulan Juli 2008 lalu. Saya sempat berkunjung ke ruang kerjanya di gedung PPA lama lantai 2, menyerahkan sebuah buku kumpulan puisi Zawawi Imron “Berlayar di Pamor Badik”, titipan dari Andi Makmur Makka (mantan Pimred REPUBLIKA, sastrawan di kantor saya). Di ruang itu NS bersama dengan beberapa dosen muda lainnya seperti Mas Rofiq dan Mas Bobby, dibantu oleh asisten muda multi talenta (Lukman dan Dimas).

Hari Kamis, 23 Juli 2009 lalu mungkin menjadi salah satu hari yang paling bersejarah bagi NS. Beliau dipercaya menjadi Pembantu Dekan III yang membidangi kemahasiswaan untuk periode 2009-2013. Ketika mendapatkan SMS tersebut dari Yusuf Risanto tentang tiga PD baru di struktur dekanat FE 2009, dalam hati dan pikiran saya tergambar dengan jelas ejawantah peribahasa the right man on the right job. Sosok NS yang sangat guyub menjadi persona yang kokoh dan fleksibel untuk dijadikan tempat berkonsultasi.

PD III yang dalam urusan kesehariannya bersiggungan dengan mahasiswa, baik secara personal maupun lembaga (BEM, DPM, Himpunan dsb), bukanlah jenis pekerjaan baru dan berat bagi NS, mengingat kebiasaannya dalam berkomunikasi dengan lintas generasi dalam hal sastra. Seperti kata pepatah, “hobi melahirkan kebiasaan, kebiasaan melahirkan sifat, sifat melembaga dalam disiplin, dan disiplin menjadi kunci sukses sebuah pekerjaan”, maka pekerjaan sebagai PD III saya yakin akan sukses dijalankan NS. Modal dasar yang besar di masa lalu dan kesehariannyalah yang akan mempermudah karir NS membantu Pak Gugus Irianto mengelola FE UB ke depan bersama Mas Erani dan Pak Didit.

Sembari mengutip puisinya Telah Dialamatkan Padamu dalam antologi dengan judul yang sama, saya ingin mengucapkan selamat kepada kakanda Nanang Suryadi, yang bagi saya pribadi, lebih dari sekedar kakanda dan guru. Jabatan Nanang Suryadi sebagai Pembantu Dekan III FE UB 2009–2013 sejatinya adalah ‘surat azali’ yang telah dituliskan ‘sang sutradara’ di lauh al-mahfudz. Telah dialamatkan pada ‘sang manajer para seniman pinggiran’, dan telah sampai di sebuah ruang sidang di kampus ekonomi Unibraw pada detik itu. Detik ketika semua mata menjadi saksi sebuah takdir yang telah pasti.

"Telah dialamatkan padamu sunyi lelaki, membaca huruf timbul tenggelam pada pelupuk,
tak dilupa juga peristiwa demi peristiwa, berguliran ke mana kita akan sampai,
buku-buku terlipat, goresan tangan, secarik kertas terselip: aku merindukanmu

ah, omong kosong apalagi yang akan kutuliskan? seperti ada yang ingin diledakan di dadaku,
ke dalam otakku telah dialamatkan padamu kata-kata, bahasa penuh gumam,
mungkin juga makian, karena diri tak bisa dipahami, diri!"

Jakarta, 27 Juli 2009

Comments

Popular posts from this blog

KRITIK EKOLOGIS DALAM PUISI "TANGISAN BUMI" KARYA SRI WURYANINGSIH

51 PENYAIR PILIHAN DALAM BANGGA AKU JADI RAKYAT INDONESIA

PUISI LUGU NOORCA MARENDRA