PUISI-PUISI SAFRI NALDI: KRITIK TERHADAP MODERNITAS

Oleh: Agung Pranoto

Sastrawan (penyair dan penulis prosa) dalam karya kreatifnya berupaya menyampaikan sesuatu kepada masyarakat pembaca. Sesuatu yang disampaikan sastrawan dalam karya ciptaannya merupakan pemikiran kritis terhadap fenomena kehidupan manusia yang menjadi sumber inspirasi. Melaui karya sastra yang diciptakan itu pula dapat kita pahami arah yang diinginkan sastrawan. Arah yang diinginkan sastrawan itu sangat terkait dengan fungsi sosial sastra dan keberpihakan sastrawan untuk memperjuangkan sesuatu hal.

Terkait dengan hal tersebut, Luxemburg (1984: 24-25) memaparkan pemikiran kritik sastra Marxis. Lenin,  peletak dasar bagi kritik sastra Marxis, berpendapat bahwa di dalam susunan masyarakat terdapat hubungan timbal-balik (hubungan dialektik) antara bangunan bawah dan bangunan atas.  Menurut Lenin bahwa sastra (dan seni pada umumnya) merupakan suatu sarana penting dalam perjuangan proletariat melawan kapitalisme. Dengan demikian, sastra terikat akan kelas-kelas yang ada di dalam masyarakat, dan sastra mencerminkan kenyataan sebagai ungkapan pertentangan kelas.

Dari perspektif tersebut, seorang penulis (pengarang/penyair) akan menyuarakan kelasnya masing-masing sehingga akan terjadi apa yang dinamakan committed literature atau literature engagee (sastra yang berpihak). Gagasan literature engagee timbul sebagai akibat dari pengaruh ideologi modern terhadap kesusastraan. Semuanya ini akan mencerminkan perubahan sosial yang tepat dan mendasar pada zamannya (Damono, 1978:53).

Oleh karena terjadi literature engagee (sastra yang berpihak) maka akan lahir wajah sastra yang bermacam-macam tergantung pada setiap pengarang yang melahirkan sastra tersebut, karena dia juga termasuk salah satu anggota kelompok sosialnya. Dari sinilah menurut  Sangidu (1994) akan diketahui fungsi sosial sastra pada masing-masing kelompok sosialnya. Lebih lanjut dijelaskan bahwa fungsi sosial sastra yang akan dilahirkan pun wujudnya bermacam-macam, karena wajah sastra yang telah dilahirkan juga bermacam-macam.

Untuk melihat fungsi sosial sastra yang bermacam-macam itu maka tergantung dari kelas masyarakat mana sastra itu dilahirkan dan dari mana si penelaah memandangnya. Misalnya, sastra yang dilahirkan oleh seorang pengarang dari bangunan masyarakat bawah (kaum proletar) maka fungsi sosial sastra sebagai sarana perjuangan proletariat melawan sistem kapitalisme.
Membaca beberapa puisi Safri Naldi, dapat kita temukan kritik terhadap modernitas. Kritik terhadap modernitas sebagai bagian dari kapitalisme yang mendominasi kekuasaan, tentu melahirkan kritik atas berbagai persoalan sebagai akibat berlangsungnya kekuasaan yang berada di bawah cengkeraman kaum kapitalis. Kritik atas modernitas yang dilontarkan oleh Safri Naldi dapat kita temukan, misalnya melalui puisi di bawah ini.

BALON HIJAU

Anak-anak asik menyanyikan lagu riang gembira
'Balonku Ada Lima'
Hijau semua warnanya
Melambung ke angkasa
Meledak di dapur warga

Di SPBU dan pangkalan tertera harga
HET tulisannya
Rp. 16.600,- (saja)
Harga seperti itu, bisa dibeli di mana?
Kami bingung mencarinya

Balon hijau melambung kian tinggi ke angkasa
Warnanya sampai tak terlihat mata
Dicari sampai ke mana-mana
Kami resah ... kompor tak mau menyala
Balon hijau susah ditangkapnya

Pemerintahku luar biasa
Mengatasi masalah tanpa masalah (katanya)
Eh, itu motto Pegadaian, ya
Maaf saya terlupa
Balon hijau tak jua saya jumpa

Balon hijau balon langka
Melambung ke angkasa
Meledak di dapur warga
Anak-anak tak lagi nyanyikan 'Balonku Ada Lima'
Warna hijau sudah tidak ada

Ciwidey, 22-10-16

Membaca puisi berjudul “Balonku Hijau” di atas, kita teringat lagu yang sering dinyanyikan anak-anak. Di dalam lagu anak-anak, balon itu beraneka warna, sementara pada judul puisi di atas hanya satu warna yakni “hijau”. Dari judul puisi tersebut, dapat kita kata “balonku” merupakan simbol/tanda atau juga metafora yang dihadirkan penyair untuk membungkus realitas ambigu (pinjam istilah Derrida). Mengapa realitas ambigu? Kata “balon” itu persepsi orang berbeda-beda. Kecenderungan orang ketika memaknai kata ‘balon’ mengarah pada balon udara yang sering dihadirkan pada perayaan ulang tahun. Bagi masyarakat Surabaya, kata ‘balon’ berkonotasi negatif, yakni referensinya menunjuk pada pekerja seks komersial (PSK/WTS). Bagi penyair Safri Naldi, kata ‘balon’ yang diikuti dengan kata ‘hijau’ tentu menyimbolikkan maksud penyair; dan pembaca akan menginterpretasi dengan makna tertentu sesuai dengan knowledge of the world masing-masing interpretant.

Puisi “Balonku Hijau” ini sebenarnya penyair Safri Naldi mengritisi kebijakan pemerintah yang melenyapkan peredaran ‘minyak tanah’ yang berpuluh-puluh tahun dimanfaatkan masyarakat untuk berbagai keperluan, salah satunya untuk memasak. Pemegang kekuasaan berpikir tentang modernisasi di negeri ini, setidaknya meniru (mengikuti) pola masyarakat/negara modern. “Balonku Hijau” tersebut tak pelak lagi sebuah benda berbentuk bulat dan berwarna hijau, yakni tabung gas LPG. Kebenaran pemaknaan atas hadirnya simbol atau tanda, akan bisa terlacak melalui keterhubungan antara judul dan tubuh puisi di atas.

Menikmati puisi “Balonku Hijau”, pembaca seakan diajak rekreasi ke dunia anak-anak, namun di sisi lain pembaca diajak rekreasi ke motto fantastis dari pegadaian “mengatasi masalah tanpa masalah” (‘mengatasi masalah menambah masalah’?). Kritik terhadap kebijakan penguasa (kritik terhadap modernitas) dalam puisi di atas diungkapkan dengan pilihan diksi yang sederhana tetapi dibumbui unsur kejenakaan. Gaya kritik semacam ini merupakan cara yang cocok untuk masyarakat Indonesia yang sebenarnya salah satu ciri masyarakat Indonesia secara umum antikritik.

Bait 1 puisi di atas dijelaskan hubungannya dengan judul yakni “Balonku ada lima” yang diletakkan di antara tanda petik (‘…’) yang mengindikasikan pada jumlah yang tidak sekadar lima, melainkan bisa melebihi dari jumlah tersebut; lalu baris “Hijau semua warnanya”; serta “Meledak di dapur warga”.  Dari ketiga baris puisi di bait 1 tersebut sebagai kunci utama untuk menjelaskan makna bait 1 yakni tabung gas yang menjadi program pemerintah itu juga bisa meledak dan (mungkin) bisa mencelakai pengguna (warga masyarakat). Bait 2 dengan penanda angka Rp 16.600,- menunjukkan harga gas LPG dengan tabung seberat 3 kg. Hanya persoalannya, program pemerintah  tersebut di mata penyair tidak diimbangi dengan kemudahan di dalam pembelian tabung gas beserta isinya. Bait 3 masih terkait dengan bat 1 dan 2 menyoal susahnya membeli gas yang berdampak pada kegelisahan warga masyarakat. Bait 4 merupakan bentuk sanjungan kepada pemerintah yang dikemas dengan humor, namun sanjungan ini sebenarnya suatu ironi yang mengandung kritikan. Bait 5 merupakan penegasan kembali dari apa yang telah diungkapkan melalui bait 1—4.
Puisi di atas jelas kritik terhadap modernitas. Bukan modernitas yang menjadi persoalan, melainkan ketidaksiapan pemerintah terhadap penerapan kebijakan. Di dalam puisi itu pun, Safri Naldi juga tidak antimodernisasi. Penyair hanya memotret dan mengabadikan perubahan zaman/peradaban yang justru manusianya tidak siap dengan perubahan tersebut. Dari sisi teori analisis wacana kritis (AWK) yang trend beberapa tahun terakhir ini, bahwa puisi di atas mengimplikasikan kepada “suatu proyek” dari kaum kapitalis yang dicantolkan melalui tangan penguasa terkait dan ujung-ujungnya adalah financial yang mencerahkan bagi perusahaan, pemerintah, dan pribadi-pribadi yang membuat kebijakan atas perubahan dari memasak melalui kayu bakar, minyak tanah ke gas.

Selanjutnya, kritik modernitas juga tampak jelas pada puisi berjudul “Tragedi Minamata” berikut ini.

TRAGEDI MINAMATA

Terkontaminasi
Kisah tragedi
Demi kantong-kantong pribadi
Hilang rasa peduli

Tuan-tuan serakah
Sembarang buang limbah
Ke laut, ke sungai, dan ke tanah
Rakyat kecil hanya pasrah

Minamata
Penyakit belum ada obatnya
Berasal dari limbah berbahaya
Merkuri namanya

Dulu di Jepang sekarang di Surabaya
Tidakkah Tuan lihat bahayanya?
Minamata bukan penyakit biasa
Tuan-tuan jangan hanya pikirkan keuntungan semata

Limbah jangan buang sesukamu
Kami tak mau memakan racunmu
Jangan hanya memikirkan kantongmu
Pakailah hati nuranimu

Ciwidey, 10-10-16

Puisi “Tragedi Minamata”, kritik modernitasnya yakni didirikannya pabrik oleh perusahaan tertentu. Pabrik merupakan simbol hadirnya kaum kapitalis dan pertanda adanya kemajuan teknologi dan peradaban. Penyakit minamata sebenarnya berasal dan berawal dari tragedi di Teluk Minamata Jepang akibat mercury. Efek dari terkenanya penyakit ini yakni terjadi kelumpuhan syaraf yang sangat fatal. Yoga Jiwanjaya (biologiedukasi.com, 2015) memaparkan bahwa tragedi minamata terjadi pada tahun 1959, sector utama perekonomian di Minamata (Jepang) adalah perikanan. Para peneliti dari Universitas Kumamoto (Medical Study Group) dan Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Jepang melaporkan bahwa Teluk Minamata telah terjadi pencemaran methyl-mercury. Seluruh ikan dan hewan laut juga telah tercemari. Penduduk Minamata mengonsumsi ikan rata-rata sebanyak 3 kg per harinya, sehingga menyebabkan bioakumulasi pada penderita. Pencemaran air laut itu disebabkan oleh limbah pabrik Chisso yang memroduksi pupuk kimia dan  asam asetat (Acetic acid), Vinyl Choryde dan plasticizers.
Melalui puisi tersebut, kritik penyair di tujukan kepada kelompok kapitalis ketika mendirikan perusahaan agar tidak seenaknya membuang limbah di laut, di sungai, dan di tanah, sebab racun dari limbah tersebut akan berdampak bagi kehidupan orang-orang atau hewan-hewan di sekitarnya. Para pejabat yang terkait hendaknya tidak mudah begitu saja memberikan izin pendirian pabrik dan perlu ada tim khusus yang melakukan kajian atau di Indonesia dikenal dengan istilah AMDAL. Untuk kepentingan bisnis hendaknya tidak semata-mata mengeruk keuntungan pribadi melainkan harus memperhatikan dampaknya bagi masyarakat sekitar; atau kritik penyair “Pakailah hati nuranimu”. Di dalam puisi itu, penyair menyinggung tentang penyakit minamata merambah wilayah Indonesia, yakni Surabaya.
Selanjutnya, mari kita cermati puisi berjudul “Sekolah-Sekolahan” yang bertitimangsa 5 Oktober 2016. Puisi tersebut mengritisi negeri Indonesia yang belum mapan. Di dalam puisi tersebut terdapat keprihatinan soal lembaga pendidikan di negeri ini masih ada yang dindingnya tak utuh, atap hampir roboh, guru tak digaji (tak ada tunjangan), sarana-prasarana pendidikan yang sangat jauh dari harapan ternyata masih mewarnai pendidikan di Indonesia di tahun 2016. Hal ini sungguh ironis dan miris di tengah-tengah peradaban yang senantiasa bergulir dan teknologi modern telah memasuk negeri ini. Selain itu, negara-negara yang tergabung dalam ASEAN akan memasuki era baru penerapan perdagangan bebas kawasan Asia Tenggara, yakni ASEAN  Free Trade Area (AFTA). Sejauhmana kesiapan sumber daya manusia (SDM) Indonesia dalam era AFTA jika di negeri ini masih dijumpai lembaga pendidikan sebagaimana yang dipotret oleh Safri Naldi seperti puisi di bawah ini?

SEKOLAH-SEKOLAHAN

Di sini kami belajar, menimba ilmu
Di sekolah-sekolahan
Tanpa dinding utuh
Atap hampir rubuh

Di sini kami mengajar, memberi ilmu
Di sekolah-sekolahan
Dengan semilir angin
Basah-basah ketika hujan

Di sini kami terdidik, menjadi anak bangsa
Di sekolah-sekolahan
Bertahan di keprihatinan
Diucapan 'kasihan' tuan-tuan

Di sini kami mendidik, mencipta anak bangsa
Di sekolah-sekolahan
Tanpa tunjangan
Tanpa jabatan

Di sini kami berjuang, mengejar masa depan
Di sekolah-sekolahan
Pendidikan tanpa perhatian
Tanpa kecukupan peralatan

Di sini kami memperjuangkan, memberi masa depan
Di sekolah-sekolahan
Dipaksa bertahan
Indonesiaku belum mapan

Di sini aku kehabisan kata
Di sekolah kota

Ciwidey, 05-10-16

Puisi “Sekolah-Sekolahan” juga merupakan kritik penyair terhadap modernitas yang berlangsung di negeri ini. Selain kritik modernitas, dalam puisi itu pula sebenarnya kritik keras terhadap Menteri Pendidikan beserta jajaran bawahannya yang tidak sigap, tidak tanggap, juga tidak melakukan pemetaan terhadap lembaga-lembaga pendidikan di daerah terpencil, terutama, yang benar-benar memerlukan pemikiran dan pembiayaan agar bisa menjadi lembaga yang layak digunakan untuk mencerdaskan anak-anak bangsa.
Dari sisi judul “Sekolah-sekolahan” itu menunjukkan gambaran ketidakseriusan atau hanya main-mainan. Hal ini entah disengaja oleh penyair Safri Naldi dengan judul demikian atau ketidakpahaman penyair terhadap makna “sekolah-sekolahan”. Kata “sekolah” merupakan kata benda, sedangkan “sekolah-sekolahan” merupakan kata sifat menyerupai “sekolah”. Analogi dari istilah tersebut, kita hadirkan istilah yang lain misalnya kata “rumah” referensinya menunjuk bangunan rumah tempat tinggal, sedangkan “rumah-rumahan” referensinya menunjuk sesuatu yang menyerupai rumah.

Masih terkait dengan puisi berjudul “Sekolah-Sekolahan” kita coba hubungkan secara intertekstual (pinjam istilah dari Kristeva maupun Derrida) dengan puisi berjudul “Pelajaran Lama” berikut ini.

PELAJARAN LAMA

Ini Budi
Budi kini tak lagi bersekolah
Budi berdiri di sisi lampu merah
Memegang koran dan majalah

Joni bingung
Di sekolah tak lagi ada pelajaran tentang keluarga Budi

Bandung,14 05 15

Puisi berjudul “Pelajaran Lama” mengimplisitkan kritik atas modernitas di negeri ini ternyata masih ada anak-anak usia sekolah yang tidak bisa bersekolah tetapi mereka, entah atas kehendaknya sendiri ataukah dieksploitasi oleh orangtuanya, untuk berjualan koran dan majalah di perempatan jalan raya ataukah di jalan-jalan yang dipasang trafficlight. Fakta semacam itu tidak hanya yang menjadi tangkapan indera penyair Safri Naldi saja. Di kota-kota besar seperti Surabaya, Malang, Semarang, Jakarta, dan lain-lain masih banyak kita jumpai.

Secara umum, puisi-puisi Safri Naldi diciptakan berpijak dari ilham, inspirasi, berdasarkan pengamatan fenomena social-budaya-politik yang terjadi di negeri ini. Artinya puisi-puisi tersebut diciptakan penyair tidak bermula dari sesuatu yang dihayal-hayalkan, melainkan didadarkan pada pengalaman puitik. Menelisik dari persoalan korespondensi yang membangun keutuhan makna puisi dari jalinan antarbaris dan antarbait memang tak perlu dikritisi atau dicari titik kelemahannya. Sampel puisi yang dijadikan kajian dalam tulisan ini, semuanya kohesif dan koheren (menyatu-padu). Hanya saja dari sisi penggunaan diksi memang Safri Naldi menggunakan diksi keseharian yang begitu sederhana sehingga tak terlalu sulit untuk memahami makna utuh puisi-puisi Safri Naldi. Apakah penggunaan diksi yang seperti itu sebagai unsure kesengajaan agar muatan kritik bisa sampai kepada pihak atau stakeholder terkait? Entahlah, perlu kiranya ditindaklanjuti dengan pengamatan proses kreatif Safri Naldi lebih lanjut, hingga akhirnya kita bisa menjelaskan karakter kepenyairan yang sebenarnya dari seorang Safri Naldi.

Selain puisi-puisi yang mengritisi keganjilan modernitas, Safri Naldi juga menulis puisi yang bertemakan religius, kemenghambaan kepada Tuhan, Sang Kuasa Illahi. Danarto (Surabaya Post, 29 April 1990) merangkumkan pandangan, bahwa semua pengarang itu secara otomatisasi akan timbul jiwa religiusnya demi melihat hal yang mengharukan, mengesankan batiniah pengarang. Hingga dalam keadaan seperti ini, pengarang (sastrawan) tersentuh jiwa kemanusiaannya (merupakan dominasi yang ada dalam religi), dan ini adalah tidak berbeda sampai pada pengarang atheis pun. Namun, yang perlu kita sadari adalah kadar kedalaman jiwa religius itu. Sebab, kadar religiusitas setiap pengarang tidaklah sama. Yang paling utama dalam cita rasa religius itu bukan kuantitas melainkan kualitas. Bukan rupa, melainkan isi dan esensi (Wijaya,1986:6).
Sastrawan yang mempunyai kadar religius yang tinggi, semestinya karya-karyanya menampakkan jiwa yang demikian itu. Karya sastra yang diciptakan sudah tentu identik dengan tujuan hidup mereka, yakni untuk memperoleh kebahagiaan spiritual, material, di dunia dan di akhirat di bawah naungan Tuhan Semesta Alam. Seperti kita ketahui, bahwa sastrawan adalah manusia biasa yang ditunjuk Tuhan sebagai khalifah-Nya di bumi. Manusia dibebani tanggung jawab menjalankan segala perintah¬-Nya dan sekaligus menjauhi larangan-Nya (Hasjmy, 1984:13).

Berdasarkan uraian tersebut, jelaslah bahwa manusia, termasuk sastrawan, dituntut memikul tanggung jawab yang demikian itu. Oleh sebab itu, sastrawan yang dikategorikan berjiwa religius adalah memikul tanggung jawab dalam cipta sastranya. Tugiman (Pelita, 19 April 1998) menegaskan bahwa cipta sastra yang dikategorikan memiliki nafas religius adalah cipta rasa yang mempunyai tendensi dan misi keagamaan yang ditulis oleh sastrawan atau penulis yang memiliki dedikasi tinggi terhadap imannya.

Puisi Safri Naldi yang menyiratkan jiwa religius seperti dapat kita nikmati melalui puisi berjudul “Lukisan Malam”. Melalui puisi itu, penyair dapat kita baca sebagai pemeluk Islam dan secara tulus adanya pengakuan terhadap Allah dan Nabi Muhammad sebagai utusan-Nya. Menyadari terhadap “kekaguman tak terbatas” kepada Allah, lalu ia senantiasa “Kugali kedalaman hati/ Introspeksi diri mencari arti/Bermunajah”. Inilah cara yang tepat bagi manusia pada umumnya dan sastrawan khususnya untuk melakukan katarsis. Sebab, kesadaran diri akan keberadaan Tuhan (Allah) dan manusia juga harus kembali menghadap-Nya tentu dimensi vertical hubungan manusia-Tuhan tak bisa diabaikan.

Daftar Rujukan

Damono, Sapardi Djoko. 1978. Sosiologi Sastra Sebuah Pengantar Ringkas. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Danarto. 1990. “Saya ingin Tuhan Turun Tangan”. Dalam Surabaya Post, Minggu 29 April. Surabaya

Hasjmy, A. 1984. Apa Tugas Sastrawan sebagai Khalifah Allah. Surabaya: Bina Ilmu.

Luxemburg, Jan Van dkk. 1984. Pengantar Ilmu Sastra. Terjemahan oleh Diok Hartoko. 1984. Jakarta: Gramedia.

Sangidu. 1994. Beberapa Rumusan Masalah Sosiologi Sastra. Humaniora Buletin Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada, 1 (199-1)51-57. Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada.

Wijaya, Y.B. Mangun. 1986. Sastra dan Religiositas. Yogyakarta: Kanisius.

Comments

Popular posts from this blog

KRITIK EKOLOGIS DALAM PUISI "TANGISAN BUMI" KARYA SRI WURYANINGSIH

51 PENYAIR PILIHAN DALAM BANGGA AKU JADI RAKYAT INDONESIA

PUISI LUGU NOORCA MARENDRA