PANTUN MBELING NANANG SURYADI RASA GULALI

Oleh: Cunong Nunuk Suraja
Puisi empat baris dapat berpotensi dituduh gegar pantun atau kwatri jika tak bersampiran bahkan puisi Chairil Anwar pun ditengarai reinkarnasi pantun curahan kreatifitas Amir Hazah dalam esai 'Situasi' Nirwan Dewanto yang kalau dilacak pasti tertangkap tangan mesin pintar eyang Google. Ternyata ada turunan genre pantun padat menyingkat jadi dua baris dikenal dengan nama sexy mirip badai tropis di lautan Pasifik -- karmina. 

Nanang Suryadi yang tersengat sengat bunyi puisi gulali Jokpin pun lantas gegar imaji mengulum rasa manis gulali yang memantulkan cermin purba pada rasa kasih sayang seabadi matahari dan [gumamnya, "ibu, aku rindu sekali." ] Tupai dan kecebong dewasa melontarkan loncatan logika belalang mencoba mengupas pisang bertali di Lokomoteks Edisi November 2017 jadilah tabrakan yang terencana antara pamflet dan gulali berbentuk burung Nazar yang tak lapar-lapar. Rjndu yang semanis gulali itu terselip dalam imaji pamflet tentang gigi yang berlubang. Lubang labirin karmina menyeret pada limpahan limbah literasi sakes marketing yang menipu mata dengan warna mencolok -- 'sesobek pamflet berujar: jangan menyalahkan gulali, jika gigimu berlubang lagi.' Jangan digaduhkan lagi jika karmina ini tak mulus bersampiran karena makam nenek Chairil Anwar dan Nanang Suryadi tidak bersebelahan dengan penjual gulali, apalagi gulali olahan Joko Pinurbo. 

Puisi yang tua itu senyum dengan menyisakan potongan gigi di gusi metafora.

Jumat resah menunggu jemaah fesbukiya 2080 setara 17 Novianto 2017 


Nanang Suryadi

GULALI ITU PINURBO

di pasar malam bapak membeli gulali, tapi dia ingat nenek tak lagi bergigi. di makam, gumamnya, "ibu, aku rindu sekali." 

tapi sesobek pamflet berujar: jangan menyalahkan gulali, jika gigimu berlubang lagi. Jangan menyalahkan sepi jika rindumu berulang lagi.

Comments

Popular posts from this blog

KRITIK EKOLOGIS DALAM PUISI "TANGISAN BUMI" KARYA SRI WURYANINGSIH

51 PENYAIR PILIHAN DALAM BANGGA AKU JADI RAKYAT INDONESIA

Puisi Andang Bachtiar