IMAJINASI DAN METAFORA DALAM PUISI

Oleh: Eko Windarto

Membaca sebuah puisi seakan kita dibawa menyelami wisata lautan aksara. Banyak orang setelah membaca puisi berusaha menangkap maknanya. Bagi seorang penyair, menulis puisi karena tergoda keadaan dan alam sekelilingnya, yang jelas ia mempunyai tujuan. Sebuah puisi bisa menjadi batu loncatan mencapai tujuan hidup dari kebesaran Allah. Tak kalah penting gaung suaranya menggema mengisi hati yang sudah ditetapkanNya.

Imajinasi dan metafora dalam puisi CANGKANG TELUR penuh dengan penggambaran simbolis alam, keadaan sekeliling, juga dramatisi jiwa yang begitu kental kearah religi secara dalam dan seimbang. Memang, dalam menangkap makna yang terkandung dalam sepotong puisi butuh kearifan dan pengertian menangkap mata batin sang penyair. Setiap apresiasi dan pendapat orang dengan orang lainnya pasti berbeda, bahkan bisa kontradiksi. Semua itu akibat puisi prismatis. Bisa mengapung dan melebar. Coba kita berwisata dalam puisi Edy Witanto di bawah ini.

Cangkang telur
Oleh: Edy Witanto

ketika ayat-ayat Tuhan kehilangan wilayah
kelopak mata mengarah pesona dunia
suhu bumi perlahan panas marah membara
kutub utara menangis luruhkan air mata

polusi ber mega-mega naik keangkasa
rambut hutan berubah merah saga
bedak bumi menambah debit air samudera
perubahan memancing perubahan selanjutnya

angin identik sifat wanita
sulit ditebak, senyumnya disebelah mana?
kadang terkurung cangkang telur buaya
terkadang renyah diantara pematang sawah

sedikit wajah berubah, debur hati ombak samudra
perubahan arah tak bisa diprediksi sebesar apa
melemparkan tsunami ke tiap-tiap negara
menelan apapun yang berlayar ke dasar marahnya

gunung sang ksatria perkasa
diikat rantai sejuta hasta
kemarahan silembut manja
membuat matahari terperangah

Edy malang, 051712

Pada baris pertama kita telah disuguhi /ketika ayat-ayat Tuhan kehilangan wilayah/. Jelas sekali bahwa sang penyair melihat ketimpangan atau ketakseimbanan hidup. Yang mana banyak orang telah meninggalkan membaca Al quran dan meninggalkanNya demi mengejar dunia semata. Akhirnya mereka terjebak harta dan kekuasaan tanpa peduli bahwa bumi akan murka melebihi murka mereka yang rakus alias kedoyan seperti yang tergambar dalam baris /kelopak mata mengarah pesona dunia/suhu bumi perlahan panas marah membara/. Betul-betul perekaman yang dalam.

Lagi-lagi dalam pengamatannya, mencoba keadaan sekelilingnya yang tersirat di bait dua /polusi bermega-mega naik ke angkasa/. Sang penyair mencoba menjelaskan lewat bahasa, bahwa udara dan keadaan sekeliling kita sudah sangat berpolusi. Seperti asap kendaraan, asap pabrik, asap pembakaran hutan, hingga bisa mengakibatkan penyakit, banjir, sunami, gempa, hujan sangat deras yang tak henti-henti, juga cuaca tak menentu seperti di baris ini / rambut hutan berubah merah saga/ bedak bumi menambah debit air samudera/ perubahan memancing perubahan selanjutnya/. Jelas sekali kita dihadapkan perubahan iklim yang tidak menentu oleh kelakuan kita sendiri.

Maka angin pun ikut marah melihat perbuatan manusia yang terlukis di bait tiga ini /angin identik sifat wanita/ sulit ditebak, senyumnya di sebelah mana?/ Memang cuaca dan angin sekarang sulit ditebak seperti sifat wanita yang juga sulit ditangkap dan ditebak. /kadang terkurung cangkang telur buaya/ terkadang renyah di antara pematang sawah/. Ya, angin kadang semilir kecil, kadang tanpa bisa diprediksi menjadi besar menimbulkan petaka bagi banyak manusia.

Wajah bumi semakin hari semakin berubah wajah. Padahal berubah sedikit saja sudah bisa menimbulkan bermacam-macam kejadian yang membuat banyak orang dilanda kesusahan seperti pada baris ini/ sedikit wajah berubah, debur hati ombak samudera/ perubahan arah tak bisa diprediksi/ sebesar apa/ sebuah pertanyaan yang mengambang dan patut kita renungkan sebab akibatnya kejadian di alam semesta ini. /melemparkan tsunami ke tiap-tiap negara/menelan apapun yang berlayar ke dasar/ marahnya.
Jelas bait ini memberi pencerahan dan masukan yang seimbang untuk kita renungkan.

Melihat kemarahan alam semesta, terutama angin yang begitu dahsyat, gunung dan matahari pun tak bisa berbuat apa-apa kecuali terperangah alias dlomong saking tertegunnya melihat angin yang mengamuk seperti pesan pada bait terakhir ini,/gunung sang ksatria perkasa/ diikat rantai sejuta hasta/ kemarahan silembut manja/ membuat matahari terperangah/. Bukan main amuk angin yang mewakili tangan Allah SWT. Begitu perkasa dan berdampak sangat menakutkan. Semoga apresiasi ini bermanfaat. Amin.

Batu,17122017

Comments

Popular posts from this blog

KRITIK EKOLOGIS DALAM PUISI "TANGISAN BUMI" KARYA SRI WURYANINGSIH

Puisi Andang Bachtiar

WACANA EDENIA