REKAMAN PENDEK ATAS JALUR PANJANG SASTRA INDONESIA

Oleh: Heru Marwata

Membaca sastra Indonesia bagaikan mengikuti lekuk tubuh kereta api dunia. Pada suatu masa jalurnya pendek atau sangat pendek sehingga tak terlalu menantang para masinis meskipun kadang-kadang demikian bermakna bagi para penggembala lokomotif perkasa. Di saat yang lain alurnya demikian panjang, meliuk-liuk, menembusi belantara, menerowong perbukitan, menjelajah dari satu wilayah ke wilayah lain dalam cekaman historia yang romantis sehingga membuat “ngiler” semua masinis untuk mengulur guyur tegur sepasang titiannya dari masa ke masa. Seperti kereta pada umumnya, kereta sastra Indonesia juga membawa serta gerbong-gerbong bermuatan kisah serta deret potret yang selalu tak sama di antara sekian banyak stasiun atau perhentian. Macam ragam zaman kehidupan ikut memberi nuansa.

Kereta sastra Indonesia memiliki jadwal keberangkatan dan kedatangan yang beragam. Gaya, warna, dan penampilan mereka juga beraneka. Ada yang berlari kencang menuju arah matahari terbit atau tenggelam, ada yang memilih mengejar filosofi mata angin, ada yang meniupkan perubahan demikian dahsyat, ada yang sibuk mencari identitas, ada yang berkutat dengan pertanyaan dan jawaban, ada yang memburu dan begitu memerlukan arah kiblat, dan ada pula yang mencoba membangun jati diri. Ada yang peluitnya menjerit demikian keras memecah kebekuan waktu. Ada yang getar rodanya demikian menggema melesak ke kerak bumi sehingga menyisakan raung dengung gaung sepanjang usia. Ada pula yang demikian pesat melaju seolah terbang meninggalkan jejak panjang gemuruh ketika ban-ban besinya menghentak bantalan lajur jalurnya. Kisah-kisah perjalanan turut membuncah dalam peta sejarah.

Kereta Api Sastra Impor

Tak dapat disangkal, tentu saja, bahwa kereta api yang kita punya bukanlah murni bikinan anak negeri. Jika Madiun pernah dan masih menjadi tempat pembuatan kereta api, barangkali  bahan utamanya belumlah produksi dalam negeri. Demikian pulalah cerita kita tentang kereta sastra Indonesia. Sejak awal mula perkembangannya, jika kita konsisten mengibarkan bendera sastra Indonesia mulai tahun 1920-an, memang modifikasi sana sini dan pengembangan tradisi dengan beberapa invensilah yang terjadi. Negeri Belanda, karena kaitan historisnya yang sangat erat dengan catatan 350-an tahun mengangkangi Nusantara, konon adalah model yang paling kentara jejaknya. Tentu saja, sebagai pewaris bangsa peramu, para pencipta lokomotif dan gerbong sastra Indonesia juga memadukan berbagai potensi yang bisa mereka gali dan tangkap telusuri dari seluruh penjuru angin, dari bumi pertiwi, juga dari awan mega yang terbang sebagai sumber penyerta-pemerkaya. Kereta api sastra Indonesia, betapa pun tak murni, betapa pun berunsur impor,  tetap memiliki rona tersendiri, rona dan rasa sastra Indonesia. Dalam hal ini tampaknya kita wajib berbangga.

Sastra Indonesia adalah kisah penyanderaan alibi atas berbagai sisi sejarah sastra dunia. Romantisisme, ekspresionisme, atau eksistensialisme, misalnya, adalah barang-barang impor yang bak cat warna-warni turut melukisi pelangi sastra negeri maritim terbesar di dunia ini. Berderet nama beken dari India, China, Eropa, dan Amerika juga menjadi pengasah zamrud yang menebari khatulistiwa sastra kita. Pernak pernik kilau dan percak percik api dunia mendasari, melumuri, membaluti, menjahiti, dan menaburi karya-karya anak bangsa.

Dari Simbol Santun hingga Pamer dan Adu Vulgar

Ketika masih kecil, seperti juga anak-anak pada umumnya, api sastra Indonesia masih bergaya kereta mini atau kereta kelinci. Masinis masih menjadi penentu tuju dan belum memberikan keleluasaan pada penumpang untuk membeli tiket sesuai selera stasiun singgahan. Pada saat itu, layanan yang ditawarkan juga masih terbatas dan cenderung sederhana. Mungkin layanan standarlah bahasa mudahnya. Namun, seiring dengan perkembangan zaman dan usia serta gelegar peradaban yang menggejala di mana-mana, sastra dan sastrawan Indonesia perlahan-lahan mengubah irama dan gaya. Jika, secara historis-kronologis Nota Rinkes mengebiri masa Balai Pustaka, ekspresionisme menggebrak episode perjuangan sekitar tahun ’45, nada protes mewarnai irama setelah ’65 Orde Lama, ketidaklangsungan ekspresi menyiasati Orde Baru, kini kebebasan yang menggelegak dan menggebraklah yang merajai Orde Reformasi.

Simbol-simbol banyak muncul di era ketika cangkul sastrawan tak bisa begitu bebas mengurai simpul-simpul yang sengaja dipasang. Jika pada awal mulanya hampir tak ada pencipta sastra yang memiliki keberanian ‘memroduksi anak’ atau berpose ‘merangsang’ di depan khalayak, perkembangan terkini telah melahirkan tebar-umbar secara sadar. Hei, “Jangan Main-main (dengan Kelaminmu)” kata Djenar Maesa Ayu. Vagina Monolog (ingat dan bayangkan wajah Ria Irawan) pernah mengatasi kejenuhan pembacaan puisi di Taman Ismail Marzuki pada 8 Maret 2002. Apa yang sekarang tak boleh dan tak bisa? Dulu sering kita dengar ungkapan “Jika media massa dibungkam, sastra bicara”, kini setiap saat sastra bisa dan bebas bicara.

Perjalanan sudah cukup jauh, ribuan mil jarak telah tertempuh, tetapi cerita tak akan pernah berhenti karena stasiun sastra selalu berganti dan menanti. Batas-batas bisa digagas dan diretas, bahkan bisa ditebas. Namun, pelanggaran jalan tak bisa ditoleransi dan ketersediaan waktu memang dibatasi, bahkan pada kereta yang memiliki prioritas lintasan sekalipun. Masinis kereta lain sudah bersiap, “Semboyan 35” harus ditaati, masih banyak gerbong bermuatan karya sastra yang harus menyelesaikan rute perjalanannya. Peradaban harus dijaga dan ditegakkan oleh pencipta peradaban itu sendiri. Sastra dan sejarah peradaban manusia ternyata memiliki keterkaitan yang demikian nyata. Oleh karena itu, tunggu saja keberangkatan atau kedatangan berikutnya karena Kereta Senja, Fajar Utama, Bima, atau  Taksaka akan selalu setia menemani Anda, selambat atau seterlambat apa pun dari jadwal yang semestinya. Sastra Indonesia telah mengguratkan jalur yang cukup panjang bagai lintasan sejarah kereta sehingga sangat tak ‘layak’ direkam jejaknya dalam waktu yang terlalu singkat dengan REKAMAN PENDEK ATAS JALUR PANJANGNYA. (Berlanjut ke episode Kereta Sastra Indonesia berikutnya. Terima kasih.)

Esai yang saya bacakan tanggal 11 April 2012 dalam acara yang digelar FORUM BULAKSUMUR (dengan Komandan Om Inus Aprinus Salam) di Panggung Terbuka FIB UGM Yogyakarta.

Comments

Popular posts from this blog

KRITIK EKOLOGIS DALAM PUISI "TANGISAN BUMI" KARYA SRI WURYANINGSIH

51 PENYAIR PILIHAN DALAM BANGGA AKU JADI RAKYAT INDONESIA

PUISI LUGU NOORCA MARENDRA