Puisi Andang Bachtiar

Andang Bachtiar

Kau Iwan
Aku Yayang
Kau seniman
Aku cenayang
🤣

Andang Bachtiar

Hidup pantun !
Hidup Wahyudin !
Banyak senyum !
Hidup terjamin !

Andang Bachtiar

Kupikir burung enggang
Ternyata ayam hutan
Kupikir keberhasilan
Ternyata pencitraan

Andang Bachtiar

tidak ada apa-apanya

gunung itu hebat karena jadi pasak yang menenangkan
: bumi yang berguncang

besi dalam batuan hebat karena menerobos dan memancang
: gununggunung yang bergoyang

api itu hebat karena bisa melelehkan besi

air itu hebat karena bisa memadamkan api

angin itu hebat karena menggerakkan air di lautan jadi gelombang

tapi semua benda dan proses ciptaan itu
tdk ada apa-apanyanya dibandingkan dengan
: orang sedekah yang ketika tangan kanannya memberi tangan kirinya tidak mengetahui,

: dahsyat!!!!

sedekah itu lebih hebat dari bumi yang berguncang, gunung yang tenang, besi yang memancang, api yang melelehkan, air yang memadamkan, dan angin yang menggelora,

: dahsyat!!

khutbah jumat di pulau tidung, pulau seribu, 04jan 2013 ditulis ulang di jatibening, bekasi, 22mar 2016
dibacakan di paris, 15 sep 2017

Andang Bachtiar

7102017

Kalau ibuku masih ada,
hari ini dia pasti nilpun aku,
lalu aku dengarkan kata-katanya yang sederhana tapi selalu penuh makna,
selamat ulang tahun yo Yang,
mugo wetengmu gak kumat-kumatan,
ojok lali sembahyang,
anak-bojomu sehat kabeh khan? ...
dhelok-en adik-adikmu iku lho: Bagong, Adit. Iman ...

Dan aku seringkali menjawab:
Ibuk sakjane sing ulangtahun iku ibuk,
ulangtahun nglahirno aku,
Selamet & matursembahnuwun ya bu,
sudah ketitipan Tuhan melahirkan dan membesarkanku...
Moga ibu terus diberi kekuatan, kesehatan, kecukupan, kebahagiaan ...
Sambil airmataku mulai menggenang,

Apalagi di delapan tahun terakhir sebelum ibu meninggal,
ketika akhirnya ibu hanya bisa berbisik lewat tilpun yang diputerkan mbak Ida atau mas Yoyok dr sana di Malang,
dan hanya "Ah, Uh, Heh.... Yang..." yg keluar dr speaker hape yg aku pegang...
Meski tanda hidup sudah mulai dipundut Allah sebagian sebagian,
Tapi masih juga ibu menyempatkan, mengirimkan sinyal kasih sayang...
Air mataku makin menggenang...

Dan ibupun berpulang, beberapa tahun berselang
Tapi tetap aku bisikkan kembali di ruang kesadaran ...
Selamat ulangtahun melahirkanku, ibu
Terimakasih telah melahirkanku,
Dan bertahun-tahun kemudian,
: membesarkanku
dengan kasih sayang

Allahumaghfirlaha, warhamha, wa'afiha, wa'fuanha. Alfatihah, untuk almarhumah ibu-ibu kita semua.
Dan yang masih dikaruniai anugrah ibu-ibu yang masih sehat dan timur:
Sampaikanlah terimaksih dan ungkapan kasihsayang,
Saat tiba hari kelahiran berulang...

ADB
Paris, 7 Okt 2017

Andang Bachtiar

JAUH DEKAT SAMASAJA

Sejauh apapun aku dari Indonesia
Aku masih berada di rumah
Karena tempat tinggalku adalah cinta
Ruang tamuku adalah percaya
Peraduanku adalah pasrah
Tak ada pintu tak ada jendela
Rumahku adalah maksud baik dan cita-cita
Aku merdeka!
Aku akan bawa mereka semua
Ke Indonesia!

Aku berbincang dengan kondensat di Nigeria.
Menyelami jebakan minyak di laut dalam Namibia.
Memantas-mantas katup gas di pantai Tanzania.
Menjejaki rawa bergaram di Gabon.
Menelusuri Pegunungan Atlas dan gurun panas di Aljazair.
Membongkari lapisan lapisan danau purba di tepi Laut Merah di Sudan Utara.
Diskusi dengan penguasa cadangan gas raksasa di udara panas seperti disetrika di Doha.
Merunut jejak klastik yg longsor ke laut dalam di Cekungan Arakan di Birma.
Menjajaki kemenerusan gas-gas Natuna di selatan Vietnam sana.
Merancang kolaborasi berapapun minornya dari Celah Timor Australia.
Menggambar ulang patahan-patahan di pegunungan sebelah barat Medelin Kolombia.
Mereka-reka cara nge-tap hidrokarbon berlilin di Maracaibo Venezuela.
Menunggu merangkaknya harga sambil mengkaji ulang lumuran minyak di pasir Alberta Kanada.
Menyiasati Eropa yg tidak lagi mau ada eksplorasi migas di tanah Perancis dan Italia.

Apa kabar gamping bergas Peutu, Belumai, Tampur di Aceh sana?
Pantai barat Lhok Nga sampai Meulaboh yang belum tersentuh apa2.
Gas serpih di sepanjang pantai timur Sumatra utara.
Minyak2 yang masih nyangkut di dalam bumi Riau yang menunggu i o a (EOR).
Migas yang tersembunyi di bawah kuburan volkanik sepanjang muka-gunung Bukit Barisan Sumatra.
Gas-gas biogenik di 10 cekungan Indonesia.
Longsoran-longsoran klastik bermigas di lereng-lereng laut dalam Tarakan, Selat Makassar dan sekitarnya.
Apa kabar Indonesia Timur?
Apa kabar minyak-minyak Permian di sepanjang Busur Banda?
Jalur gas di Pegunungan Tengah Jaya Wijaya, minyak2 dangkal dan gas-gas Mesozoik menengah di Teluk Bintuni, Salawati, dan seluruh Papua.
Gas-gas yag bertapa di tinggian2 terkubur di selatan Jawa antara Banyuwangi dan Yogjakarta.
Apa kabar Indonesia?

Sedekat apapun aku dengan geologi minyak bumi di tanah kelahiran.
Tak akan tega kuhentak sumbat menghancurkan.
Para penghalang penutup fakta pemilik pandang miopia.
Sudah kucoba, sudah kuteriakkan peringatan bahaya.
Biar saja mereka belajar meski ongkosnya mahal bagi kita semua.
Aku akan tetap berjaga-jaga.
Karena aku cinta Indonesia.
Karena aku merdeka!
Akan aku tunjukkan kerja
Bukan hanya debat aturan coba-coba dan bikin mandeg semuanya.

Jauh dekat sama saja.
Karena aku pecinta.
Meski harus bertarung diam-diam dengan ego-jiwa.
Jauh dekat sama saja.
Karena aku merdeka.
Meski harus nyeri memecah belenggu kenyamanan zona.

Jauh dekat sama saja.
Untuk Indonesia.

Paris, 8 Oktober 2017
ADB - Geologist Merdeka!!!

Andang Bachtiar

CERMIN YANhG TAK PERLU KUBANTING PECAH

DI Lagos, Nigeria
Debu jadi lumpur
Pasir angin menyembur
Setiap guruh, setiap badai
Tak juga menghapus luka berantai
Generasi yang hilang mata
Diinjak-injak sepatu larsa
Suku-suku yang berbeda-beda
Atas nama (perang) saudara

Aku mendarat lalu bekerja
Hanya tigapuluh  jam saja
Tapi serasa berabad lamanya
Mendengarkan cerita
Tentang Lagos, tentang minyak dan gasnya, tentang Nigeria.
Bahkan tanpa geologi - begitu saja.

Disini waktu terbang seperti khayalan
Korupsi, mark-up, ekonomi biaya tinggi
Seperti sarapan, makan siang dan makan malam.
Sehari-hari, setiap hari.
Sound familiar, hah?

There are right ways, there are wrong ways, and there are Shell ways.
Nobody dare to shout out and to say
Enough is enough, nor prayer neither pray
Hypocrisy is the middle name of everybody.

Orang-orang berjualan di tengah jalan raya
Hujan gerimis hujan deras tak ada beda
Karena highway jadi tempat parkir berkilo2meter panjangnya
Ditengah raungan sirene dan klakson mobil2 yg sanggup bayar voor-rijder di muka.

Tapi kalau ingin melipatgandakan dana
Disinilah tempatnya
Sumber energi melimpah yang baru sedikit terbuka.
Hanya saja: berhati-hatilah
Bisnis dan politik sdh jalin menjalin sedemikian rupa.
Selebihnya terserah anda.

Aku bersyukur jadi orang Indonesia
Dapat cermin yg tak perlu kubanting pecah
Di Lagos, Nigeria.

Bandara Murtala, 11 Okt 2017
ADB - Geologist Merdeka

Andang Bachtiar

SARAPAN DI HILTON PARIS OPERA *)

Belum lagi jam 9 pagi
Di kota bawah Paris yg basah
Tak banyak yg bergegas seperti hari-hari biasa
Bayang-bayang muram pantulan kaca di bis kota
Aku memandang dr tempat makan hotel di lantai 2
Sambil bikin catatan di waktu yg tak pernah mau disela

Ada kepastian pergantian musim
Bagi yang bersiap dengan benih-benih harap
Ada kepastian perubahan jalan
Bagi yang bersiap dengan peta-kompas dan akal sehat

Dari sudut belantara Afrika ke pusat pergerakan di Eropa
Harapan ditanamkan, peta jalan disiapkan, akal sehat diikuti

Kalau masih ada juga yang bertanya
Apa yg kita punya yg mereka tak bisa kira
Kesetiaan pada cita-cita
Ibu bumi dan bapak matahari
Pemahaman mata facet serangga
Bukan kacamata kuda beban
Politik kekuasaan
Itu adalah keyakinan

Sudah hampir jam 10 pagi
Di Paris setasiun kereta
Udara menggigil, kesadaran memanggil
Sayup-sayup Radiohead timbul tenggelam melayang
I am a creep
I am a weirdo
What the hell am I doing here
I don’t belong here”

Aku memandang ke kaca dalam restoran
Aku pulang.

Paris, 11 Nov 2017
ADB - geologist merdeka

*) versi Paris dari “Breakfast at Tiffany’s”

Comments

Popular posts from this blog

KRITIK EKOLOGIS DALAM PUISI "TANGISAN BUMI" KARYA SRI WURYANINGSIH

51 PENYAIR PILIHAN DALAM BANGGA AKU JADI RAKYAT INDONESIA

PUISI LUGU NOORCA MARENDRA