NYANYIAN CINTA LIMABELAS SANG RANGRANG

Oleh: Cunong Nunuk Suraja

Tidak banyak yang dapat diungkap catatan kehidupan penyair Sang Rangrang hingga yang paling pol dengan jenis kelamin dan etnis maupun tingkat kelompok usianya. Sungguh sangat kusam menelusuri sajak yang merupakan cerminan pribadi penyajaknya maka cukup lama setelah mengunduh satu per satu sajak yang dikirim lewat kotak pesan karena yang dikirimkan bukan file sajak atau karya tapi gepokan tunggul asli dari Facebook yang memerlukan kesabaran mata tua tingkat kerabunan enam puluh lima tahun. Memang sebagian bicara cinta karena pada dasarnya orang bercinta adalah buah ranum persajakan yang biasa kala merayu rembulan milik nini anteh di langit purnama penuh. Ada juga penjelasan bahwa namanya dari unsur kata Sunda dan sajak Sangkuriang selagi legenda atau mitos Sunda dikuasai dengan purna.

SANGKURIANG BANGKIT (1)
#ulah korupsi

andai benar moyangku si Tumang dan babi hutan, andai benar sodaraku lutung kasarung
Aku cukup bahagia
setidaknya aku tidak usah tinggal di gedung yang menghabiskan ribuan kubik keringat, sementara aku belum pernah tahu dalamnya seperti apa,
meski dari luar aroma haus kuasa tercium sangat menyengat.
cukup bagiku pengetahuan Dewaku
cukup bagiku kamar tidur goa
cukup bagiku makan daun dan umbi
cukup bagiku minum air sungai
bagiku
lebih baik tersesat di belantara rimba
mungkin menggiringku ke puncak gunung
daripada tersesat di belantara gedung
yang mungkin menggiringku ke puncak Monas

Sang rangrang (pesisir moro demak)
juni 17

SANGKURIANG BANGKIT (2)

lihat ilmuku!
satu malam selesai kubuat danau
juga, satu perahu dari kayu
ingat amukku!
sekali tendang perahu itu
terbang tengkurap jadilah gunung
awas, garangku!
sekali terjang rang-rang rang-rang itu
melesat, jadi pula gunung Burangrang
Aku Sangkuriang bangkit
dinafasi Dewa Dewi
cintaku ke Dayang Sumbi
dirubah untuk Ibu Pertiwi
jangan kau koyak dadanya
sebab yang tertinggal
sedikit sengal nafas tua
jangan kau tusuk matanya
karena yang tersisa cuma
air mata darah
jangan kau sakiti hatinya
maaf ibu sudah habis
kini hanya kutuk dan marah
kalau tidak!
lihat ilmuku!
ingat amukku!
awas, garangku!
akan kutendang gedung itu!
akan kuterjang hak-hak itu!
akan kuhancurkan angket itu!
Aku Sangkuriang bangkit
hrrremmmmmmmmmm
hrrremmmmmmmmmm

Sang rangrang (pesisir moro demak)
juni 17

cat: rang-rang = ranting (sunda)

Sajak Sangkuriang ini merupakan cerminan pribadi penyair yang sangat fasih dengan legenda yang merujuk pada kearifan budaya lokal. Pembongkaran mitos Sangkuriang yang sejajar dengan cerita dewa Yunani Sang Oidipus yang dalam ceritanya mengawini ibu kandungnya, cuma bedanya Sangkuriang gagal memenuhi janji ke Dayang Sumbi untuk membuat telaga dan perahu dalam semalam. Dan dengan inncahnya imaji Sangkurang berubah ke masalah kekinian – bagiku/lebih baik tersesat di belantara rimba/mungkin menggiringku ke puncak gunung/daripada tersesat di belantara gedung/yang mungkin menggiringku ke puncak Monas (SANGKURIANG BANGKIT 1) dan akan kutendang gedung itu!/akan kuterjang hak-hak itu!/akan kuhancurkan angket itu!(SANGKURIANG BANGKIT 2)
Jati dirinya terseubung cinnta aku hampir melumuri semua sajaknya sebagaimana legenda Sangkuriang yang tentunya juga berlatar belakang birahi remaja seperti judul pendek sajaknya:

AKU

kutinggalkan senja
takan kusebut lagi merah tembaga
atau tiga kata
aku cinta kamu
dan
aku tak punya hati
teringat sore itu kau datang
tercerabut semua rasa
aku takut, namun bahagia
dan
kau begitu memukau
aku mendadak mengigau
rahasia tiga huruf
menggiringku merunduk
maka
janganlah kau tinggal aku sendiri
bila tak kupanggil, aku cinta kamu!
perihal jalanmu itu
biar kutempuh pelan-pelan
tak mudah kutemukan lurus
meski tak semua kelok kulacuri
biar tercerabut semua jalang
aku tak mau lagi memanggilmu cinta
hanya
dengan mulut
pongahnya raga
beri aku waktu
untuk mengungkap
rahasia tiga huruf
dengan jiwa
Sang rangrang (pesisir moro demak)

juni 17

Ungkapan yang cukup garang bernuansa cinta yang tercerabut pada kesan ketidak-percayaan: perihal jalanmu itu/biar kutempuh pelan-pelan/tak mudah kutemukan lurus/meski tak semua kelok kulacuri.

Sisa sajaknya memang menjanjikan perkembangan di masa datang menjadi buah bibir susastra cyber yang terbuka dan merdeka. Kita lihat saja jejak panjang yang semakin memerah rasa suka merahnya merah senja peradaban dunia cetak-mencetak kata.

Bogor 11-9-2017

Comments

Popular posts from this blog

KRITIK EKOLOGIS DALAM PUISI "TANGISAN BUMI" KARYA SRI WURYANINGSIH

51 PENYAIR PILIHAN DALAM BANGGA AKU JADI RAKYAT INDONESIA

Puisi Andang Bachtiar