SEKILAS TENTANG DIKSI PADA PUISI

Oleh: Indra Intisa

Menurut KBBI, diksi adalah pilihan kata yang tepat dan selaras (dalam penggunaannya) untuk mengungkapkan gagasan sehingga diperoleh efek tertentu (seperti yang diharapkan).

Dalam karya apapun, diksi merupakan hal penting yang harus diracik oleh penulisnya. Secara umum orang menilai diksi hanya milik puisi semata. Padahal bukan. Dalam menulis prosa pun kita harus mampu memilih dan meracik diksi yang tepat guna supaya karya yang dihasilkan tidak bertele-tele, selaras tetapi tetap enak dibaca.

Khusus kepada puisi, diksi merupakan salah satu unsur penting yang harus dikuasai oleh para penyair. Pemilihan diksi yang tepat tentu akan berpengaruh besar pada puisi yang telah ditulis. Kenapa begitu? Kita ambil contoh saat kita membuat kursi. Bahan apa yang harus kita perlukan? Mungkin bisa saja paku, kayu, gergaji, alat pengukur, sketsa, dsb. Alat-alat atau bahan yang diperlukan juga harus tepat guna. Yang tidak tepat guna akan menjadikannya tidak bermanfaat, boros waktu, boros modal (biaya dst), dan modelnya juga bisa asal-asalan. Contoh: di kursi kita tambahkan seng plat, sikat gigi, warna yang tidak sesuai, ukuran tidak sama rata, kayu yang tidak dihaluskan, dst. Bisa saja secara fisik sudah terlihat menjadi kursi, tetapi belum dikatakan baik. Nah tugas kitalah yang memilih dan membuatnya supaya tepat guna, hemat biaya, tetapi tetap indah untuk dipandang.

Dalam memilih diksi, setidaknya kita juga harus paham makna pemadatan kata. Banyak dari kita suka membuang-buang kata yang tidak berguna hanya karena ingin terlihat indah dan luas. Indah tak selalu tepat. Seperti halnya tempat WC kita poleskan emas. Kira-kira tepat guna tidak? Kemudian panjangnya puisi juga tak menjamin lebih baik dibanding pendeknya puisi.

Selain pemadatan kata, setidaknya kita juga harus paham tentang citraan, majas dan kata konkret. Ketiga hal ini merupakan komponen dasar dari diksi yang akan kita buat. Citraan mampu membangun suasana imajis, pandangan, pemikiran, khayalan, dst yang terkait dengan puisi. Ada beberapa citraan seperti visual, penciuman, pendengaran, peraba, dan gerak. Jika kita pandai memainkannya, maka pembaca juga ikut seolah-olah merasuk ke dalamnya. Biasanya puisi imajis lebih maksimal memaikan poin ini.

Majas pun merupakan salah satu komponen yang sangat penting. Ada banyak majas yang harus dipahami oleh penyair. Salah-salah dalam menempatkan, mengumpamakan, atau memilih majas, maka pesan yang ingin disampaikan tidak akan kena dan tepat. Sama halnya dengan kita menembak gajah dengan peluru kerikil. Atau kita ingin menjelaskan kepada pengendara tentang rambu berhenti, tetapi kita salah dalam meletakkan rambu, contoh: lampu hijau yang seharusnya untuk rambu berjalan.

Sedangkan kata konkret adalah bagian terkecil dari dari majas dan citraan. Kata konkret biasanya terkait akan lambang. Contoh: kita mengambil kata: SALJU. Bisa saja kata ini kita lambangkan dengan kebekuan cinta atau kehampaan cinta. Begitu seterusnya.

Nah, bagaimana? Sudahkan kita memilih diksi yang baik dan tepat guna untuk puisi kita? Mari kita sempurnakan bersama-sama. Wassalam

16 Desember 2015
(Indra Intisa)

Comments

Popular posts from this blog

KRITIK EKOLOGIS DALAM PUISI "TANGISAN BUMI" KARYA SRI WURYANINGSIH

51 PENYAIR PILIHAN DALAM BANGGA AKU JADI RAKYAT INDONESIA

Puisi Andang Bachtiar