PUISI BANJIR

Puisi Yesmil Anwar

apa yang kita pahami tentang kegelisahan air saat ditinggal pergi pepohonan, hutan, dan gunung gemunung?

Karena sepinya ia pun mencari kota
Menahan jembatan dalam buaian
Lalu berbondong bondong meninggikan batas yang tak terjangkau rumah dan pertokoan...

Orang orang bersampan memandang dari kejauhan menanti air surut:
"Katanya banjir belum surut....!?"

Mereka menerka nerka.
Mereka menangkap tanda jatuhnya matahari di genangan terakhir, pendarnya menyilaukan mata.

Tak peduli betapa melelahkannya perjalanan sungai
yang memanggul beban rindu akan rindangnya hulu tempat mata air bersumber.

Orang orang pun berteriak, karena tidak sabaran: "tutup sumbernya, matikan keloknya!".

Lalu beramai ramai mereka memperkosa sungai, gunung, hutan di rumah orang bunian

Dari balik mimpi para pengungsi
Matahari tak kunjung tiba,
sementara air semakin meninggi di ujung jemari ribuan anak sungai, hutan-hutan dan gunung gemunung yang bertemu saling berpelukan

Yesmil Anwar, 2014

[v]

Comments

Popular posts from this blog

KRITIK EKOLOGIS DALAM PUISI "TANGISAN BUMI" KARYA SRI WURYANINGSIH

51 PENYAIR PILIHAN DALAM BANGGA AKU JADI RAKYAT INDONESIA

Puisi Andang Bachtiar