PERJALANAN RELIGIUSITAS PUISI-PUISI Y.S. SUNARYO

Oleh: Roja Murtadho

Puisi adalah kegelisahan-kegelisahan yang disampaikan seseorang melalui medium bahasa indah yang bisa diungkapkan secara tersirat maupun tersurat melalui metafor-metafor dan imaji. Puisi terlahir sabagai penggambaran perjalanan batin seseorang dapat berupa kegelisah-kegelisahan pada nilai-nilai ketuhanan, sosial, kritik sosial, budaya, filosofis, ataupun edukatif. Perjalanan batin inilah yang akhirnya memengaruhi penulis/penyair dalam menuangkan pengalaman batinnya ke dalam puisi.

Puisi dapat terlahir akibat kegelisahan penyair terhadap pengalaman batin terhadap kesadaran tertingginya pada hidup, kesadaran tertinggi pada kecintaan terhadap Tuhan, pertaubatan atau penyesalan penyesalan terhadap perilaku hidup yang bergeser dari.jalan Tuhan. Dari sinilah, aspek religiusitas tertuang ke dalam puisi.

Istilah religius membawa konotasi pada makna agama. Religius dan agama memang erat berkaitan, berdampingan, bahkan dapat melebur dalam satu kesatuan, namun sebenarnya keduanya menyaran pada makna yang berbeda.

Kata religi berasal dari bahasa Latin. Menurut Nasution bahwa asal kata religi adalah religere yang mengandung arti mengumpulkan dan membaca. Pengertian demikian itu juga sejalan dengan isi agama yang mengandung kumpulan cara-cara mengabdi kepada Tuhan yang terkumpul dalam kitab suci yang harus dibaca. Tetapi menurut pandangan lain, bahwa kata itu berasal dari kata religare yang berarti mengikat. Ajaran-ajaran agama yang selanjutnya terdapat pula antara roh manusia dengan Tuhan. Dan agama lebih lanjut lagi memang mengikat manusia dengan Tuhan (Nata, 1999: 10).

Agama lebih menunjukkan pada kelembagaan, kebaktian kepada Tuhan dengan hukum-hukum yang resmi. Religius di pihak lain, melihat aspek yang di lubuk hati, riak getaran pribadi, lebih dalam dan lebih luas dari agama yang tampak formal, dan resmi (Mangunwijaya dalam Nurgiyantoro, 2007: 327).

Religius adalah ketaatan pada suatu yang dihayati, teramat suci, kudus, adikondrati (Mangunwijaya dalam Sapiin, 2000: 85). Moral religius menjunjung tinggi sifat-sifat manusia, hati nurani yang dalam harkat dan martabat serta kebebasan pribadi yang dimiliki oleh manusia.

Pengertian religiusitas adalah pengabdian terhadap agama (religi). Religius berarti segala hal yang bersangkut paut dengan religi. Religius dan religiusitas berorientasi pada tindakan penghayatan yang intens terhadap yang Maha Tunggal, yang di Atas, atau Sang Pencipta (Tuhan).

YS Sunaryo adalah salah seorang penyair yang cukup aktif menulis puisi. Puisi-puisi yang ditulis memiliki kecenderungan ke dalam kritik sosial. Dia menulis berdasarkan pengamatan terhadap apa yang terjadi di negeri ini. Melalui puisi dia berusaha memperjuangkan nasib rakyat yang tertindas atau terhegemoni oleh kekuasaaan dan ini semakin tampak dari tulisan-tulisannya belakangan ini.

YS Sunaryo lahir di Majalengka 13 Agustus 1970. Lulusan IAIN Jurusan Sejarah Kebudayaan Islam (sekarang UIN) Bandung. Menjadi Dosen di UIN Bandung dan IAILM Tasikmalaya dari 1995 sampai tahun 2006. Aktif di relawan politik sampai tahun 2014. Sekarang aktif sebagai tenaga ahli di Atikan Global School Ciamis Jawa Barat. Aktif menulis artikel keagamaan, sosial, dan politik di berbagai media massa sejak mahasiswa sampai 2014. Kegiatan menulis terhenti ketika menjadi relawan. Dan aktif kembali setelah masuk lagi dunia kampus dan pendidikan. Mulai belajar dan aktif menulis puisi Desember 2015.

Merunut sedikit biografinya dapatlah dipahami bahwa latar belakang penulis dalam dunia pendidkan, keagamaan, dan pandangan politik cukup memengaruhi warna puisi dan diksi yang digunakan lugas, apa adanyan namun tetap santun. Dan agaknya inilah langkahnya atau caranya mengungkapkan kegeraman dan kesedihannya terhadap situasi masyarakat dan negara saat ini bukan lagi menggunakan bahasa tulis ke dalan artikel-artikel namun menggunakan seni sebagai alat mengungkapkan bagaimana pandangan dirinya sesungguhnya dengan menggunakan bahasa puitika ke dalam puisi.

Menurut saya ini merupakan langkah hijrahnya dari aktivis pergerakan sejak masa-masa masih mahasiswa hingga sekarang menjadi tekun di bidang kepenyairan. Membahasakan gejolak jiwanya ke dalam larik-larik puisi.

Agung Pranoto pernah menelaah puisinya yang berjudul Kidung Kodok Terakhir karyanya dengan linimasa Bandung, 31 Maret 2017. Agung Pranoto menelaah puisi tersebut berdasarkan perspektif ekologis-hegemonis. Di sana, Agung Pranoto menemukan karakteristik penyair dalam menulis puisi dengan menggunakan metafora alam yang mencerminkan intuisi penyair dalam memotret pesona ekologis yaitu keberadaan ladang subur ditandai dengan suara-suara kodok. Nilai-nilai ekologis ditunjukkan secara satire dan ironis, serta tetap dengan sikap menyuarakan dan keberpihakan terhadap rakyat. Kegerahan-kegerahan masyarakat terhadap arus modernisasi yang terhegemoni dalam era poskolonial disuarakan oleh Y.S. Sunaryo melalui puisi Kidung Kodok Terakhir.

Keberagaman tema karya-karyanya membuktikan bahwa Y.S.Sunaryo telah berhasil menjadikan pusi sebagai jembatan dirinya dalam menyuarakan alam, manusia dan kemanusiaan, ketimpangan-ketimpangan dalam masyarakat, hingga hubungan transendensinya terhadap Tuhan.

Di titik inilah saya menemukan pusi-puisi dengan nilai-nilai perjalanan religius di dalamnya. Gejolak batinnya terhadap kecintaanya pada Illahi, kesadaran-kesadaran terhadap perilaku hidup, dan pertaubatan tampak di dalam puisinya-pusinya.

TERBAKAR DI KOTAMU
Karya: Y.S. Sunaryo

Aku kembali terbakar di kotamu
Pada telanjang api menjilati
Padahal panas telah lama mati
Dan ternyata, hanya bayangmu yang melumati
Dahulu kau suluti aku
Dengan rayu yang mencandu
Nyala berahi di kamar liar
Jiwaku digerus hingga tak sadar
Di ranjang, kenikmatan berhawa panas
Gelas arak pecah meranggas
Satu tambah satu tak tereja
Dan lupa rembulan siapa yang punya
Di kotamu ini aku menjadi arang
Lalu debudebu terbang
Dan kini ingin segera pulang
Tinggalkan kotamu sebelum kambuh jalan jalang

Bandung, 14 Nopember 2017

Mencermati puisi tersebut kita dapat menemukan adanya gejolak rasa si aku lirik terhadap sebuah perjalanan yang membuatnya bertemu kembali pada sebuah kota (tempat). Tempat yang mampu memberikan kemungkinan bagi dirinya untuk kembali mengulang perilaku buruk yang pernah dilakukan dan telah lama ditinggalkan.

/Aku kembali terbakar di kotamu/
/Pada telanjang api menjilati/
/Padahal panas telah lama mati/

Kata /kota/ menjadi penanda imajinasi arsitektural sebagai tempat perayaan nostalgia, sebagai kesadaran puitis tentang masa lalu yang intim dengan hingar bingar lampu-lampu, kekrauditan, penanda modernisasi, dan kemeriahan. Kondisi itu mengingatkan si aku lirik pada kebebasan yang pernah begitu membara dalam kehidupannya. Kebebasan yang telah membakar nurani, membakar keimananya, membakar norma-norma yang terus menggilasnya dalam nyalanya. Setelah sekian lama bara itu padam, si aku lirik telah meninggalkan sisi hitam hidupnya begitu tiba di tempat/kota “mu” yang ditunjuk oleh si aku lirik sebagai pemilik kota dia seperti diajak kembali mengulangnya.

/Dan ternyata, hanya bayangmu yang melumati/
/Dahulu kau suluti aku/
/Dengan rayu yang mencandu/
/Nyala berahi di kamar liar/
/Jiwaku digerus hingga tak sadar/
/Di ranjang, kenikmatan berhawa panas/
/Gelas arak pecah meranggas/
/Satu tambah satu tak tereja/
/Dan lupa rembulan siapa yang punya/
/Di kotamu ini aku menjadi arang/
/Lalu debudebu terbang/

Ada sebuah perjalanan hidup yang ingin diungkapkan oleh si aku lirik bersama seseorang pemilik kota. Si aku lirik pernah dibawa dalam sebuah perjalanan bersama seseorang dengan segala rayuan manis yang membawanya pada perbuatan-perbuatan yang hanya menurutkan hawa nafsu, kemabukan yang menggerogoti akal sehat membuat si aku lirik lupa berhitung, lupa antara yang benar dan yang salah. Di tempat itu, si aku lirik menjadi lupa bahwa seluruh dunia dan seisinya adalah ciptaan Tuhan. Si aku lirik lupa siapa Tuhan yang telah menciptakannya, lupa bahwa ada kewajiban-kewajiban yang harus dia jalani sebagai seorang hamba. Kota itu dan pemilik kota itu telah membawanya lupa pada jalan Tuhannya. Kondisi tersebut membuat si aku lirik merasa telah banyak kehilangan, kehilangan ketenangan, kedamaian, dan kehilangan kesadaran dan kewarasannya.

/Dan kini ingin segera pulang/
/Tinggalkan kotamu sebelum kambuh jalan jalang/

Saat si aku lirik kembali di kota yang pernah membuatnya tersesat dan nyaris lupa jalan pulang, dia ingin segera kembali meninggalkan sejauh-jauhnya tempat itu agar tidak membuatnya kembali pada jalan sesat.

Demikianlah Y.S. Sunaryo memproteksi dirinya setelah kembali pada jalan hakikat dalam kehidupannya sebagai seorang yang ingin menjauhi semua perbuatan buruk yang pernah dijalani dan meninggalkan secepat-cepatnya tempat sekaligus orang-orangnya agar tak kembali mengulang jalan yang salah. Dalam ketakutan-ketakutannya kembali mengulang sejarah kelammya Y.S. Suryanto berusaha keras untuk mencari jalan cahaya, mencari pencerah dalam kehidupannya agar tak gelap lagi langkahnya sebagi penunjuk jalan yang benar. Hal ini tergambar dalam puisinya yang berjudul “Mencari Cahaya”

MENCARI CAHAYA
Karya Y.S. Sunaryo

Akulah sang padam
Berjalan tanpa haluan di gelap malam
Berkawan segerombolan kelelawar hitam
Turuni lembah tak kepalang curam
Terbentur batu-batu hitam
Titik cahaya api ditelusuri
Dibelahlah dadaku dengan ilalang setajam belati
Gumpalan karat hati dicuci
Dalam senandung lirih pada Ilahi
Kutemui cahaya meringkuk di kedalaman hati
Cahaya diarak mengusir gulita
Lalu kupatri di tengah dada
Hingga mata tak mau lagi buta
Telusuri jalan naik ke rimbun sejuk iman
Jalan-Nya yang dahulu tak menjadi pijakan

Bandung, 15 Nopember 2017

Si aku lirik menobatkan dirinya sebagai sang padam. Sang padam sebagai simbol bahwa dirinya adalah orang yang gelap tak sedikit pun cahaya sebagai penerang hidupnya. Hati yang gelap, pikiran yang gelap, juga perilaku gelap yang menandakan sebuah keburukan keburukan telah dijalani dan semua itu berasal dari sebuah persekongkolan antara, hati, pikiran, dan perbuatan.

/Berkawan segerombolan kelelawar hitam// Kelelawar adalah sebuah simbol. Banyak pandangan yang keliru tentang kelelawar karena sifat alami hewan ini tidak biasa yaitu melakukan aktivitas dan kegiatan pada malam hari sebagai hewan nokturno. Di Cina kelelawar dianggap melambangkan kebahagiaan dan umur panjang. Masyarakat jaman dahulu menganggap kelelawar kurang lebih sama seperti naga dan digolongkan sebagai mahluk berkelamin ganda atau hermaphrodit. Bentuk sayapnya selalu disangkutpautkan dengan hal-hal yang berhubungan dengan neraka. Bagi masyarakat Eropa abad pertengahan kelelawar adalah sebuah simbol nasib baik di Timur dan itu mewakili setan dan roh-roh.

Berdasarkan makna simbol-simbol tersebut dapatlah ditarik sebuah makna betapa pertemanan yang telah dijalin oleh si aku lirik adalah sekawanan orang-orang yang justru berbanding terbalik dengan norma-norma dan aqidah yang dianutnya. Sebuah pertemanan yang justru melawan arus jalan kebenaran yang semestinya dianutnya berdasarkan pola pendidikan di sekolah juga sisi kebenaran agamanya. Kelelawar sebagai simbol kebahagiaan dan keabadian bagi dunia hitam namun dalam hakiki keimanan si aku lirik tak ada kebahagiaan dan keabadian kecuali dalam keabadian setelah kematian bersama seluruh amalan perbuatan baik, ilmu yang bermanfaaat bagi orang banyak, dan keturunan-keturunan yang senantiasa melangitkan doa-doa untuknya.

/Dibelahlah dadaku dengan ilalang setajam belati/
/Gumpalan karat hati dicuci/
/Dalam senandung lirih pada Ilahi/
/Kutemui cahaya meringkuk di kedalaman hati/
/Cahaya diarak mengusir gulita/
/Lalu kupatri di tengah dada/
/Hingga mata tak mau lagi buta/
/Telusuri jalan naik ke rimbun sejuk iman/
/Jalan-Nya yang dahulu tak menjadi pijakan//

Pada larik-larik berikutnya si aku lirik sampai pada titik balik kehidupannya. Entah peritiwa apa yang telah terjadi namun begitu kuat seolah mampu membelah dadanya sebagaimana Nabi Muhammad dibelah dadanya oleh malaikat untuk dibersihkan hatinya dari segala keburukan, disucikan hatinya dari prasangka buruk, iri, dengki, juga keinginan-keinginan buruk. Pengalaman batinnya sampai pada kedalaman batin yang membawanya pada sebuah pengakuan dan keyakinan terhadap jalan keillahian, jalan keimanan yang dahulu begitu jauh dari perilaku hidupnya. Sekembalinya si aku lirik pada jalan Tuhan dia merasakan sebuah kesejukan dan kedamaian hingga sampailah dia pada sebuah pertaubatan dan berharap tidak lagi menempuh jalan yang membutakan mata hati dan pikirannya dan membawanya pada perbuata-perbuatan yang salah sehingga menyesatkannya. Si aku lirik menemukan cayaha dalam kehidupannya yaitu Nur Illahi.

Namun rupanya jalan kebenaran tak selalu berjalan dengan mulus, semua membutuhkan proses dan kesabaran yang panjang. Kehidupan baru harus ditata secara perlahan, keyakinan dibangun setingkat demi setingkat, kebiasaan-kebiasaan baru harus dijalani meski tertatih dan semua butuh kesabaran. Setelah ditutupnya jalan rejeki yang mengandung kesesatan si aku lirik berniaga di jalan Tuhannya dengan berbekal kesabaran dan dhuha-dhuha yang dia pintakan sebagai jalan rejeki yang halal sebagai nyala api kesabaran. Inilah yang kemudian tergambar pada puisi berjudul “Nyala Api Kesabaran”.

NYALA API KESABARAN
Karya Y.S. Sunaryo

Api pagi ditikam hujan
Bara bersembunyi di ranting basah
Nyala berlarian mencari matahari
Redup sepanjang pandangan hari

Para pencari hangat tak patah hati
Tuangkan doa di sajadah duha
Cinta mensaripati
Membulir cahaya imani di balik dada

Tangisan gigil terhenti
Pohon kehidupan mesti dinaiki
Memetik buahnya di balik kesuburan daun
Ditanak di api kesabaran

Dan kita menyaksikan
Ketabahan sedang bersekutu dengan perjuangan
Memintal harapan
Di langit kekal pemberian

Bandung, 15 Nopember 2017

Pada puisi ini menjelaskan sebuah pertautan linimasa perjalanan seorang hamba menyetiai jalan kebenaran yang telah dipilihnya. Bahwa, pilihan selalu mengandung sebuah konsekuensi logis dari pilihan. Saat seseorang berkesanggupan meninggalkan jalan salah yang telah dijalani dengan memilih jalan kebenaran, maka dia juga harus berkesanggupan menerima dan menjalankan hal-hal baru yang bertentangan dengan jalan sebelumnya. Ada ritual-ritual peribadatan yang harus dijalani. Ada kerja keras yang harus ditempuh untuk mendapatkan rejeki yang halal. Doa-doa yang diyakini mampu membuatnya kuat dan perniagaan seorang hamba dengan Tuhannya melalui dhuha-dhuha yang dia jalani dengan harapan dimudahkan, dilancarkan, dan dilapangkan jalan rejekinya. Hanya Tuhan tempat meminta, hanya kepada-Nya tempat meminta pertolongan, dan hanya kepada-Nyalah tempat bersandar segala keluh.

Demikianlah perjalanan relijiusitas Y.S. Sunaryo melalui puisi-puisinya. Semoga telah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Salam literasi.

Comments

Popular posts from this blog

KRITIK EKOLOGIS DALAM PUISI "TANGISAN BUMI" KARYA SRI WURYANINGSIH

51 PENYAIR PILIHAN DALAM BANGGA AKU JADI RAKYAT INDONESIA

PUISI LUGU NOORCA MARENDRA