WACANA EDENIA

Puisi Heru Emka
- kepada oei sien tjwan  -

aku mengangankan hidup ini serupa kisah terindah dalam kitab suci di saat pertama di mana derita belum terjelma. di masa yang seperti begitu purba di mana semesta membayang bagai fatamorgana ketika hidup terasa begitu maya di mana kalam kata belum belum lagi menuliskan purana dosa.
aku mengangankan hidup ini mengembang dalam citra firdausi, serupa imaji yang timbul tenggelam dalam dunia mimpi, maka Edenia pun terjelma dari tarian ajaib jemari kata-kata, yang mencipta fakta lain dari bahasa. seperti buah misteri dia hadir tak terdeteksi dari perselingkuhan tersembunyi antara mimpi dan imajinasi, serupa taman yang sesungguhnya bukan taman seperti  buaian di seberang halimun yang menyesatkan di mana petualangan menjadi  permainan yang menyenangkan.
antara ada dan tiada, Edenia tercipta dari kisah lama tentang sorga di antara jembatan mimpi dan imajinasi Edenia menuliskan kisahnya sendiri, di Edenia semesta bertransfigurasi seperti nuansa tipis warna pelangi, di Edenia semua yang hidup tak pernah mati menjadi abadi seperti dingin kutub di bulan januari.

di taman Edenia berbiak jalan pintas di balik semak berdaun kipas dan kabut biru membungkus puluhan pintu di jalan tembus ke lorong waktu. dan lumut menyamarkan dinding labirin setebal babut di sana semua akrab dengan kelokan rahasia seperti pukau teka-teki pada rerimbun kata hingga semua bersahabat dengan duka bagai semilir angin yang membelai luka. banyak binatang yang berenang atau beterbangan dan semuanya menghisap energi bianglala sebelum bertukar rupa dalam bentuk apa saja yang dia suka..

berbagai rakit temasa saling bertaut sebagai realita Edenia saling erat berdekap aneka cerita pukat memikat kisah yang mengembara aku kadang mengait rakit berwarna hijau untuk meresap sejuknya danau atau menghela yang sewarna jingga agar kuberlena pada warna cinta sebelum rakit lain yang tertarik menghambur mengobrak-abrik.

lalu terjalin sorga yang lain terbentuk pelan bersama angin serupa salju di musim dingin di dinding batu yang rendah berwarna merah berjajar pelangi yang siap saji bagai kotak geretan berwarna-warni di bening udara mengambang tanda tanda namun bukanlah peta aku bisa menandai arah jalan yang melurus panjang atau memintal persimpangan melintasi rumputan atau buntu di bebatuan dengan cahaya pelangi yang siap saji aku menyuluh jejak imajinasi yang menyimpan sekantung anak kunci bagi segudang kotak misteri. aku mengangankan sorga sebagai nirwana Edenia di mana kenikmatan permainan belum dihapuskan dan stigma dosa asal belum digoreskan pada ruang kehidupan. aku Adam yang tercipta  dari ketiadaan dan atas nama keisengan seperti penyair dan kata-kata  terlibat persekutuan pada penyusunan kisah kelahiran dan kematian.

- di beranda, menjelang senja, 29 desember 2011 -
Puisi ini termuat dalam buku puisiku Banjaran Adam (2011 ) yang akan diterbitkan =
Sejauh mana pertautan seorang penyair dunia imajinasinya sendiri ? Puisiku ini barangkali semacam metanarasi tentang dunia kata-kata yang kita susun sendiri dari ranah imajinasi...Aku tuliskan puisi ini untuk Oei Sien Tjwan, penyair yang kukagumi sejAk masa mudaku dulu, dengan puisi yang menghembuskan kata-kata sunyi dari balik kabut…mas Oei, srenang sekali kita akhirnya bertaut di dunia maya, setelah lama sekali nama anda hanya berkelebat antara ada dan tiada dalam hari-hari silam saya…

Comments

Popular posts from this blog

KRITIK EKOLOGIS DALAM PUISI "TANGISAN BUMI" KARYA SRI WURYANINGSIH

51 PENYAIR PILIHAN DALAM BANGGA AKU JADI RAKYAT INDONESIA

Puisi Andang Bachtiar