PUISI LUGU NOORCA MARENDRA

Oleh:Heru Emka

Apakah teman-teman mengenal nama Noorca Marendra ? Noorca Marendra ini adalah seorang penyair muda yang cukup penting dalam blantika sastra Indonesia di tahun’70-an. Bersama sqaudara kembarnya; Yudhistira Ardi Nugraha, mereka menjadi pasangan muda yang menyemarakkan blantika sastra Indonesia waktu itu bersama dengan nama-nama lainnya, seperti Adri Darmaji Woko, Handrawan Nadesul, Prijono Tjiptoherijanto dan tentu saja Emha Ainun Najib, Linus Suryadi Ag dan Sutirman Eka Ardana dari Jogya.

Yang menandai gaya khas dari puisi puisi Norrca adalah idiom bahasanya yang sederhana, santai, dan  perlahan-lahan mengajak kita menelusuri rangkaian kata-kata membentuk bangunan makna. Kesan lugu dalam berpuisi ini mungkin sengaja dipilih oleh Noorca, mengingat pada masa itu ( pertengahan tahun ’70-an ) hanya majalah sastra Horison yang dianggap sebagai satu-satunya penentu kualitas sastra kita , sehingga bermunculan anggapan, bahwa penyair belum dianggap penyair bila karyanya belum muncul di majalah Horison. ( Suatu pendapat yang dsiam-doiam saya tolak hingga sekarang ini ). Susahnya, puisi-puisi Horison didominasi oleh gaya puisi Rendra, Goenawan Mohamad serta puisi ala Taufiq Ismail, yang bertaburan dengan metafora kata yang canggih.

Dan kebetulan saja kehadiran Noorca berbarengan dengan kemunculan gerakan Puisi Mbeling yang dipelopori oleh Remy Silado, Abdul Hadi WM dan Jeihan di Bandung.Dan Temy menyatakan landasan gerakan sastra ini sebagai, "Apa yang hendak didobrak oleh gerakan puisi mbeling adalah pandangan estetika yang menyatakan bahwa bahasa puisi harus diatur dan dipilih-pilih sesuai stilistika yang baku. Pandangan ini, menurut gerakan puisi mbeling, hanya akan menyebabkan kaum muda takut berkreasi secara bebas. Bahasa puisi dapat saja diambil dari ungkapan sehari-hari, bahkan yang dianggap jorok sekalipun. Yang penting adalah puisi yang tercipta dapat menggugah kesadaran masyarakat atau tidak, berfaedah bagi masyarakat atau tidak. ".

Saya memandang bahwa Nootca dengan jelas meletakkan puisinya pada sisi yang berseberangan dengan kekenesan sajak Rendra atau atau idiom simbolis dalam sajak-sajak Goenawan Mohammad.  Yang saya suka dari puisi Noorcca adalah di balik struktur bahasa dan gaya ucapnya yang sederhana, sering tersembunyi ironi, atau kesimpulan sederhana yang membentur logika pemikiran kita.  Maka, tak bisa tidak, puisi-puisi Noorca Marendara Massardi ini harus menjadi bagian dari buku antologi puisi mbeling Suara Suara dari Pinggiran, yang sedang saya susun, dan akan diterbitkan oleh Kelompok Studi Sastra Bianglala. 

SAJAK TENTANG SEBUAH CINCIN

Seorang orang tua:
Memasukan sebuah cincin ke jari manusia
Dan ajaib:
Cincin itu masuk ke bawah kulit di atas tulang
Pesannya:
“Itulah cincin bralaya itu, oleh karenanya, engkau menjadi kebal “
Bangun tidur:
( agaknya ia mimpi barusan tadi ) ia jatuh dari ranjang
Kepalanya berdarah
Maknanya :
Tidak setiap mimpi membawa kita kepada berkah
Dengan kata lain :
Sajak ini, memang mustahil tidak bermakna

1975

SAJAK TENTANG SEBUAH MIMPI

Seorang anak yang malang
Mimpi ketemu sinterklas, tadi malam
Katanya : “ Sorga ada di bawah telapak kaki ibu…”
Pagi-pagi sekali, anak yang malang itu
Menangis di depan ibunya
Yang telah patus kedua kakinya
Adegan ini, sesunguhnya agak mengharukan
Tetapi kalau nasib menghendaki begitu
Kita mau apa lagi

1975

SAJAK TANTANG ENTAH APA

Ini adalah sebuah sajak
Tentang entah apanya namanya
Tak seorang bisa mengerti, barangkali
Apa yang dimaksud penyairnya

Ini adalah sebuah sajak
Walaupun mungkin tak bermakna
Tak berbobot dan tak berisi
Tak bicara apa-apa

Tapi ini adalah sajak
Sebab di tuliskan sebagai sajak
Berhasil ataupun tidak
Pasti  tergantung berbagai fihak
Terus terang saja
Ini memang sunguh-sunguh sajak
Tapi entah tentang apa
Silahkan mengkaji dalam-dalam

Sebab kalau bukan sajak
Lalu apa pula namanya ?

SAJAK TENTANG SEBUAH SAJAK

Suatu malam seorang pemuda gelisah tidur
Gara-gara sajak yang sederhana baik bentuk maupun isinya
Untuk jelasnya
Begini kutipan lengkapnya

Banyak penyair membuat sajak bagus-bagus
Tapi tak pernak sajak-sajak membuat penyair menjadi bagus

Banyak penyair berhasil berkat sajaknya
Tapi lebih banyak sajak berhasil karena penyairnya

Banyak orang sukses setelah jadi penyair
Tapi sedikit penyair sukses setelah jadi orang

Banyak penyair besar karena bakatnya
Tapi lebih banyak penyair besar berkat mulutnya

Dan nasehat ini untuk kalian yang bijaksana
Agar tak salah kaki memijak

Kalau kau mau jadi penyair
Tulislah sajak sebanyak-banyaknya
Tapi kalau kau tak mau jadi penyair
Sunguh engkau sebaik-baiknya orang
Itulah sebabnya barangkali
Kenapa ia menolak jadi penyair

Dan pilihannya memang wajar
Sewajar orang menjadi penyair

Tapi bukankah itu yang lebih baik ?

1975

SAJAK TENTANG SEBUAH DONGENG

Ini adalah sebuah dongeng
Perumpamaan  bagi setiap orang
Bila saudara bijaknyasana
Tentu gampang mencari makna

Seekor serigala yang kelaparan
Melihat kuda dipadang rumput
Dalam hatinya, karena ia kecil harus memakai
Taktik yang cerdik
Maka didekatilah magsa yang gagah dengan kepala yang
penuh tuah

hai ! Aku srigala hendak bertanya siapa nama
saudara binatang !
dan sang kuda, yang gagah lagi bijaksana segera terjaga
dengan siapa ia berwawanmuka
jawabnya : “ Bacalah namaku terukir di bawah sepatuku

sambil meneguk liur, ia mendekat kaki belakang mangsanya
dan ia terkapar dengan barisan giginya yang berterbangan
ketika tumit magsanya menolok di ujung moncongnya yang malang

tapi karena ia cuma binatang, dengan akal yang cupat
ia pun lari terbirit-birit
tak lagi-lagi aku  melawan kuda yang gagah itu, pikirnya

nach, saudara saudara
andai serigala itu manusia
ia akan kembali ke tempat itu dengan bedilnya
dan akan ditembaknya kuda itu sampai ajalnya
tentu saja dari belakang bukan ?

1975

SAJAK TENTANG SEBUAH TOPENG

Sebuah topeng
terpaku di dinding kamar
begitu kecil
begitu terpencil
padahal ia ingin sekali berjalan-jalan atau tamasya
kemana saja, asal sepi tak ada

seorang gadis
tergolek di dalam kamar
begitu terpencil
begitu kecil
padahal ia ingin sekali mengembara atau kelana
kemana saja, asal sepi ada disana

lalu pada suatu malam
seorang gadis yang tergolek di dalam kamar yang begitu
terpencil dan  begitu kecil
kehilangan sebuah topengnya yang terpaku di dinding
kamar yang begitu kecil dan begitu terpencil

(Topeng itu telah hilang, entah kapan, entah ke mana )
Tapi beberapa saat kemudian :
di dalam cermin, di kamar itu
seorang gadis menemukan topeng itu, pada wajahnya
dan di dinding kamar, di kamar itu juga
wajah si gadis terpaku di sana
begitu kecil dan terpencil
sendiri

begitulah duduk perkara yang sebenarnya
boleh percaya boleh juga tidak percaya

1975

Comments

Popular posts from this blog

KRITIK EKOLOGIS DALAM PUISI "TANGISAN BUMI" KARYA SRI WURYANINGSIH

51 PENYAIR PILIHAN DALAM BANGGA AKU JADI RAKYAT INDONESIA

Puisi Andang Bachtiar