SEBUAH WUJUD CATATAN WIJI THUKUL

Oleh: Eko Windarto

Puisi adalah satu wujud dalam gerakan kehidupan manusia. Menulis puisi memang membutuhkan image atau khayalan dalam menciptakan puisi, meski khayalan atau metaforanya banyak orang mengatakan bahwa puisi adalah khayalan belaka. Padahal menciptakan puisi itu tidak sekedar berkhayal atau bermetafora saja, tapi butuh literasi yang cukup memadai jika ingin menjadi penulis puisi yang puisinya tak lekang oleh waktu. Memang puisi anggur dan puisi yang mampu mencatat sejarah tak bisa dibanding-bandingkan, tak mungkin, hal itu sama saja mempersoalkan anggur dan rembulan. Ia tak bisa dibanding-bandingkan tapi paling tidak bisa dibedakan, mana yang tetap mempunyai nilai-nilai abadi, universal dan mana yang mempunyai nilai-nilai sesaat dan cepat dilupakan. Coba kita renungkan nilai-nilai abadi dalam puisi Wiji Thukul.

Widji Thukul:

CATATAN

udara AC asing di tubuhku
mataku bingung melihat
deretan buku-buku sastra
dan buku-buku tebal intelektual terkemuka
tetapi harganya
Ooo.. aku ternganga

musik stereo mengitariku
penjaga stand cantik-cantik
sandal jepit dan ubin mengkilat
betapa jauh jarak kami

uang sepuluh ribu di sakuku
di sini hanya dapat 2 buku
untuk keluargaku cukup buat
makan seminggu

gemerlap toko-toko di kota
dan kumuh kampungku
dua dunia yang tak pernah bertemu

solo, 87-88

Jelas sekali seorang Wiji Thukul tidak sedang berkhayal atau berkhutbah dalam menciptakan puisinya. Dia juga mampu mencatat sesuatu yang remeh remeh di sekelilingnya menjadi sesuatu catatan yang bermanfaat bagi anak cucu kita.

Sang penyair merasa bingung  di dalam rumahnya sendiri alias di negara tanah kelahirannya sendiri. Coba kita simak syair-syair di bait pertama / udara AC asing di tubuhku/ mataku bingung melihat/ deretan buku-buku sastra/ dan buku-buku tebal intelektual terkemuka/ tapi harganya/ Ooo.. aku ternganga/ itu adalah ungkapan ironis sekali. Sangat menyedihkan. Buku tak terbeli, apalagi yang bisa terbeli? Ironis!

.Betul-betul sebuah catatan sejarah menyedihkan. Betapa tidak, uang 10 ribu hanya bisa membeli 2 buku saja, sedang jumlah uang yang sama bisa untuk makan keluarganya seminggu. Betul-betul suatu perbedaan sangat jauh seperti bumi dan langit. Sangat jomplang. Jauh dari falsafah negara gemaripah loh jinawi. Benar kata Wiji Thukul; dua dunia yang tak pernah bertemu.

Jika kita melihat berita-berita di tivi banyak orang tua membunuh atau membuang anaknya karena setres terhimpit kemiskinan yang compang camping disana- sini. Itu adalah keadaan yang luar biasa tertangkap dalam catatan seorang penyair yang telah lama tak terdengar ujung pangkalnya. Wiji Thukul sudah mati atau belum tak ada yang tahu sampai detik ini.

Sekarputih, 882017

Comments

Popular posts from this blog

KRITIK EKOLOGIS DALAM PUISI "TANGISAN BUMI" KARYA SRI WURYANINGSIH

Puisi Andang Bachtiar

WACANA EDENIA