ROMANTISME-RELIGIUS SAJAK-SAJAK (DATIN) BARUPAWATI UTAMAJU

Oleh: Agung Pranoto
Tengsoe Tjahjono dalam bukunya ”Membidik Bumi Puisi” menyatakan bahwa banyak hal yang kita dapatkan ketika membaca puisi. Dengan membaca puisi kita diajak untuk mempelajari nilai-nilai, baik nilai ketuhanan, nilai moral, nilai sosial, nilai pedagogik, nilai politik, dan sebagainya. Dengan membaca puisi kita mempelajari nilai kemanusiaan secara universal. Berdasarkan pemahaman tersebut, membaca puisi itu menurut Tengsoe Tjahjono bermanfaat untuk: (1) media hiburan, lebih-lebih hiburan rohani, (2) memperluas dan memperkaya wawasan bahasa pembaca, (3) media kontemplasi dan introspeksi (perenungan dan mawas diri), (4) memperluas wawasan dan pengalaman kemanusiaan pembaca, dan (5) memahami nilai-nilai kebenaran. Selain nilai-nilai tersebut, di dalam puisi juga sering mengandung persoalan yang menyangkut romantisme, religius, dan nilai kultural-edukatif.
Lalu, nilai-nilai apakah yang dapat kita petik dari sajak-sajak Datin Barupawati Utamaju (selanjutnya saya sebut Datin)? Datin (sapaan kehormatan) adalah pencinta sastra (puisi) dari Malaysia. Ia beberapa bulan terakhir ini aktif menulis puisi, meskipun kesibukan dalam bidang bisnis menyita banyak waktu. Menulis puisi bagi Datin merupakan kesenangan atau hobi sejak kecil. Menulis puisi itu "seronok, enjoy", katanya.
Datin selaku pelaku bisnis di Malaysia, ingin menyeimbangkan antara tuntutan bisnis yang cenderung profit oriented dengan persoalan pentingnya menjadi manusia yang humanis. Dengan demikian jika seseorang mampu menyeimbangkan kedua hal tersebut maka hidup menjadi lebih indah, ada kelembutan, bisnis pun perlu seni, dan yang terpenting jiwa-jiwa yang kreatif semakin terasah dan menolak stagnasi dalam berproses kreatif.
Membaca sajak-sajak Datin, kita diajak menikmati atmosfir romantisme religius. Romantisme-religius merupakan suasana yang indah yang dapat kita rasakan dalam sajak yang oleh penyairnya dikolaborasikan dengan persoalan religius. Sebagaimana dijelaskan Y.B. Mangunwijaya bahwa pada awal mula sastra itu religius. Konsep religius ini tidak identik dengan agama, sebab agama merupakan dogma. Namun sikap religius itu lebih universal; merupakan implementasi dari apa yang digariskan oleh Tuhan dan termaktub dalam ajaran agama yang kita yakini.
Mengawali telaah ini, mari kita nikmati sajak Datin yang berikut.
SUNSETKU
ia berbeda
walau kau lihat dari jendela yang sama
hanya seketika
namun terpahat lama dalam sanubarimu
sejuk
walau tidak sebiru salju
itulah lembayung rindu yang mengalah kepada hujan senja
lembayung cinta hanya tumbuh dalam kehangatan
bara yang lembut
menyala tak bisa padam
20.6.2017
Jendela Shah Alam.
Melalui sajak “Sunsetku” kita dihadapkan pada atmosfir riang, senang, bahagia, indah. Sunset hanyalah metafora alam yang digunakan Datin untuk mengekspresikan inspirasi tentang suasana romantic. Sunset itu secara harfiah bermakna terbenamnya matahari. Namun dalam konteks puisi ini, kata “sunset” memiliki makna taksa atau mengandung lebih dari satu makna. Sebagaimana diungkapkan Datin melalui baris-baris awal: “ia berbeda/walau kau lihat dari jendela yang sama”. Dari dua baris ini, penyair menghadirkan diksi “sunset” maknanya berbeda meski dilihat dari tempat yang sama. Perbedaan makna itu tentu disebabkan oleh perbedaan sudut pandang dari masing-masing orang.
Suasana senja saat tenggelamnya matahari merupakan saat yang indah di mata Datin untuk menuju malam yang syahdu. Suasana itu bagi penyair melambangkan suatu kedamaian hati, kesenangan jiwa, meskipun kedamaian dan kesenangan itu tidak berada pada ‘puncak ruang nirwana’ melainkan ia mempersonifikasikan dengan “sebiru salju”. Penggunaan frase “sebiru salju” itu pun menjadi pertanyaan kita pula sebab pada umumnya ‘salju’ itu berwarna putih sehingga menjadi frase “seputih salju”. Penggunaan kata ‘biru’ itu mungkin saja ada alasan tersendiri yakni kata ‘biru’ melukiskan jiwa yang sedang berbunga, jiwa yang bernuansa senang. Kata ‘biru’ biasanya dilawankan dengan ‘kelabu’ yang berarti menunjuk pada makna ‘sedih, sendu, galau’, dan sebagainya.
Selanjutnya, melalui baris-baris sajak tersebut, begitu berkobarnya gelora rindu, gelora cinta seakan menurut Datin: “menyala tak bisa padam”. Dari sini membuktikan bahwa penggunaan metafora alam semesta berupa diksi sunset, senja, lembayung, hujan, salju pada umumnya berhubungan dengan romantisme. Sajak “Sunsetku” secara utuh memang menyiratkan suasana romantic yang sesungguhnya dan bukan romantisme yang melankolis.
Suasana riang yang senada dengan sajak di atas, ada pada sajak berjudul “Bulan Penuh” di bawah ini.
BULAN PENUH
Bulan tersenyum lebar
kitab turun ke alam
bumi bahagia
pepohonan bertasbih
rerumputan bersujud
jiwa bertaqwa
ayat cinta melantun ke angkasa
langit gembira
kasih dan rindu kepada Pencipta
16 Ramadan. 10.6.2017
Langit Shah Alam
Menikmati sajak “Bulan Penuh” dari sisi judul melambangkan kedamaian, kebahagiaan yang sempurna. Kedamaian, kebahagiaan, maupun ketenangan hati itu terpancar pada seluruh baris yang membangun pada keutuhan sajak tersebut. Suatu apresiasi yang positif pada Datin sebagai pelaku bisnis itu, ternyata kebahagiaan tersebut senantiasa dihubungkan dengan persoalan religiusitas, yang diimplementasikan dalam bentuk hubungan personal-vertikal dengan Sang Pencipta. Dari sini dapat kita cermati bahwa tingkat ketaqwaan Datin kepada agama dan Tuhan yang diyakini begitu kuat. Dengan demikian, melalui sajak tersebut persoalan cinta kasih dengan Sang Pencipta menjadi sandaran dalam mejalani hidup di dunia; antara urusan duniawi dan ukhrowi tampaknya sinergi. Oleh karena itu patutlah dalam sajak-sajaknya ia dimasukkan sebagai penyair romantic-religius.
Jiwa romantisme-religius juga terlihat pada sajak “Berbicara Dengan Rembulan”. Melalui sajak itu, dalam keadaan apa pun, baik suka dan duka, si aku lirik tetap setia kepada keyakinan ada-Nya. Keyakinan si aku lirik terhadap keberadaan-Nya berasa kuat, sehingga ia meyakini bahwa Tuhan sebagai pusat meminta tentu setiap langkah yang dilalui itu selalu berada dalam lindungan-Nya.
Melalui sajak ini pula, seakan ada dialogis yang romantic antara si aku lirik dengan Tuhan. Dialogis itu terasa begitu lembut. Sajak “Berbicara dengan Rembulan” ini memang indah. Datin sangat berhasil merajut diksi dengan menghadirkan metafora laut. Coba perhatikan frase “dipeluk lautan asa yang membiru”, “dari balik kelopa awan-awan syahdu”, “menghempas ke pantai sadar”, “kutuntun kau ke tempat cahaya berputik putik bulan”, “yang dicemburui seribu bintang”, “Purnama pergi jua dengan janji akan kembali”, dan sebagainya merupakan kemampuan merajut diksi yang luar biasa indah dan kaya bahasa kias. Nikmatilah keutuhan sajak dimaksud, berikut ini.
BERBICARA DENGAN REMBULAN
Kau menyapaku ketika aku terapung
dipeluk lautan asa yang membiru,
yang terlihat dari balik kelopak awan-awan syahdu
keasyikanku pecah apabila ombak melambung
dan menghempas ke pantai sadar
saat aku terdampar kau memperaga diri tanpa ragu
dengan keras ayat-ayat cintamu memaksaku
menghirup kejernihan bayu yang masin.
“Jangan alpa”,
katamu dengan ikhlas
Mari kutuntun kau ke tempat cahaya berputik putik bulan
yang dicemburui seribu bintang.
Tapi Purnama pergi jua dengan janji akan kembali lagi
walau telah kutemui kedamaian di sepanjang pertaruhan
masih belum kujumpai diriku yang sejati
Cuma telah ada janji- janji yang pasti
apakah itu bukan janji untuk cinta yang abadi?
Aku akan terus bersetia mencarimu
dengan pasrah yang satu
menunggu hari bertemu
dalam redha-Nya di atas sana.
12 Julai 2017
Selasa.4pm
Kuala Lumpur.
Meskipun Datin telah meyakini adanya Sang Pencipta, namun ia senantiasa setia mencari jatidirinya. Jatidiri yang seperti apa yang dimaksud? Mari kita nikmati sajak Datin yang berjudul “Matahati” berikut ini.
MATAHATI
saat kau kembali mencari
tak kau temui seri
gunung telah rata
awan rendah menutup jiwa
masa tidak memisahkan
tapi memadamkan bara
salju membekukan ingin
merantai
angin
Ah....
aku tidak berganjak walau setelapak
tangan mendepa menahan kencang
tidak bergoyang
terlihat sosok tersorok
kabus merasuk
ejalah janji rajuk
dengan kalbu
yang tertusuk
tentu kau temui apa yang dicari
jika ada sinaran matahati
yang mempercayai erti suci
4.7.2017. 10pm
ShakAlam
Melalui sajak tersebut, Datin meyakini tentang kesucian hati akan mampu membukakan matahati. Artinya, melalui sajak tersebut, Datin ingin memasuki tataran yang lebih tinggi sebagaimana yang dijalani kaum sufi. Ia ingin sekali mencari jatidirinya pada tingkatan makrifat. Apakah pencarian jatidiri ini terwujud? Semua tergantung pada kesungguhan diri dan yang terpenting adalah bisa memperoleh hidayah dari-Nya atau tidak. Terlepas dari berhasil atau tidak berhasil pencarian jadidiri itu, setidaknya, hal ini merupakan upaya kesungguhan Datin dalam menjalani kehidupan ini ia tidak eforia akan keberhasilan atau kekayaan yang dimiliki, melainkan sifat rendah hati, rendah dirinya begitu tampak; dan ia justru ingin semakin dekat dengan-Nya.
Demikianlah telaah sepintas-kilas atas sajak-sajak Datin yang romantisme-religius. Semoga telaah singkat ini bisa memberikan manfaat bagi para pembaca.

Comments

Popular posts from this blog

KRITIK EKOLOGIS DALAM PUISI "TANGISAN BUMI" KARYA SRI WURYANINGSIH

51 PENYAIR PILIHAN DALAM BANGGA AKU JADI RAKYAT INDONESIA

Puisi Andang Bachtiar