PENGARUH PUTIKA ATAU PUTIJU DALAM PUISI

Oleh: Eko Windarto

Dari tema puisi Indra Intisa ini cukup menarik. Butuh perenungan tersendiri. BAHWA SESUNGGUHNYA KEMERDEKAAN ITU IALAH HAK SEGALA BANGSA DAN OLEH SEBAB ITU KEMISKINAN DI ATAS DUNIA HARUS DIHAPUSKAN KARENA TIDAK SESUAI DENGAN... Ini saya pikir judul nyleneh alias terpengaruh PUTIJU atau PUTIKA puisi tiga kata. Sangat menyakinkan bahwa dia sengaja membuat judul semacam itu buat melebarkan pengaruh konsep PUTIKA yang sudah dibuat lumayan lama. Dari tema atau judul saja sudah menampakkan puisi yang unik dan simbol yang bukan sembarang simbolis saja, tapi ada muatan sosial, politik, dan moral dalam undang-undang 1945, dan yang termaktub dalam Pancasila. Memang kemerdekaan adalah hak segala bangsa yang sesuai dalam butir-butir Pancasila.

Jika merujuk pada undang-undang dasar 1945, serta butir-butir Pancasila, maka seharusnya kemiskinan sudah hengkang dari bumi Pertiwi ini yang gemaripah loh jinawi. Tapi sayang, negeri ini terlalu banyak tikus-tikus yang menggerogoti hingga menjadi gema korupsi yang makin menjadi. Rasa persatuan seakan kuat padahal keropos dimakan ngengat dan dikerat tikus-tikus berdasi yang rakusnya minta ampun hingga kehidupan sosial ekonomi terasa berat sebelah alias jomplang. Bukan main Indonesia ku.

BAHWA SESUNGGUHNYA KEMERDEKAAN ITU IALAH HAK SEGALA BANGSA DAN OLEH SEBAB ITU KEMISKINAN DI ATAS DUNIA HARUS DIHAPUSKAN KARENA TIDAK SESUAI DENGAN ...

lapar demi lapar tercatat
di kitab kemiskinan. ribuan lembar
tak terkabar dari surat kabar
TV yang tersiar. tlah tercemar
oleh kabar yang terpancar
dari sudut paling sikut
saling sulut. buat takut.
siapalah pengarangnya
siapalah penciptanya
siapalah pembuatnya
yang terus-menerus
tanpa putus: meletus
tanpa mau menghapus.
selain politik paling cantik
penuh intrik tarik-menarik
mau janji terus bersemi.

Nun.

2017
Indra Intisa

Ngeri sekali membaca kecemasan yang tersurat dalam puisi di atas / lapar demi lapar tercatat di kitap kemiskinan./ Betul-betul kemiskinan tergambar jelas. Tapi sayang tak tertangkap mata hati. Ironis!

/ribuan lembar tak terkabar dari surat kabar tv yang tersiar/ betul-betul sebuah catatan sejarah yang tak bisa dipungkiri. Itu sangat jelas tergambar dalam sepenggal kalimat dalam puisi itu. Ternyata di pelosok-pelosok negeri ini masih banyak rakyat miskin bahkan di bawah garis kemiskinan yang tak terexpos kepermukaan karena malu atau memang disengaja supaya gak ada yang tahu.

Berita kemiskinan rupanya sengaja ditutupi oleh kabar kebencian dan iri dengki. Itu terlihat pada penggalan / tlah tercemar oleh kabar yang terpancar dari sudut paling sikut saling sulut. buat takut./ Hemm betul-betul nyinyir dan satir penyair paling pedas yang diasah dalam pertanyaan-pertanyaan yang menggoda.

Penyair ini nyinyirnya dalam nyindir orang-orang di sekelilingnya tak putus-putus. Itu sangat terlihat dalam larik berikut ini / siapa lah pengarangnya/ siapa penciptanya/ siapa pembuatnya/ yang terus-menerus/ tanpa putus: meletus/ tanpa mau menghapus. Selain diksi dan ritme tejaga, metaforanya juga tertata dengan rapi dan halus selembut sutra. Semua permasalahan yang menumpuk tinggal menunggu waktu meletus saja.

Pada larik-larik akhir kita dibawa ke frekuensi menanjak / selain politik paling cantik/ penuh intrik tarik-menarik/ mau janji terus bersemi./ Penyair ini telah mampu memperjelas keadaan elite-elite partai maupun yang berada dalam lingkungan penguasa terus saja mempraktekkan pola lama yang diperbarui. Anehnya itu dibiarkan bersemi sampai beranak-pinak. Oh... Negeri gemaripah loh jinawi yang aduhai.....

Cc, Indra Intisa

Sekarputih, 1882017

Comments

Popular posts from this blog

KRITIK EKOLOGIS DALAM PUISI "TANGISAN BUMI" KARYA SRI WURYANINGSIH

51 PENYAIR PILIHAN DALAM BANGGA AKU JADI RAKYAT INDONESIA

Puisi Andang Bachtiar