PUISI DARI SEORANG PERUPA

Oleh: Heru Emka

Mungkan anda agak heran dengan sajian saya kali ini. Puisi Eddie Hara ? Bukankah Eddie Hara seorang perupa ? Ya, Eddie Hara memang sakah satu dari perupa ternama kita, yang kini bermukim di Bassel, Swiss. Eddie dikenal dengan lukisannya yang sarat dengan imaji yang liar, komikal, menampilkan pesan yang sinis – namun tersaji dalam visualisasi yang segar – dan tak jarang menyimpan kearifan yang terselip di balik aneka pose dan adegan dari sebuah dunia drama yang dipenuhi mahluk-makluk imajinatif yang aneh. Gaya visual seperti ini menjadi lambang dekonstruksi Eddie Hara terhadap dunia dan segenap wacananya yang kasat mata.

Namun, bagi yang mengenal perjalanan seni Eddie Hara, sebenarnya tak kaget dengan puisi-puisi yang kini diciptakannya, karena dia lebih dulu menulis puisi, sebelum berkenalan dengan wacana senirupa di almamaternya, ISI, Yogya. Dan puisi bagi seorang perupa ibarat sebuah tangan, yang melengkapi tangan satunya lagi. Seperti keahlian memainkan dua alat musik yang berbeda bagi seorang musisi. Sebuah diferensiasi yang justru saling melengkapi. Dan sepertinya, sebagai penyair, Eddie Hara tak saja punya nyali untuk menghadirkan kata-kata yang cukup bernas,- namun juga berhasil memilih kata-kata yang efektif dan ‘menyala’. Seperti “( berpuluh kota / di tiga benua / plus laporan cuaca / apakah kau masih mampu membakar cinta kita?) “.

Sayangnya aktifitas Eddie Hara sebagai perupa yang kini disibukkan oleh berbagai pameran di kota besar Asia, agaknya ‘menenggelamkan’ hasratnya untyuk berpuisi. Puisi-puisi yang telah ditulisnya, terselip entah di mana, dan tentang puisi baru. Sementara ini dua puisinya dikirimkan kepada saya, yang seperti kata Eddie, sempat dituliskan di sela aktifitas melukisnya. Yang menggembirakan,

Not bad, Eddie, actually, cuz he rearrange the straggle moments of the world within, into a flowin’ poetical rhyme.Likewise his style to confront all restless, his words settle in a combination of cozy words. Flowin’ around. Just like a melodies in a silly love song. ( “kutunggu sunset /dengan alun Metallica / para nelayan telah berlabuh / tanpa suara / dan sia-sia “) . Di bawah ini adalah
  
  Eddie Hara, yang juga telah menjadi penyair haiku, dan haikunya ikut mengisi antologi haiku Danau Angsa ( Gramedia Pustaka Utama, 2011 )tak saja menjadi peserta antologi puisi mbeling Suara Suara dari Pinggiram, yang akan diterbitkan oleh Kelompok Studi Sastra Bianglala,- namun juga dengan senang hati ikut menggarap cover bukunya. Di bawah ini adalah dua puisi Eddie Hara, dan untuk menyambutgnya, saya sertakan juga sebuah puisi saya, yang saya tulis khusus untuknya, lama sebelumnya…

Sajak Eddie Hara

*ZURICH AIRPORT (for CM)

ruang tunggu yang resah
boarding pass yang nyaris tak terbaca
seperti pikiranmu
yang takkan bisa kuterka
beratus ciuman perpisahan
kulekatkan di bibirmu
airmata berbicara
senyaring degup jantung kita
(berpuluh kota
di tiga benua
plus laporan cuaca
apakah kau masih mampu membakar cinta kita?)

centang perentang runaways
seperti kisah kita
panjang berhiaskan cahaya
tanpa final desitanation pula
stop over di mana-mana
seperti ingin melukai kisah lama
tanpa sakit yang mengada-ada
mari membangun cinta,
katamu agak terbata-bata
aku terpana
pesawatku menghilang di cakrawala.

2006.

GILI AIR.

pantai bermimpi
matahari tropika
bersiul sendiri
di depan turis dan bikini
melaut
bersama barracuda
makan siang
dua botol bir
di bawah atap gazebo
sambil snorkelling
pesan pizza romana
kirim sms
di atas sepiring pelecing
(Do you wanna that grilled lobster for dinner, Sir?...)
kenangan lama
yang tak juga pupus
seperti usiaku
menjadi tua dan matang
kutunggu sunset
dengan alun Metallica
para nelayan telah berlabuh
tanpa suara
dan sia-sia

2007.

Sajak Heru Emka :
METAMORFOSA BUNGA

- homage for Eddie Hara

tak lagi ingin meniti hari yang sama
sang bunga pun bertapa
semadi di perbatasan usia
(mimpi yang tak selalu sermpurna )

bergegas dalam kelumpuhan
bernyanyi dalam kebisuan
menulis di kegelapan
menyimak dari ketulian

menanggalkan diri dari akarnya
sang bunga melupakan masa dilam
bagai lebanh tanggal sengatnya
terjadi dalam hening yang nestapa

di puncak siang, waktu tak lagi mau
bersekutu, pada usia melapuk pelan
sang bunga terus bersemadi
kelopaknya meneteskan getah hitam

“ aku si lumpuh yang terus berlari
aku si bisu yang tak henti bernyanyi
aku si buta aksara yang menulis sajak
aku si tuli penyimak percakapan angin “

siang ke titik api
sang bunga meloncat
ke batas binasa
dan moksha
sebagai sufi….

2007

Comments

Popular posts from this blog

KRITIK EKOLOGIS DALAM PUISI "TANGISAN BUMI" KARYA SRI WURYANINGSIH

51 PENYAIR PILIHAN DALAM BANGGA AKU JADI RAKYAT INDONESIA

Puisi Andang Bachtiar