PUISI YANG MEREKAM PERISTIWA, DENGAN BAHASA YANG SEDERHANA

Oleh: Heru Emka

  “ Apakah menulis puisi harus dengan kalimat-kalimat yang serba canggih ? Saya sering merasa kagum dan sedikit iri melihat para penyair mampu menulis puisi yang panjang, dengan kalimat-kalimat yang bertaburan metafora yang luar biasa dan tak terbayangkan bisa saya tulis. Saya kadang merasa putus asa dan melupakan keinginan untuk menulis puisi, karena setiap kali saya menulis puisi, hasilnya adalah puisi sederhana dengan kata-kata yang biasa,” begitu kata seorang teman anggota Kelompok Studi Sastra Bianglala dalam sebuah percakapan on line dengan saya.

Salah satu keunggulan seorang penyair adalah kemampuannya mengolah kata-kata, dengan memilih kata-kata yang disuka dan menyusunnya menjadi rangkaian kalimat, menjadi seperti gerbong kereta di mana dia mengangkut sederetan makna dalam rangkaian kata yang dikisahkan. Nah, inti utama kisah alias bertutur ini, sejak jaman kehidupan primitif hingga era digital seperti ini, masih menjadi tumpuan utama bagi narasi. Karena berkisah adalah tak saja sekedar menyampaikan, namun juga menguraikan, mengkomunikasikan. Hasrat untuk berkisah ini adalah tujuan utamanya, sedang kata-kata adalah sarana untuk menyampaikan makna.

Berpegang pada tujuan utama berkisah adalah untuk menyampaikan makna inilah, kalimat canggih bertabur metafora, atau kalimat sederhana, tak menjadi soal, sepanjang dia mampu menyampaikan makna kepada kita. Tak kurang dari seorang penyair kelas dunia, seperti Carlos Drummond de Andrade, misalnya, yang membangun reputasinya dengan sajak yang disusun dari kata-kata yang sederhana. Saya contohkan kalimat dalam puisinya yang termashur; Jose :

What now, José?
The party’s over,
the lights are off,
the crowd’s gone,
the night’s gone cold,
what now, José?
what now, you?
you without a name,
who mocks the others,
you who write poetry
who love, protest?
what now, José?

Marilah kita cermati bersama, apakah puisi karya penyair beken dari Brasilia ini tersusun dari kata-kata canggih yang bertaburan metafora ? Tidak sama sekali. Sebaliknya, De Andrade mencomot kata-kata sederhana, dalam kalimat yang mudah dimengerti oleh semua orang yang membaca puisinya. Dalam wacana sastra maya di sewkitar kita, saya contohkan karya penyAir Aloysius Slamet Widodo di bawah ini :\

KETIKA SANDAL MENJADI SKANDAL

sepasang sandal
katanya dicuri aal
jadilah skandal

pemilik sandal seorang aparat
aal umur14 tahun anak melarat
aal dipukul
aal disidik
aal dituntut
ancaman hukuman pun menanti

sepasang sandal yang dicuri
tak sama dengan sandal yang jadi bukti
tapi hakim menentapkan aal sebagai pencuri

aal memang tidak dihukum
tapi tetap seorang pencuri
diserahkan kepada orang tuanya
aal kecewa tak punya daya
tapi nurani kita
tak bisa terima

mencuri itu pidana
harus ada hukumnya
adalah tugas polisi  hakim dan jaksa
menetapkan keadilan dengan bijaksana
ketka tak bijak memutuskanya
itu namanya bencana
bencana bagi tersangka
bencana bagi yang menuntutnya
bencana bagi yang memutuskanya
bencana bagi negara

celakanya si aparat kelewat arogan
untuk masalah sederhana kenapa didramakan
tak ingat bila anak itu masuk penjara 
kehilangan masa depan
celakanya polisi sipenyidik .....jaksa si penuntut
meneruskan perkara itu ke pengadilan 
hanya karena ewuh pekewuh sesama teman
celakanya hakimnya memutuskan keadilan
agar dirinya aman
tapi mengkhianati rasa keadilan

sementara
koruptor kakap dibebaskan
koruptor hiu hukumannya diringankan
koruptor paus fasilitasnya dibedakan
..........duh Gusti

ketika nurani mati
ketika keadilan sekadar janji
para penjaga keadilan tak dipercaya lagi

biarlah para penegak keadilan ini
diadili dan dihakimi masyarakat
merasakan betapa sakitnya dihujat
dan diturunkan pangkat

hukum hanya tajam untuk rakyat melarat
tapi tumpul untuk para pengkhianat !   

Jakarta,8 Januari 2012

  Apa yang bisa dipetik dari puisi Aloysius Slamet Widodo yang dikirim pada saya via iPad-nya ? Paling tidak sebuah bukti nyata, bahwa puisi dengan kalimat yang sederhana juga bisa menghimpun makna , bahkan mengungkapkan realitas yang terpendam dari sebuah peristiwa : Kasus Sandal Jepit yang menunjuukkan betapa hukum masih belum berpihak pada rakyat kecil. Nah, inilah salah satu misi puisi : Menarik simpul kebenaran yang tertimbun berbagai hal yang berusaha menutupi kebenaran itu sendiri. Puisi sederhana karya Aloysius Slamet Widodo ini, ternyata tak saja merekam sebuah peristiwa keadilan, namun juga menguak makna di balik segalanya. Begitu juga dengan Jose, karya Carlos Drummond deAndrade, dengan kata-kata yang sederhana mampu mendedahkan problematika eksistensi hidup seorang seniman yang terancam keseimbangan batinnya.

Catatan ini sekaligus menjadi pesan bagi semua teman-teman yang bersama-sama belajar untuk bersastra di Kelompok Studi Sastra Bianglala, jangan terpukau dengan kalimat-kalimat canggih yang terlalu bernafsu untuk berumit-rumit, yang seolah berjalan melingkar-lingkar berkilo-kilo meter jauhnya untuk mencapai tujuan yang sebenarnya hanya berjarak sepuluh kilometer saja. Cobalah menulis dengan gaya bahasamu sendiri. Be youeself !

Comments

Popular posts from this blog

KRITIK EKOLOGIS DALAM PUISI "TANGISAN BUMI" KARYA SRI WURYANINGSIH

51 PENYAIR PILIHAN DALAM BANGGA AKU JADI RAKYAT INDONESIA

PUISI LUGU NOORCA MARENDRA